fanfiction | THE VILLAGE Chapter-4

Author: Shin Hyoseul a.k.a Lady Modrus Grande Dame (@ladymodrus).
Genre: Drama, Romance, Mystery.
Rate: T.
Lenght: Chaptered-udah-pasti-panjang.
Cast:
– Cho Kyuhyun.
– Shin Seungjung (OC).
– Lee Sungmin.
– Hwang Rin Ah (OC).
– Kim Jongwoon (Yesung).
– Choi Hyori (OC).
– Lee Donghae.
– Park Chanra (OC).
– Kim Ryeowook.
– Kim Myuri (OC).
– Choi Siwon.
– Shin Hyoseul *author ketagihan nampang*
– Kim Sungri (OC).
– Kim Ryeo Eun (OC).
– Kim Sunwook (OC).
– Choi Hyunsoo (OC).
– Choi Hyowon (OC).
Note: Mian updatenya agak lama. Soalnya author sibuk sama kerjaan.
Desclimer: All cast mutlak milik Allah. Kecuali Sungri (milik Hyori), Ryeo Eun & Sunwook (milik Myuri), sedangkan Hyunsoo, Hyowon & FF ini mutlak milik author. Copas/Share boleh asal full credit.
Warning: Typo(s), OOC, Non-EYD, kata-kata monoton & ceritanya ga nyambung.

NO BASHING!!
^^ Happy Reading ^^

kyu

###

*Author’s POV*
Donghae melihat hamparan ladang sayurnya rusak diserang hama. Sayur mayur yang seharusnya sudah siap untuk dipanen menjadi layu dan mati. Dari kejauhan ia melihat sosok Siwon yang sedang kebingungan karena ladangnya juga terkena hama. Suatu keanehan telah terjadi. Setelah sekian lama Donghae tinggal di perkampungan itu, belum pernah sekalipun ada ladang yang diserang hama. Hasil panen selalu bagus dan tidak pernah gagal. Tapi sekarang, -untuk pertama kalinya- hama menyerang perkebunan mereka.
“Ini pertanda buruk..” Donghae bergumam.
“Tapi kenapa Yesung belum melakukan tindakan apapun?” gumamnya lagi. Donghae hanya berpikir mungkin Yesung terlalu fokus terhadap Kyuhyun dan Seungjung sehingga tidak terlalu mempedulikan hal lain. Belakangan ini Yesung banyak berdiskusi dengan Sungmin -tentang Kyuhyun dan Seungjung. Sepertinya Yesung sangat mempercayai Sungmin. Terbukti dengan adanya perintah kepada dokter muda itu untuk menjaga ‘calon’ anggota baru mereka.

Lee Sungmin. Nama itu sepertinya sangat dibenci oleh Donghae. Terlebih lagi jika ia mengingat apa yang dikatakan oleh dokter itu semalam. Beraninya namja itu berbicara tentang Chanra dihadapannya.
“Aarrgh!!!” Donghae merasa kesal ketika mengingat kejadian tadi malam. Ia sangat sakit hati terhadap Sungmin. Bagaimana bisa namja itu menjadikan kemalangan yang menimpa Chanra sebagai senjata untuk mengancamnya? Mungkin Donghae memang salah karena telah terlebih dulu menyinggung perasaan Sungmin, namun ia juga tak menyangka kalau Sungmin yang biasanya lemah dan pendiam bisa bertindak seperti itu -dengan mengatakan hal-hal yang menurut Donghae lebih kejam dari apapun. Semua itu membuat Donghae tak bersemangat menggarap ladang. Ia pun memutuskan untuk pulang.
*Author’s POV ends*

*Donghae’s POV*
Aku melangkahkan kakiku meninggalkan ladang. Pikiranku jadi tak tenang. Di kepalaku kini hanya ada Chanra -yeoja yang telah membuatku luluh, membuatku tak lagi peduli apa kata dunia tentang rasa cinta yang kami miliki. Aku sangat mencintainya -melebihi apapun. Bahkan ketika kedua orang tuaku dengan sangat jelas melarangku untuk menikah dengannya, aku sama sekali tak peduli. Seperti apapun kondisi yang sedang dialami oleh Chanra tidak akan mengubah rasa cintaku padanya. Dia adalah hidupku. Dan dia juga adalah matiku.

