fanfiction | THE VILLAGE Chapter-3

Author : Shin Hyoseul a.k.a Lady Modrus Grande Dame.
Genre : Drama, Romance, Mystery.
Rate : T.
Lenght : Chaptered-udah-pasti-panjang.
Cast :

– Cho Kyuhyun.
– Shin Seungjung (OC).
– Kim Jongwoon (Yesung).
– Choi Hyori (OC).
– Kim Ryeowook.
– Kim Myuri (OC).
– Choi Siwon.
– Shin Hyoseul (Author ketagihan nampang).
– Lee Donghae.
– Park Chanra (OC).
– Lee Sungmin.
– Hwang Rin Ah (OC).
– Kim Sungri (OC).
– Kim Ryeo Eun (OC).
– Kim Sunwook (OC).
– Choi Hyunsoo (OC).
– Choi Hyowon (OC).
Desclimer : SuJu, OC beserta Author mutlak milik Allah The Almighty. Kecuali Sungri (milik Hyori), Ryeo Eun & Sunwook (milik Myuri), sedangkan Hyunsoo & Hyowon beserta FF ini mutlak milik Author. Berani klaim, aing baledog(?) modar sia!
Note : Author minta sorry(?) kalo romance-nya ga terlalu berasa. Maklum, kebanyakan ngelawak!
Warning : OOC, Typo(s), non-EYD, bahasa monoton & blepotan, cerita ga nyamung & lain sebagainya.

NO BASHING
^^ HAPPY READING ^^

 

*Author’s POV*
Langkah Kyuhyun sudah mulai gontai. Bagaimana tidak? Ia harus menggendong Seungjung disepanjang perjalanan menuju ke perkampungan tempat anak-anak itu tinggal. Langkah Kyuhyun semakin lama semakin melambat. Peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Nafasnya juga mulai tak beraturan. Seungjung yang menyadari hal itu segera meminta Kyuhyun untuk menurunkannya dari atas punggung namja itu.
“Turunkan aku.” pintanya.
“Wae? Kau kan tidak bisa berjalan, Shin Seungjung.” Kyuhyun meminta alasan sambil terus berjalan menuju perkampungan yang sudah terlihat dengan jelas didepan mata. Mungkin kira-kira 200 meter lagi mereka sampai. Dan kini ia, Seungjung dan anak-anak itu sedang berjalan di tengah perkebunan sayur yang begitu luas.
“Sudahlah, Kyu. Aku tahu kau sudah tak kuat. Aku rasa aku bisa berjalan dengan satu kaki. Dengan begitu kau tidak harus menggendongku lagi.” ujar Seungjung memberi alasan.”Kau yakin?” Kyuhyun ingin memastikan.
“Tentu saja.” ujar Seungjung lagi dengan mantap. Kyuhyun memang sudah sangat lelah, tapi ia memutuskan untuk tetap menggendong Seungjung. Ia tidak mau Seungjung memaksakan diri untuk berjalan padahal ia tahu Seungjung tak sanggup.
“Sebentar lagi kita sampai, kau tetaplah disana.” kata Kyuhyun tanpa berhenti sedikitpun.

***

“Kim Ryeo Eun, Kim Sunwook, pergi kemana saja kalian? Eomma sangat khawatir..” seorang yeoja datang menghampiri Ryeo Eun dan Sunwook yang baru saja tiba di sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu dan hampir mirip seperti sebuah kedai.
“Ma’afkan kami, eomma.. Kami berjanji tidak akan pergi tanpa izin lagi.” kata Ryeo Eun dan Sunwook berbarengan seraya memeluk ibu muda itu.
“Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kalian sudah kembali dengan selamat.” kata yeoja itu lagi. Ia kemudian menyuruh kedua anaknya untuk masuk kedalam kedai. Lalu..

“Myuri ahjumma..” panggil Sungri.
“Ada orang yang butuh bantuan kita.” ujarnya lagi. Yeoja bernama Kim Myuri itu agak terkejut ketika melihat ada 2 orang asing dihadapannya, terutama karena salah satunya kelihatan sedang dalam kondisi yang kurang baik.
“Annyeong..” sapa Kyuhyun.
“Namaku Cho Kyuhyun dan ini temanku, Shin Seungjung. Semalam kami mengalami kecelakaan dan kami tersesat. Kami ingin meminta bantuanmu, Nyonya.” kata Kyuhyun memperkenalkan diri.
“Kecelakaan? Omo! Kasihan sekali..” Myuri merasa iba. Ia lantas mempersilakan Kyuhyun dan Seungjung untuk masuk ke kedai kecilnya. Kyuhyun akhirnya bisa bernapas lega karena tak harus membawa ‘beban’ berat lagi. Punggungnya yang terasa sangat pegal akhirnya bisa istirahat sejenak. Seungjung yang masih merasakan sakit di pergelangan kakinya duduk diatas sebuah kursi yang terbuat dari kayu.
“Kau tidak apa-apa, Nona?” tanya Myuri karena melihat Seungjung tak henti-hentinya mengeluh kesakitan.
“Aku rasa kakiku terkilir.” jawab Seungjung sambil menahan sakit. Sementara Kyuhyun, ia sibuk memperhatikan kedai itu. Tidak terlalu banyak meja dan kursi disana. Tidak ada peralatan listrik sama sekali dan sepertinya perkampungan itu juga sangat sepi.

“Ma’af, Nyonya. Bolehkah aku meminjam telepon? Aku sudah mencoba untuk menghubungi seseorang menggunakan ponselku tapi tidak bisa.” tanya Kyuhyun. Ia sadar dirinya harus menghubungi seseorang untuk menjemputnya dan Seungjung pulang mengingat mereka tersesat dan mobilnya juga hilang.
“Ma’af, disini tidak ada telepon. Disini juga tidak ada aliran listrik. Maklum saja, ini daerah terpencil.” jawab Myuri sambil tersenyum.
“Disini juga tidak ada kendaraan bermotor.” tambah Sungri yang datang menyuguhkan teh hangat untuk Kyuhyun dan Seungjung.
“Mwo? Apa benar begitu?” Seungjung merasa tak percaya.
“Itu benar. Kami tak memiliki satu kendaraanpun. Satu-satunya kendaraan yang datang ke tempat ini hanyalah mobil pick-up milik Tn.Han yang biasa mengangkut hasil ternak dan perkebunan kami untuk dijualnya di kota. Itupun hanya sebulan sekali dan kebetulan, tadi pagi Tn.Han datang ke tempat ini dan sudah kembali ke kota. Dia baru akan kembali lagi ke tempat ini kira-kira satu bulan lagi dari sekarang.” Myuri menjelaskan secara panjang lebar. Tentu saja hal itu membuat Kyuhyun dan Seungjung merasa sangat terkejut.
“Apakah itu berarti kami harus menunggu sampai sebulan untuk bisa kembali ke kota?” Kyuhyun yang baru saja bisa bernapas lega kini kembali dihinggapi rasa cemas akan dirinya dan Seungjung yang mungkin saja tidak bisa kembali ke kota. Myuri tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun, ia hanya berkata..
“Lebih baik kalian beristirahatlah dulu. Sebentar lagi suamiku dan warga desa lainnya akan pulang dari ladang. Mungkin kami bisa berdiskusi untuk mencari cara agar kalian bisa kembali ke kota.”

***

“Sayuran yang kutanam terserang hama. Sayang sekali..”
“Mwo? Bagaimana itu bisa terjadi, Donghae-ssi?”
“Aku sendiri tidak tahu. Aku dan Chanra sudah memupuk dan menyiramnya secara teratur, tapi masih saja terserang hama. Menurutmu bagaimana itu bisa terjadi, Ryeowook-ssi?”
“Entahlah, mungkin Yesung hyung tahu. Menurutmu bagaimana, hyung?”
“Mungkin kau harus lebih sering membersihkan ladangmu dari rumput liar.”
“Ne, aku rasa Jongwoon-ssi benar. Tanamanku juga terserang hama.”
“Mwo? Jadi kau juga, Siwon-ssi?”
“Ne, lagipula aku masih belajar.”
“Lalu bagaimana dengan keadaan di ladangmu, Dr.Lee?”
“Keadaan di ladangku biasa saja.”

Dari jauh terdengar suara percakapan dari beberapa orang namja. Mereka adalah para warga yang tinggal di perkampungan itu. Mereka baru saja kembali dari pekerjaan mereka mengurus perkebunan sayur. Dan seperti biasa, setelah seharian bekerja, mereka semua akan berkumpul bersama keluarga dan warga lainnya untuk beristirahat dan makan bersama di kedai kecil tempat dimana Kyuhyun dan Seungjung berada sekarang.

“Appa..!” seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 7 tahun berlari menghampiri salah seorang namja yang baru kembali dari ladang.
“Ya! Choi Hyunsoo, jangan lari-lari!” seru seorang yeoja pada anak itu.
“Hyoseul-ssi, kenapa kau terlihat agak cemas hari ini?” tanya yeoja lainnya yang berjalan disebelah kanan yeoja bernama Hyoseul itu.
“Bagaimana tidak? Hyunsoo seharian ini tidak mau makan. Aku takut dia sakit, Hyori-ssi.” jawab Hyoseul.
“Aku rasa aku bisa mengerti perasaanmu.” ujar Hyori lagi.
“Sepertinya menyenangkan ya menjadi seorang ibu?” gumam seorang yeoja yang berjalan di belakang Hyoseul dan Hyori. Kedua yeoja yang berjalan saling berdampingan itu menoleh ke belakang mereka.
“Aku rasa kau dan Donghae harus cepat-cepat punya anak, Chanra-ssi.” kata Hyoseul sambil tersenyum.
“Ah, Hyoseul-ssi.. Kau membuatku malu..” pipi yeoja yang bernama Chanra itu jadi memerah dibuatnya. Hyoseul dan Hyori hanya tertawa.

***

“Eh, ada tamu?” semua mata langsung tertuju pada 2 orang asing yang sedang duduk didalam kedai. Meskipun agak canggung, tapi para warga di perkampungan itu menyambut mereka dengan ramah. Myuri menjelaskan kepada mereka kenapa Kyuhyun dan Seungjung bisa sampai disana dan juga tentang kondisi Seungjung yang sedang mengalami cedera.
“Sayang sekali, Kyuhyun-ssi. Disini sama sekali tidak ada kendaraan yang bisa digunakan. Mungkin kalian bisa tinggal dulu disini untuk sementara waktu, siapa tahu Tn.Han datang lagi ke tempat ini lebih cepat dari yang seharusnya. Lagipula temanmu itu sedang dalam kondisi yang tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.” kata salah seorang namja yang bermata kecil. Sepertinya namja itu benar juga, tapi bagaimanapun Kyuhyun dan Seungjung harus kembali ke kota. Apalagi orang tua mereka sama sekali tidak tahu apa yang sedang dialami oleh anak-anaknya saat ini. Tapi apa mau dikata, Kyuhyun dan Seungjung tidak punya pilihan selain menyetujui usulan itu.
“Baiklah, kami akan tinggal disini untuk sementara waktu.” kata Kyuhyun. Namja bermata kecil itu tersenyum lalu memperkenalkan diri kepada Kyuhyun dan Seungjung.

“Ah, hampir lupa.. Namaku Kim Jongwoon, panggil saja aku Yesung. Ini istriku Choi Hyori dan putriku Kim Sungri.” namja bernama Yesung itu memperkenalkan anak-istrinya.
“Lalu yang bertubuh kecil itu adalah dongsaeng-ku, namanya Kim Ryeowook. Yang duduk disebelah Ryeowook adalah istrinya, namanya Kim Myuri dan anak kembar mereka yang bernama Kim Ryeo Eun dan Kim Sunwook.” kata Yesung lagi kemudian memperkenalkan warga lainnya.
“Yang tinggi itu namanya Choi Siwon dan istrinya, Shin Hyoseul juga putra mereka yang bernama Choi Hyunsoo. Kemudian ada Lee Donghae dan istrinya, Park Chanra. Yang terakhir, yang sedang duduk di pojok itu namanya Lee Sungmin. Kebetulan dia seorang dokter, mungkin dia bisa membantu kalian.” kata Yesung memperkenalkan semua orang yang tinggal di perkampungan itu. Seungjung lalu bertanya pada Yesung..
“Apakah hanya segini saja penduduk yang tinggal disini, Yesung-ssi?”
“Ne, hanya segini saja. Tempat ini sudah lama ditinggalkan warga aslinya yang lebih memilih untuk tinggal di kota. Sekarang, warga asli perkampungan ini hanya keluargaku dan keluarga dongsaeng-ku. Keluarga Choi, pasangan Lee dan Dr.Lee Sungmin adalah pendatang baru. Mereka berasal dari kota dan memilih untuk tinggal disini karena suasananya yang tenteram. Kami makan dari hasil ladang dan ternak yang kami urus sendiri. Hampir bisa dibilang kalau kami ini tidak memiliki uang, tapi kebutuhan hidup kami selalu tercukupi.” Yesung menjelaskan panjang lebar. Seungjung dan Kyuhyun takjub melihat mereka. Semua yang tinggal di tempat itu masih sangat muda, tapi mereka lebih memilih untuk hidup sederhana di desa terpencil tanpa listrik dan akses lalu lintas. Benar-benar sukar untuk dipercaya.