=Flashback=
Aku pertama kali bertemu dengan Chanra di sebuah Rumah Sakit. Saat itu aku sedang mendampingi hyung-ku yang baru saja menjalani operasi karena mengalami kecelakaan. Di salah satu lorong di Rumah Sakit itu aku ditabrak oleh seorang yeoja.
BRUKK!
Yeoja itu terjatuh. Dia tampak sangat lemah. Jadi, aku mencoba untuk membantunya berdiri.
“Nona, kau tidak apa-apa?” tanyaku. Dia tak menjawab. Malah dengan tanpa meminta ma’af -karena sudah menabrakku- dia langsung pergi dengan terburu-buru. Aku bisa melihat pipinya basah karena air mata. Dan pada saat itu juga -tanpa aku tahu kenapa- aku memutuskan untuk mengikuti langkah yeoja itu.

Dia berjalan dengan sangat cepat menuju atap Rumah Sakit. Aku tak tahu persis apa yang akan lakukannya. Yang pasti, yeoja itu hanya berdiri mematung ketika sampai disana. Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh dan dia sama sekali tak menyadari kehadiranku.
‘Mau apa dia di tempat seperti ini?’ pikirku. Aku masih memperhatikannya dari jauh -mencari tahu apa yang hendak dilakukan oleh yeoja itu. Namun, aku mulai berjalan mendekat ketika dia -dengan perlahan-lahan- melangkahkan kakinya kepinggir gedung. Air matanya semakin deras mengalir ketika dia melihat kearah bawah gedung rumah sakit itu.

“Eomma, Appa.., ma’afkan aku.. Aku sudah tak punya masa depan lagi.. Hiks..” isaknya. Kulihat yeoja itu naik keatas sebuah pembatas lalu merentangkan kedua tangannya. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini. Oleh karena itu..
“Andwae!!!” teriakku. Yeoja itu menoleh, dia tampak terkejut.
“Siapa kau?! Jangan campuri urusanku!” bentaknya tak senang.
“Na~namaku Lee Donghae. Aku~”
“Aku tak mengenalmu, Tn.Lee. Sebaiknya kau pergi!” usir yeoja itu. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengatakan bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya dan memintanya untuk turun dari pembatas itu. Namun dia bersikeras. Yeoja itu bahkan mengancamku.
“Kalau kau berani mendekat, aku akan melompat!” dia mengangkat sebelah kakinya seperti hendak melangkah keluar pembatas. Aku jadi mengurungkan niatku untuk mendekat.

Dia memalingkan wajahnya dariku dan menatap langit biru yang membentang diatasnya. Air mata-nya masih berlinang. Tak jelas apa yang sedang dihadapinya, namun aku yakin itu pasti sesuatu yang sangat berat sehingga membuatnya terlihat begitu depresi.
“Andaikan ada tempat lain disana yang bisa membuatku bahagia.. Aku akan rela melakukan apa saja..” dia bergumam pelan, tapi aku dapat mendengar suara lirih yeoja itu.
“Aku tak bisa berada disini lagi.. Aku tak mau hidup lagi..” yeoja itu memejamkan kedua matanya. Tampak dirinya sudah tak peduli lagi dengan apapun. Aku harus bertindak. Ya, aku harus bertindak. Ketika dia hendak melangkah melewati pembatas..
“ANDWAE!!!”
=Flashback ends=

***

Pada awalnya, kupikir mungkin aku hanya kasihan melihat kondisi Chanra yang begitu lemah dan telah kehilangan semangat hidup karena kanker Serviks yang dideritanya. Dokter telah memvonisnya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan. Itulah yang membuatnya ingin mengakhiri hidup.

Tak tega melihatnya begitu rapuh, aku pun mencoba untuk memberinya motivasi. Berhasil. Aku berhasil membujuknya untuk melakukan operasi. Aku juga mendampinginya saat dia menjalani kemoterapi. Semula, aku hanya ingin membantu. Itu saja. Hingga kemudian aku merasakan ada hal yang aneh terjadi padaku. Aku rasa aku telah jatuh cinta padanya. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini. Kupikir, mungkin ini hanya karena perasaan iba semata. Tapi ternyata aku salah. Aku bisa merasakannya. Tak ingin memendam lebih lama lagi, aku pun mengatakan kepada Chanra tentang apa yang aku rasakan. Awalnya Chanra merasa tak percaya. Dia menolakku..
“Kau hanya akan menyia-nyiakan hidupmu. Kau tak seharusnya mencintaiku.” begitulah ucapnya saat itu. Aku sudah menduga sebelumnya dan aku juga mengerti kenapa Chanra menolakku. Kanker Serviks yang ia idap adalah alasannya. Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan apabila menikah dengannya. Seumur hidupku mungkin hanya akan kuhabiskan dengan merawat Chanra. Namun demi Tuhan, aku rela melakukannya.