“Apakah perkampungan ini memiliki nama?” tanya Kyuhyun. Yesung menggeleng.
“Aku memang berasal dari tempat ini, namun semenjak orang tuaku masih hidup pun mereka tak pernah sekalipun menyebutkan nama perkampungan ini. Lagipula, bagi kami nama tidak terlalu penting. Yang penting adalah kami bisa hidup tenteram tanpa harus terpengaruh oleh hiruk-pikuk perkotaan.” jawab Yesung. Bertemu dengan orang-orang itu merupakan pengalaman yang benar-benar baru dan sangat mengesankan bagi Kyuhyun dan Seungjung. Mereka sangat ramah. Disamping itu, walaupun warga yang menghuni perkampungan kecil itu bisa dibilang sangat sedikit, namun lingkungannya sangat terjaga. Hampir tidak ada sampah yang terlihat disana. Sangat mengagumkan.

Setelah berkenalan dan berbicara panjang lebar dengan Yesung dan warga yang lain, Kyuhyun dan Seungjung makan bersama mereka. Menunya sangat sederhana. Hanya nasi putih dan sup yang bahan-bahannya merupakan hasil ladang dan ternak mereka sendiri. Kendati begitu, rasanya sangat enak. Dan suasana kekeluargaan yang begitu terasa ditempat itu membuat Kyuhyun dan Seungjung rindu kepada keluarga mereka. Suasana hangat seperti itu jarang mereka dapatkan di rumah karena orang tua mereka terlalu sibuk bekerja.
“Tempat ini cukup menyenangkan, ya?” Seungjung meminta pendapat pada Kyuhyun yang duduk disebelahnya -sedang menyantap menu makan malam yang disediakan oleh Myuri dan Hyori.
“Ne.” jawab Kyuhyun singkat. Tampak ada sekilas senyum di wajahnya. Entah mengapa setelah berjumpa dengan orang-orang itu, Kyuhyun dan Seungjung jadi sedikit melupakan keinginan mereka untuk pulang.

***

“Malam ini kalian bisa tidur di rumah ini. Karena di desa ini tidak ada listrik, kalian bisa menggunakan lilin untuk penerangan.” kata Hyori. Yeoja itu mengantarkan Kyuhyun dan Seungjung ke sebuah rumah kecil di perkampungan itu. Mereka telah sampai didepan rumah tersebut.
“Apakah rumah ini tidak ada yang menempati?” tanya Seungjung yang berdiri menggunakan 2 penyangga yang dibuatkan oleh Yesung dan Ryeowook untuk membantunya berjalan.
“Rumah ini telah ditinggalkan penghuninya yang pindah ke kota. Disini memang banyak rumah kosong. Tapi kami selalu berusaha untuk merawat semua rumah di desa ini agar tidak rusak dan terbengkalai.” jawab Hyori. Jawaban Hyori membuat Kyuhyun dan Seungjung terkagum-kagum pada semua orang yang tinggal di desa tersebut. Mereka tidak hanya pekerja keras, tapi juga sangat menjaga desa tempat mereka tinggal. Disana ada sekitar 20 rumah. Hanya 7 yang dihuni -termasuk rumah yang dijadikan kedai. Sungguh tak disangka, ternyata 13 rumah yang tidak dihunipun tak luput dari perhatian mereka.
“Luar biasa..” gumam Kyuhyun secara tak sadar. Ia belum pernah bertemu dengan orang-orang seperti mereka -yang benar-benar menjaga lingkungan dengan baik.
“Di rumah ini ada 2 kamar dan juga dapur. Semuanya sudah kami bereskan. Hanya saja toiletnya masih sangat tradisional karena kami menjaga agar keadaan di perkampungan ini tetap asli. Kami mohon ma’af kalau seandainya tempat ini kurang nyaman.” kata Hyori lagi.
“Ah, ini sudah lebih dari cukup, Hyori-ssi.” ujar Seungjung.
“Gomapseumnida..” sambung Kyuhyun seraya membungkukkan badannya.
“Cheonmaneyo..” Hyori tersenyum lalu pergi meninggalkan Kyuhyun dan Seungjung.

“Kau mau masuk kedalam dan melihat-lihat?” tanya Kyuhyun. Seungjung menggeleng. Ia ingin tinggal diluar sejenak untuk menikmati suasana sore. Apalagi ditambah dengan pemandangan di perkampungan itu yang begitu indah. Di halaman rumah itu terdapat taman kecil dan juga kolam ikan. Seungjung duduk diatas sebuah batu besar di dekat kolam sementara Kyuhyun masuk kedalam rumah untuk memeriksa seperti apa keadaan disana.
“Seharusnya desa ini jadi tempat wisata. Kenapa pemerintah bisa mengabaikan tempat seindah ini?” pikir Seungjung. Satu-satunya hal yang kurang dari tempat itu hanyalah kondisi cuaca. Semenjak pagi langit tertutup awan. Mungkin pemandangan di desa tersebut akan lebih indah apa bila matahari dapat bersinar dengan terangnya.

Saat Seungjung sedang menikmati keindahan seorang diri, tiba-tiba datang seorang namja. Ia menghampiri Seungjung yang masih duduk diatas batu.
“Annyeong, Seungjung-ssi. Aku Lee Sungmin. Aku dengar kakimu mengalami cedera. Yesung memintaku untuk memeriksa keadaanmu.” namja itu memperkenalkan diri sekaligus mengutarakan niatnya menemui Seungjung.
“Ah, ne.. Kau Dr.Lee yaa?” tanya Seungjung. Sungmin mengiyakan sambil tersenyum manis.
“Boleh aku lihat kakimu?” tanya Sungmin.
‘Apa benar dia ini dokter? Rasanya wajahnya terlalu imut untuk seukuran pria yang sudah dewasa. Dia lebih pantas jadi anak SMP.’ Seungjung membatin sendirian ketika melihat wajah Sungmin.
“Seungjung-ssi? Kau tidak apa-apa?” tanya Sungmin ketika melihat Seungjung melamun.
“Eh? Ne?” Seungjung tersadar dari lamunannya.
“Aku ingin melihat separah apa cedera di kakimu. Boleh?” Sungmin meminta izin.
“N~ne.. Silakan..” Seungjung jadi salah tingkah sendiri.

Sungmin mengangkat sedikit kaki kanan Seungjung. Yeoja itu tampak sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya didepan Sungmin yang kini mulai membuka sepatu yang dipakainya. Namun Seungjung mulai mengeluh saat Sungmin menyentuh pergelangan kakinya dan sedikit menekan di sekitar tumit untuk mencari tahu apakah ada tulang yang patah atau tidak.
“Apakah sangat sakit?” tanya Sungmin. Seungjung tak sanggup bicara karena menahan sakit. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.”Tenang saja, tidak ada tulang yang patah. Hanya saja pergelangan kakimu sedikit bergeser. Aku harus mengembalikannya ke posisi semula. Kalau tidak, kakimu akan sembuh lebih lama dan kau akan sedikit pincang. Ini memang akan terasa sangat sakit, tapi kita tidak punya pilihan lain.” Sungmin menjelaskan. Seungjung sedikit merasa takut. Pasalnya, tersentuh sedikit saja kakinya sudah terasa sakit.
“Apa tidak ada cara lain, Dok?” Seungjung berharap dirinya tidak harus melewati proses yang sangat menyakitkan itu.
“Sayangnya tidak ada.” Sungmin mengucapkannya dengan serius. Seungjung tahu kalau itu harus dilakukan demi kebaikan dirinya sendiri. Namun tetap saja itu bukanlah sesuatu yang mudah baginya.
*Author’s POV ends*

*Seungjung’s POV*
Bagaimana ini? Aku tidak mau melakukannya. Tersentuh sedikit saja kakiku sudah sakit sekali, apalagi kalau harus -entah- dipijat atau apapun itu. Aku tidak mau. Aku tidak akan mampu menahannya. Itu terlalu sakit.
“Bagaimana, Seungjung-ssi?” Dr.Lee menunggu jawabanku. Aku masih ragu. Oh, Tuhan.. Tolonglah aku..

“Seungjung-ah, kau kenapa? Ada apa ini?” itu Kyuhyun. Dia baru saja kembali setelah melihat-lihat isi rumah. Tampaknya dia agak heran melihat ekspresi wajahku. Mungkin rasa takutku terlihat jelas olehnya.
“Tolong aku.” pintaku padanya. Kyuhyun menghampiri kami lalu duduk di sampingku -diatas batu besar yang sedang kududuki. Dr.Lee tersenyum pada Kyuhyun lalu menjelaskan padanya tentang kondisi kakiku. Setelah mendengarkan penjelasan Dr.Lee, tiba-tiba saja Kyuhyun tertawa..
“Hahaha… Jadi itu yang membuatmu begitu ketakutan? Pengecut sekali. Hahaha…” ledeknya.
“Ya! Rasanya sakit sekali tahu!” aku jadi jengkel mendengar suara tawanya yang seolah meremehkanku. Kulihat Dr.Lee juga sepertinya ingin tertawa. Tapi dia menahannya. Aku benar-benar merasa seperti seorang pengecut.
“Shin Seungjung, kau ini sudah besar. Tidak seharusnya kau ketakutan seperti anak kecil begitu.” ujarnya lagi. Kyuhyun masih tertawa, hanya saja suaranya tak sekeras tadi. Aku semakin gondok padanya. Aku jadi tak ingin menatapnya lagi. Tapi sungguh diluar dugaan, Kyuhyun meraih kedua belah tanganku lalu berkata.
“Tenang saja, kalau nanti kau merasa kesakitan, kau boleh meremas tanganku sebagai pelampiasan.”
“Mwo? Apa maksudmu?” aku melotot kearahnya, Kyuhyun justru menggenggam tanganku semakin erat. Kulihat dia mengedipkan matanya kearah Dr.Lee. Namja itu hanya tersenyum pada Kyuhyun. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini. Kyuhyun aneh sekali.

“Seungjung-ah, ku dengar kau suka pada seorang dosen di kampus. Kalau tidak salah yang bernama Park Jungsoo itu yaa?” Kyuhyun tiba-tiba saja menanyakan suatu hal yang sangat bodoh, yang bahkan aku sendiri tidak tahu.
“Ya! Cho Kyuhyun, kau ini bicara apa?!” aku menatapnya tajam. Tentu saja apa yang dikatakannya tadi itu tidak benar. Mana mungkin aku bisa menyukai dosen yang usianya 20 tahun lebih tua dariku? Mengada-ngada sekali dia.
“Jangan bohong. Aku dengar Prof.Park juga suka padamu.” Kyuhyun bicara lagi. Kali ini dia benar-benar membuatku marah. Beraninya dia mengatakan gossip murahan seperti itu didepanku!
“Ya! Apa maksudmu?! Kau pikir aku mahasiswi murahan yang suka kepada dosen yang lebih pantas jadi orang tuaku?! Dasar kau kur~ Aaaaargghh…..!!!!”
*Seungjung’s POV ends*

*Author’s POV*
Seungjung berteriak kesakitan saat -dengan tanpa peringatan- Sungmin menekan dan memutar pergelangan kakinya yang terkilir.
“Sudah selesai.” Sungmin menghela napas lega.
“Strategi yang cukup brilian, Kyuhyun-ssi.” kata Sungmin lagi setengah memuji Kyuhyun. Yang dipuji hanya tersenyum. Sedangkan Seungjung, ia sama sekali tak menyadari kalau gossip yang dikatakan oleh Kyuhyun tadi hanyalah untuk mengalihkan perhatian Seungjung dari rasa takutnya akan rasa sakit yang dideritanya. Berhasil. Pergelangan kaki kanan Seungjung yang terkilir dan agak sedikit bergeser kini sudah kembali ke posisinya semula. Tapi Seungjung masih merasakan sakit akibat apa yang dilakukan oleh Sungmin tadi. Ia benar-benar tidak tahan dan akhirnya menangis.

“Sudahlah.. Semuanya sudah berakhir.” Kyuhyun mencoba untuk menenangkan Seungjung yang -secara sadar atau tidak- menenggelamkan wajahnya di dada kiri Kyuhyun sambil terisak.
“Dr.Lee sudah menanganinya, kau tidak usah menangis lagi..” ujar Kyuhyun sambil merangkul Seungjung. Hal itu membuat Sungmin merasa tak enak hati kalau dirinya berlama-lama ditempat itu.
“Ehem.. Aku rasa aku harus pulang. Apabila kalian memerluakan bantuan atau sesuatu, kalian bisa menemuiku. Rumahku dekat pohon maple tak jauh dari sini.” Sungmin mohon undur diri.
“Ne.. Gomapseumnida, Dr.Lee.” Kyuhyun mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati yang telah diberikan oleh dokter muda itu. Sungmin tersenyum.
“Cheonma, tak perlu sungkan.” setelah itu Sungmin pun pergi dari hadapan Kyuhyun dan Seungjung.