Cintaku sudah terlalu kuat untuk dilawan. Aku ingin menghilangkan perasaan itu -suatu hal yang sangat sulit untuk kulakukan. Park Chanra, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau begitu indah di mataku? Kau hanya gadis lemah yang -hampir- tak mampu melakukan apa-apa. Tapi aku ingin bersamamu, selalu berada di sisimu. Aku ingin melihat adanya setitik harapan didalam hidupmu. Aku. Itu adalah aku.
*Donghae’s POV ends*

*Author’s POV*
Di sepanjang perjalanannya menuju rumah, pikiran Donghae tak pernah luput dari Chanra. Seketika semua kenangan tentang perjuangan cinta mereka kembali memenuhi kepala Donghae. Bagaimana akhirnya ia bisa meyakinkan hati Chanra dan bagaimana memilukannya saat keluarga Donghae -terutama kedua orang tuanya- menolak Chanra -yang akhirnya membuat Donghae dan Chanra memutuskan untuk kawin lari. Juga masa-masa dimana mereka harus hidup dengan penuh keterbatasan setelah menikah -ditambah lagi dengan penyakit Chanra yang semakin lama semakin parah. Semua itu membuat dada Donghae terasa sesak.

***

Donghae memasuki rumah kecil nan elok itu. Didalam tak ada orang, tapi Donghae tahu kemana Chanra pergi. Halaman belakang rumah. Ya, Donghae yakin istrinya berada disana.

Benar. Tampak seorang yeoja sedang duduk diantara ilalang yang tumbuh di belakang rumah mereka. Chanra yang mendengar derap langkah suaminya menoleh dan menorehkan seulas senyum manis di wajahnya yang terlihat sedikit pucat. Donghae membalas senyuman itu dan kemudian berjalan mendekat sebelum akhirnya ia memposisikan dirinya duduk di sebelah kiri Chanra.
“Kau pulang cepat?” tanya Chanra perihal kedatangan Donghae.
“Tak ada lagi yang bisa kulakukan di ladang. Hampir semua sayuran yang kita tanam terserang hama.” jawab Donghae.
“Lagipula, aku merindukanmu.” ujar Donghae lagi.

Kata-kata Donghae tadi membuat yeoja berperawakan agak kurus itu mengerutkan dahinya. Chanra menatap suaminya dengan penuh rasa heran. Entah apa maksud Donghae dengan mengatakan hal itu. Sadar sedang diperhatikan, Donghae pun menoleh kearah yeoja yang berada di sampingnya itu.
“Wae?” tanyanya ketika melihat ekspresi wajah Chanra.
“Ah, ani.. Hanya saja kau agak aneh.” jawab Chanra.
“Mwo? Aneh? Apanya yang aneh?” tanya Donghae lagi -tak mengerti.
“Kau bilang tadi kau merindukanku? Bukankah setiap hari kita selalu bersama?”. Donghae tersenyum mendengar apa yang terucap dari mulut yeoja yang sangat dicintainya itu.
“Ne, kita memang selalu bersama. Tapi apakah aku salah bila merindukanmu?” kata Donghae lagi.
“Anio, tapi tetap saja alasanmu itu terdengar aneh.”
“Jangan bilang kalau kau tak merindukanku. Apa jangan-jangan kau sudah bosan padaku dan sudah tak mencintaiku lagi?” kata Donghae sesaat setelah mendengar ucapan istrinya tadi.
“Ya! Lee Donghae, kau ini apa-apaan? Tentu saja aku mencintaimu.” kata Chanra sedikit cemberut. Donghae tertawa kecil melihat pipi Chanra yang menggembung -sehingga membuat Chanra terlihat sedikit chubby.
“Aku hanya bercanda.” ujar Donghae disela-sela tawa kecilnya. Chanra masih cemberut, ia tak menggubris kata-kata Donghae. Membuat namja itu meraih tubuh sang istri lalu menempatkannya kedalam sebuah pelukan yang begitu hangat.
“Aku mencintaimu, chagiya.. Kau juga tahu bahwa tidak akan ada yang bisa mengubah perasaanku padamu. Apapun itu.” bisik Donghae.
“Ne..” ucap Chanra pelan.

Donghae dan Chanra hanya duduk berdua menikmati pemandangan indah -yang sedikit mencekam. Chanra yang bersandar di pundak Donghae seperti bisu. Tak ada kata yang diucapkannya. Hanya suara hembusan napasnya yang terdengar -seperti menyanyikan sebuah lagu tentang penderitaan yang begitu dalam. Hingga kemudian Donghae menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Chanra menangis. Suara isakannya hampir tak terdengar. Yeoja itu sekuat tenaga menahan tangisannya karena ia tak ingin membuat suaminya semakin khawatir terhadapnya. Namun tetap saja apa yang ia lakukan tidak akan pernah mampu menutupi apa yang sedang dirasakannya sekarang.