***

Di sepanjang perjalanannya menuju rumah, wajah Sungmin tak pernah lepas dari senyuman. Semua itu karena Kyuhyun dan Seungjung, 2 orang tamu dari kota yang mengaku hanya sebagai teman. Namun sikap dan perhatian yang diberikan oleh Kyuhyun kepada Seungjung membuatnya yakin kalau Kyuhyun sebenarnya menyukai Seungjung. Hanya saja mungkin ia agak malu untuk mengungkapkan isi hatinya. Sungmin bisa mengerti bagaimana perasaan Kyuhyun karena ia juga pernah merasakan hal yang sama. Ia pernah merasakan bagaimana bahagianya jatuh cinta dan bagaimana tersiksanya ia karena tak memiliki keberanian untuk menyatakan cinta kepada yeoja yang disukainya.

Langkah Sungmin terhenti. Bukan karena ia sudah sampai di halaman depan rumah kecil yang ia tempati, akan tetapi karena hatinya mulai berkecambuk mengingat kisah cintanya dahulu. Senyum yang semula merekah di wajah namja itu seketika pudar saat sebuah nama kembali muncul dalam ingatannya. Nama yang menurutnya sangat indah -sama seperti rupa sang pemilik. Entah mengapa Sungmin tiba-tiba saja merasakan ‘sakit’ di dadanya. Ada penyesalan yang teramat dalam menggerogoti hatinya. Penyesalan karena ia tak pernah dengan secara terus terang menyatakan cinta kepada seorang yeoja yang sangat dicintainya. Ia tidak pernah mengatakan kepada yeoja itu tentang sebesar apa perasaan cinta yang ia miliki sampai yeoja itu pergi. Ah, tidak.. Bagi Sungmin, justru dirinya lah yang telah pergi meninggalkan sosok yang sangat dicintainya itu, seorang yeoja yang -seharusnya- ditakdirkan untuknya.

“Hwang Rin Ah..” tanpa disadarinya, Sungmin menyebut nama yeoja itu. Dengan tatapan yang begitu sendu, Sungmin melemparkan pandangannya ke arah pohon maple yang tumbuh disebelah kiri rumahnya. Dibawah rimbun pohon maple itulah -untuk pertama dan terakhir kalinya- Sungmin mencium Rin Ah dengan segenap rasa cinta yang ia miliki. Dan setelah itu, Sungmin melepasnya pergi. Dan mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Semua itu terjadi tanpa ada satupun kata cinta yang terucap dari mulut Sungmin. Namja berwajah imut itu merasa lirih, hatinya terasa semakin sakit. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghirup oksigen sebanyak mungkin dalam satu kali tarikan napas lalu membuangnya secara perlahan. Ia melakukan itu untuk sekedar menenangkan dirinya dan sekaligus mencoba untuk melupakan kenangan indah namun pahit yang pernah dialaminya tersebut. Namun sekeras apapun usaha Sungmin untuk melenyapkan sosok Rin Ah dalam ruang memorinya, rasa cinta itu tidak akan pernah hilang.

“Dr.Lee..” kenangan tentang kisah cintanya yang berakhir pilu seketika buyar saat Sungmin mendengar ada suara namja di sebelah kanannya.
“Ryeowook-ssi? Ada perlu apa kemari?” tanya Sungmin pada namja itu. Ryeowook berjalan menghampiri Sungmin, lalu berkata..
“Yesung hyung menyuruhku untuk menemuimu. Dia ingin kau ‘menjaga’ 2 orang baru itu.” jawab Ryeowook.
“Oh.. Lalu bagaimana dengan keluarga Choi?” tanya Sungmin lagi.
“Choi Siwon dan keluarganya biar aku dan Donghae saja yang mengurus. Lagipula waktu yang mereka miliki hanya tinggal sebentar lagi. Jadi kau urus saja Cho Kyuhyun dan Shin Seungjung dengan baik. Pastikan mereka nyaman berada disini hingga saatnya tiba. Yesung hyung ingin merekrut mereka sebagai anggota baru.” Ryeowook menjelaskan. Sungmin mengerutkan dahinya -merasa bingung ketika mendengar yang diucapkan oleh Ryeowook tentang perekrutan anggota baru.
“Mwo? Anggota baru? Kenapa tidak merekrut dari keluarga Choi saja?”
“Menurut Yesung hyung keluarga Choi terlalu lemah. Itulah mengapa Yesung hyung tidak mau merekrut mereka.” kata Ryeowook lagi.
“Oh..” gumam Sungmin.
“Ne.. Aku akan mengurus Kyuhyun dan Seungjung. Katakan pada hyung-mu untuk tidak khawatir. Aku pasti akan ‘menjaga’ mereka dengan baik.” kata Sungmin lagi. Dan tanpa berpamitan sama sekali, Sungmin pun langsung melangkah masuk kedalam rumahnya meninggalkan Ryeowook.

***

Kyuhyun tersenyum. Hatinya merasa sangat bahagia bisa merangkul Seungjung dalam pelukannya meskipun ia agak kasihan juga melihat Seungjung kesakitan seperti itu.
“Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik kau masuk kedalam rumah dan beristirahat.” ujar Kyuhyun dengan penuh perhatian. Seungjung tak merespon. Dia masih saja menangis. Tapi Kyuhyun dapat memakluminya karena Seungjung memang seperti itu. Ia tak tahan dengan rasa sakit. Jangankan terkilir, tersandung ketika sedang berjalan saja terkadang bisa membuatnya menangis. Dan rasanya Kyuhyun masih ingin lebih lama duduk bersama Seungjung. Oleh karena itu ia membiarkan gadis itu menangis di pelukannya hingga kemudian..

“YA!!” Seungjung yang baru menyadari apa yang terjadi langsung mendorong jauh tubuh Kyuhyun hingga namja itu terjatuh.
“Kau ini kenapa, Shin Seungjung? Kenapa kau mendorongku?” Kyuhyun bingung ketika tiba-tiba saja sikap Seungjung berubah 180 derajat.
“Kau mencari kesempatan dalam kesempitan. Beraninya kau memelukku!” omelnya seolah merasa tak terima.
“Ya! Kau yang lebih dulu memelukku!” Kyuhyun tak kalah ngotot.
“Dasar!!” Seungjung yang enggan berdebat dengan Kyuhyun memilih untuk pergi meninggalkan namja itu -tak peduli sekalipun kakinya sedang sakit.

***

Sudah hampir larut malam, Kyuhyun tidak bisa tidur dengan nyenyak dikarenakan dirinya tidak terbiasa dengan rumah pedesaan seperti itu. Itu bisa dimengerti karena Kyuhyun lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang kehidupannya serba berkecukupan dan sudah sangat modern. Kyuhyun terbiasa tidur diatas kasur yang empuk dengan ditemani alunan musik dari iPod-nya. Ia juga bebas untuk tidur dalam keadaan gelap maupun terang. Tak seperti sekarang, kendati kondisi kamar, alas tidur dan selimut di rumah itu bisa dibilang nyaman, tapi tetap saja ia merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri. Apalagi ditambah dengan cahaya temaram dari sebatang lilin yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar itu dan juga suasana perkampungan yang sangat sunyi membuat Kyuhyun merasakan sensasi yang agak lain. Persis seperti yang ia rasakan ketika dirinya dan Seungjung berjalan bersama ditengah-tengah jalan raya yang sepi itu. Bulu kuduk Kyuhyun jadi berdiri ketika mengingatnya.

“Bagaimana dengan Seungjung ya? Apakah dia bisa tidur?” Kyuhyun bertanya-tanya sendiri dalam hati. Ia tak bisa berhenti memikirkan Seungjung yang kini sedang berada di sebuah kamar yang terletak tepat didepan kamarnya. Tadi sore Kyuhyun melihat Seungjung agak ragu untuk masuk kedalam kamar. Sekilas terlihat sedikit rasa takut di wajah yeoja tersebut.
“Ah, sudahlah.. Paling-paling sekarang dia sedang bermimpi.” Kyuhyun mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau Seungjung baik-baik saja. Ia mencoba untuk menutup matanya sejenak. Tapi kemudian, ia teringat akan sesuatu. Seungjung takut kegelapan. Akhirnya Kyuhyun tak jadi tidur, ia memutuskan untuk mencaritahu keadaan Seungjung.

***

“Seungjung-ah, apa kau sudah tidur?” panggil Kyuhyun sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Seungjung. Tak ada jawaban dari dalam. Awalnya, Kyuhyun berpikir mungkin saja Seungjung sudah tidur. Namun karena teringat akan kondisi Seungjung yang sedang kurang baik, Kyuhyun pun kembali mengetuk pintu.
“Seungjung-ah, kau sudah tidur belum? Boleh aku masuk?” panggil Kyuhyun lagi. Masih tak ada jawaban. Entah mengapa Kyuhyun merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namja itu pun nekat untuk masuk tanpa seizin sang penghuni kamar. Kyuhyun sudah tahu resiko yang akan dihadapinya, tapi ia tidak peduli. Hatinya tidak akan tenang kalau dirinya belum mengetahui keadaan Seungjung.

***

“Shin Seungjung?!!” Kyuhyun terkejut bukan main ketika mendapati temannya itu sedang meringkuk di pojokan kamar dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya sambil menggigil kedinginan.
“Seungjung-ah, kau kenapa??” tanya Kyuhyun panik.
“D~dingiin..” hanya itu yang keluar dari mulut Seungjung. Kyuhyun menempelkan telapak tangannya di dahi Seungjung.
“Panas sekali..?” gumam Kyuhyun. Sepertinya Seungjung terkena demam tinggi. Kyuhyun yang panik tidak tahu harus berbuat apa. Sampai kemudian, ia ingat akan sesuatu..
“Seungjung-ah, kau tunggu sebentar disini. Aku akan membawa Dr.Lee kemari.”

***

Kyuhyun melangkahkan kakinya keluar rumah -hendak menuju rumah Sungmin. Suasana perkampungan yang gelap gulita membuat Kyuhyun terpaksa berjalan dalam kegelapan. Karena terlalu cemas memikirkan Seungjung, ia sampai lupa membawa lilin untuk menerangi jalannya. Ya, di perkampungan itu hanya ada lilin -bukan pelita atau yang lain. Saat Kyuhyun pertama kali masuk kedalam rumah yang ditempatinya bersama Seungjung pun lilin-lilin itu sudah menyala -tanpa Kyuhyun tahu siapa yang menyalakannya, mungkin salah seorang warga desa. Udara di malam itu juga cukup dingin. Tapi sama seperti siang harinya, tidak ada angin yang berhembus sama sekali. Langit juga masih tertutup awan sehingga bintang yang seharusnya menghiasi malam tak terlihat.

“Eommaaaa……” Kyuhyun mendengar suara tangisan anak kecil ketika melewati sebuah rumah.
“Hyunsoo-ah, ada apa?”
“Aku takut, eommaaaa……”. Sepertinya itu dari rumah keluarga Choi. Hyunsoo anak mereka menangis ketakutan. Entah apa yang menyebabkan Hyunsoo menangis begitu kencang, yang jelas suara tangisan anak itu membuat Kyuhyun merinding mendengarnya. Dan kalau diperhatikan lagi, hanya ada 2 rumah yang memiliki penerangan di desa itu yaitu rumah tempat Kyuhyun dan Seungjung menginap dan di rumah keluarga Choi. Selebihnya, tidak ada penerangan sama sekali. Begitu pula dengan rumah Sungmin -yang tanpa Kyuhyun sadari, dirinya telah sampai didepan pintu rumah dokter muda tersebut.

“Dr.Lee..” Kyuhyun mengetuk-ngetuk pintu rumah Sungmin. Tanpa harus menunggu lama, pintu rumah itu pun terbuka. Lalu muncullah sang dokter dihadapan Kyuhyun -seolah Sungmin sudah mengetahui kedatangan Kyuhyun.
“Ma~ma’af sudah mengganggu istirahatmu. Temanku demam tinggi, aku tidak tahu harus bagaimana.” ucap Kyuhyun dengan sedikit gemetar karena melihat Sungmin yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
“Baiklah. Kita langsung saja kesana.” kata Sungmin tanpa basa-basi lagi. Ekspresi wajahnya begitu datar, matanya masih terlihat segar -seperti orang yang belum tidur. Kyuhyun merasakan ada sesuatu yang sedikit aneh. Tapi ia tak tahu apa itu.

***

“Tidak perlu khawatir. Dia demam karena kakakinya sedikit mengalami pembengkakan. Berhubung disini tidak ada obat-obatan kimia, jadi aku harus keluar sebentar untuk mencari dedaunan yang bisa digunakan untuk mengurangi bengkak di kakinya. Untuk sementara, kau bisa mengompresnya untuk meredakan demam.” kata Sungmin setelah memeriksa keadaan Seungjung. Kyuhyun hanya mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Sungmin. Dokter muda itu pun pergi keluar sementara Kyuhyun menyiapkan kompres. Ia berjalan menuju dapur -hendak mengambil air. Tiba-tiba saja Kyuhyun kembali mendengar suara Hyunsoo yang menangis dengan sangat kencang. Hyunsoo terdengar sangat ketakutan. Kyuhyun sampai bertanya-tanya sendiri tentang hal apa yang bisa membuat Hyunsoo sampai seperti itu. Berbeda dengan kediaman keluarga Choi yang gaduh akibat tangisan anak mereka, kediaman keluarga Kim Ryeowook justru sangat tenang. Padahal mereka memiliki 2 anak. Mungkin itu karena Ryeo Eun dan Sunwook lahir dan besar di perkampungan itu sehingga mereka sudah terbiasa dengan suasana pedesaan. Sedangkan Hyunsoo, dia dan orang tuanya berasal dari kota besar. Jadi mungkin saja Hyunsoo merasa tak betah tinggal di tempat terpencil seperti itu. Yang membuat Kyuhyun penasaran, kenapa keluarga Choi memilih untuk pindah dari kota dan tinggal di sebuah perkampungan kecil tanpa listrik, telepon dan kemudahan lain yang biasa mereka dapatkan di kota?

Begitu juga dengan Sungmin. Apa yang membuat Sungmin ingin tinggal ditempat seperti itu? Apakah karena jiwanya sebagai seorang dokter merasa terpanggil untuk memberikan layanan kesehatan bagi orang-orang di daerah-daerah terpencil? Atau mungkin ada alasan lain? Pasalnya Kyuhyun melihat ada cincin yang melingkar di jari manis Sungmin. Itu berarti ia sudah berkeluarga atau paling tidak bertunangan dengan seseorang. Namun sejauh ini, Kyuhyun tak melihat ada yeoja lain di desa itu selain Hyori, Myuri, Chanra & Hyoseul.
“Ah, kenapa aku jadi memikirkan urusan orang lain?!” Kyuhyun memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke kamar Seungjung dengan membawa kain kecil dan air untuk kompres.

***

Sungmin memetik beberapa daun di semak-semak. Tak jelas daun apa yang dipetiknya, yang pasti ia akan menggunakan daun itu untuk mengobati bengkak di kaki Seungjung. Setelah selesai, Sungmin berniat untuk kembali. Namun ketika membalikkan badan, Sungmin melihat Donghae berdiri menghadapnya.
“Sedang apa kau tengah malam sepert ini berada di semak-semak, Dr.Lee?” tanya Donghae dengan nada datar.
“Kau sendiri sedang apa? Aku kesini hanya untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Yesung. Dia ingin aku membuat kedua orang baru itu merasa nyaman tinggal disini.” jawab Sungmin seraya menatap kearah mata Donghae tanpa berkedip sedikitpun.
“Begitukah? Lalu bagaimana dengan keluarga Choi yang sebelumnya kau urus? Apa kau tidak dengar semenjak tadi putra mereka menangis ketakutan? Apakah itu yang kau sebut dengan ‘merasa nyaman’?” tanya Donghae lagi seperti ingin memojokkan Sungmin.
“Kau tahu, dok? Aku rasa tak lama lagi keluarga Choi akan menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan mereka akan memohon sambil meraung-raung seperti dulu kau memohon kepada kami untuk Hwang Rin Ah.” kata Donghae lagi dengan nada yang begitu sinis. Mendengar nama orang yang dicintainya disebut, Sungmin pun naik pitam dan langsung mendorong tubuh Donghae hingga terbentur ke batang sebuah pohon besar yang berada tepat dibelakang namja itu.
“Kau tidak usah memperolokku, Lee Donghae.” Sungmin memperingatkan. Matanya menatap Donghae dengan tajam dan tangan kanannya mencengkram leher namja itu dengan sangat kuat.
“Meskipun aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan Rin Ah, aku merasa bahagia. Kenapa? Karena aku tidak ingin istriku terkurung di tempat ini. Dan aku bukanlah orang sepertimu yang dengan bodohnya membuat keputusan untuk datang ke desa ini dan menjadi penduduk tetap.” kata Sungmin dengan suara yang pelan namun tajam.
“Aku hanya ingin tahu, bagaimana rasanya saat mengetahui bahwa janin yang ada didalam rahim istrimu tidak akan pernah bisa terlahir? Huh?”

“K~KAU!” pertanyaan yang dilontarkan oleh Sungmin membuat emosi Donghae tersulut.
“Aku rasa itu jauh lebih menyakitkan daripada berpisah dengan istrimu, bukan?” tanya Sungmin lagi. Donghae benar-benar naik darah. Dia ingin lepas dari cengkraman Sungmin dan menghajar namja itu tapi tidak bisa. Tenaga Sungmin jauh lebih kuat.

“Sekarang dengarkan aku, Lee Donghae. Kusarankan agar lebih baik kau tidak usah mencampuri urusanku. Kau dan Chanra yang membawaku kesini, dan kalian pula yang hampir membuat istriku terkurung di tempat ini. Itu bukanlah hal yang bisa kulupakan begitu saja. Dan aku tidak akan pernah bisa mema’afkan apa yang telah kalian lakukan. Sekalipun jiwaku harus lenyap sampai tak tersisa, demi Neraka aku bersumpah kalau aku tidak akan pernah mema’afkan kalian.” ancam Sungmin.
“Sebaiknya kau camkan itu baik-baik.” kata Sungmin lagi. Sebenarnya Sungmin sangat ingin menghajar namja yang ada di hadapannya itu. Namun pada akhirnya Sungmin lebih memilih untuk melepaskan cengkramannya dan kembali ke kediaman Kyuhyun. Donghae sedikit gentar mendengar Sungmin yang mengancamnya dengan nada penuh kebencian. Tapi ia juga tidak bisa menerima perkataan Sungmin tentang janin yang sedang dikandung oleh istrinya. Bagi Donghae, itu terlalu menyakitkan.
‘Lee Sungmin, awas kau.’ geramnya dalam hati.

“Seharusnya kau tidak menyinggung perasaannya, Donghae-ssi.” Ryeowook tiba-tiba saja datang. Namja bertubuh kecil itu melangkahkan kakinya mendekati Donghae.
“Aku rasa kau benar. Sepertinya Choi Hyunsoo tahu ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin tidak lama lagi orang tuanya juga akan menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada mereka.” ujar Ryeowook dengan sikap yang terkesan santai.
“Jadi kusarankan agar kalian jangan sampai bertindak gegabah. Keluarga Choi mungkin akan mudah untuk dibereskan, tetapi tidak dengan Cho Kyuhyun dan Shin Seungjung. Yesung hyung sudah memiliki rencana untuk mereka. Kalau sampai ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, aku rasa Yesung hyung juga tidak akan tinggal diam. Jadi menurutku, sebaiknya kau dan Dr.Lee cepat-cepat menyudahi konflik internal yang sedang terjadi diantara kalian.” kata Ryeowook lagi sambil tersenyum lalu pergi dari hadapan Donghae.
“Sial!” umpat Donghae. Bahkan Ryeowook -namja yang menurutnya lebih pantas menjadi seorang bocah- ikut mengancamnya. Sayangnya Donghae tidak punya pilihan. Ryeowook adalah tangan kanan yang paling dipercaya oleh Yesung. Suka tak suka, mau tak mau, ia harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ryeowook.

***

Sungmin melumuri kaki Seungjung yang bengkak dengan dedaunan yang diambilnya tadi -yang sebelumnya ia tumbuk terlebih dahulu. Lalu ia membalut kaki Seungjung dengan kain.
“Daun ini bisa mengurangi bengkak di kakinya dan juga bisa meredakan rasa sakit. Dengan begitu demamnya juga akan segera turun. Aku rasa besok keadaan Seungjung akan segera membaik.” kata Sungmin setelah selesai mengobati kaki Seungjung. Kyuhyun yang semula sangat cemas kini sudah mulai bisa bernapas lega. Apalagi Seungjung juga sudah mulai agak tenang setelah Kyuhyun menyalakan beberapa batang lilin lagi untuk menambah cahaya sehingga keadaan di kamar itu menjadi terang benderang.
“Kyuhyun-ssi, aku ingin bicara denganmu sebentar.” kata Sungmin yang lalu pergi keluar dari kamar Seungjung. Kyuhyun agak ragu untuk meninggalkan Seungjung sendirian. Tetapi yeoja itu mengangguk kecil sebagai pertanda kalau ia tak keberatan ditinggal sendirian. Kyuhyun pun segera mengikuti langkah Sungmin yang berjalan menuju dapur.

“Ada apa, Dr.Lee? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Kyuhyun bingung. Awalnya Sungmin hanya diam saja. Sang dokter tampak sedang memikirkan sesuatu.
“Sejauh ini, apakah kau dan Seungjung merasa senang tinggal disini?” Sungmin mulai buka suara.
“Disini cukup menyenangkan. Penduduknya juga sangat ramah. Tapi kami sama sekali tak memiliki niat untuk tinggal disini. Bagaimanapun kami harus kembali ke kota. Orang tua kami pasti merasa sangat khawatir.” jawab Kyuhyun meskipun sebenarnya Kyuhyun tak mengerti kenapa Sungmin menanyakan hal itu padanya.
“Oh..” gumam Sungmin pendek.
“Memangnya kenapa, Dr.Lee? Apa ada sesuatu?” tanya Kyuhyun.
“Ah, ani..” jawab Sungmin. Tak lama berselang terdengar suara Hyunsoo yang kembali menangis ketakutan. Dan lagi-lagi Kyuhyun merasakan ada sesuatu yang aneh -yang dia sendiri tak mampu menjelaskan.
“Sejak tadi anak itu menangis terus. Aku jadi kasihan.” ujar Kyuhyun iba.
“Wajar dia menangis seperti itu. Ayahnya adalah seorang pemilik pusat perbelanjaan yang cukup sukses. Kehidupan mereka di kota serba berkecukupan. Lalu mereka memutuskan untuk pindah dan tinggal di tempat ini. Bisa dimaklumi kalau Hyunsoo merasa tak betah. Mereka tinggal disini juga belum lama, belum ada 1 bulan.” Sungmin menjelaskan. Tentu saja Kyuhyun merasa heran. Apabila Siwon adalah seorang pemilik pusat perbelanjaan, mengapa mereka harus meninggalkan kehidupan mereka di kota dan memilih untuk tinggal di perkampungan terpencil seperti itu? Apa yang telah membuat keluarga Choi mengambil keputusan tak masuk akal seperti itu?
“Kenapa mereka bisa tinggal disini?” Kyuhyun penasaran. Ia sungguh ingin tahu alasan Choi Siwon membawa anak-istrinya pindah dari kota ke desa yang jauh berada di pedalaman tanpa aliran listrik dan jaringan telepon.
“Entahlah. Lebih baik kau tanyakan saja secara langsung pada mereka.” Sungmin seperti menyembunyikan sesuatu. Kyuhyun terdiam. Semuanya semakin terasa aneh. Ia sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di desa itu.

“Dengarkan aku, Kyuhyun-ssi. Kau mungkin tidak akan mau tahu kenapa keluarga Choi, pasangan Lee, aku, kau dan Seungjung bisa berada disini. Karena saat kau mengetahuinya, kau akan kehilangan harapan.” kata Sungmin lagi. Omongannya kali ini benar-benar serius.
“Maksudmu?” Kyuhyun semakin tak mengerti. Melihat Kyuhyun yang kebingungan, Sungmin cuma tersenyum.
“Jangan khawatir. Aku akan membantu kalian mengerti keadaan disini.” kata Sungmin lagi lalu pergi -kembali ke rumahnya.

***

“Ada apa, Kyu? Kau dan Dr.Lee bicara soal apa?” tanya Seungjung sekembalinya Kyuhyun dari dapur.
“Bukan apa-apa.” jawab Kyuhyun.
“Lebih baik kau tidur. Ini sudah lewat dari tengah malam. Istirahatlah.” kata Kyuhyun pada Seungjung yang sedang terbaring lemah diatas alas tidur dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Kyuhyun hendak keluar dari kamar. Ketika namja itu akan melangkah melewati pintu, Seungjung memanggilnya..
“Kyu..” panggil Seungjung. Namja itu menoleh.
“Ada apa?” tanya Kyuhyun.
“Ma’afkan aku seharian ini telah menyusahkanmu.” kata Seungjung lagi. Kyuhyun tersenyum mendengar itu. Dan dengan santainya ia berkata..
“Sejak kecil kau memang sudah banyak menyusahkanku. Kalau kau ingin membuatku kesusahan lagi, aku rasa aku tidak akan keberatan sama sekali.” ujarnya lalu keluar dari kamar Seungjung.

‘Kyuhyun berbeda sekali.’ gumam Seungjung dalam hati. Berbeda dengan sebelumnya, seharian ini Kyuhyun memang kelihatan tak seperti biasanya. Namja itu sepertinya sangat perhatian pada dirinya. Entah mengapa tiba-tiba saja Seungjung tersenyum mengingat semua yang telah Kyuhyun lakukan untuknya. Hingga pada akhirnya yeoja itu tertidur dengan begitu nyenyak.

bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s