“Tak bisakah Choi Hyunsoo untukku saja?” tanya Chanra ditengah-tengah tangisnya. Hati Donghae terenyuh mendengar suara lemah Chanra yang menginginkan kehadiran seorang anak di keluarga kecil mereka. Donghae sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya sendiri sedang berkecambuk. Chanra memegangi perutnya sendiri. Ia ingin merasakan adanya tanda-tanda kehidupan didalam sana. Tapi sekeras apapun ia mencoba, hal itu tidak akan pernah bisa terjadi.
“A~apakah ‘dia’ bisa merasakan sentuhan tanganku?” tanya Chanra lagi. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Donghae. Tangisannya mulai pecah. Donghae -yang masih tak tahu harus berkata apa- juga tak sanggup menahan air matanya melihat Chanra yang sedang merasa begitu rapuh dan berduka. Yang ia bisa lakukan hanya memeluk Chanra semakin erat. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan hati Chanra.

“Kumohon, Donghae-ah.. Kau harus membujuk Yesung. Biarkan aku memiliki Choi Hyunsoo.. Hiks..”. Chanra terdengar begitu putus asa. Dan tanpa disadarinya, Donghae mulai merasa kalau semua kata-kata yang diucapkan oleh Sungmin tadi malam terbukti benar. Apa yang menimpa Donghae dan Chanra jauh lebih menyakitkan apa bila dibandingkan dengan apa yang pernah Sungmin lewati sebelumnya. Penyesalan mulai menggerogoti hati namja itu.
“Ma’afkan aku, chagiya..” hanya itu yang bisa Donghae ucapkan. Dan semua itu takkan mampu mengakhiri penderitaan Chanra.

***

“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” Siwon bergumam bingung ketika melihat sayuran yang ditanam olehnya rusak akibat hama. Siwon merasa bodoh karena tak mampu menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh Yesung dan penduduk desa lainnya yang telah berbaik hati memberinya sebidang tanah untuk digarap. Ia memang tidak memiliki bakat apapun dalam bidang pertanian. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya bercocok tanam karena sebelumnya Choi Siwon adalah seorang CEO dari salah satu Departement Store ternama di Korea. Ia dan keluarganya belum pernah sekalipun melakukan pekerjaan kasar seperti bertani, beternak hewan dan lain-lain. Sebelum menikah dengannya, Shin Hyoseul -istri Siwon- adalah seorang penulis yang juga putri dari arsitek kenamaan Korea bernama Shin Dong Hee. Itu membuat sang istri tak mampu berbuat banyak untuk membantunya menggarap ladang. Entah apa yang harus ia perbuat untuk mengusir hama-hama yang telah merusak habis semua sayuran yang ditanamnya.
‘Ah, Lee Donghae yang sudah lama tinggal disini saja mengalami hal yang sama.’ Siwon membatin dalam hati seraya menghibur dirinya sendiri dengan mengingat kalau hama tak hanya merusak ladang miliknya, tetapi juga milik Donghae -yang sudah lebih dulu tinggal di desa itu sebelum Siwon.

“Siwon-ssi..” lamunan Siwon berakhir ketika mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya dari belakang. Siwon menoleh dan tampaklah Kyuhyun yang sedang berdiri dihadapannya sambil tersenyum.
“Ah, Kyuhyun-ssi.. Ada perlu apa kemari?” tanya Siwon dengan ramah.
“Ani.. Aku hanya sedang berkeliling melihat-lihat. Kebetulan aku lewat sini dan melihatmu. Sepertinya kau sedang bingung..” jawab Kyuhyun sedikit berbasa-basi. Sebenarnya Kyuhyun tidak sedang berjalan-jalan melihat perkampungan. Ia sengaja mendatangi Siwon karena ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan kepada namja itu.
“Ne, aku memang sedang bingung. Ladangku terserang hama. Aku tidak tahu harus bagaimana.” ujar Siwon sambil menatap lesu ke sekeliling ladang sayur garapannya.
“Sayang sekali, Siwon-ssi. Aku tidak mengerti ilmu pertanian. Aku tak bisa memberikan saran apapun kepadamu.” kata Kyuhyun turut prihatin.
“Ah, tidak apa-apa. Mungkin nanti aku akan meminta solusi pada Yesung dan penduduk lainnya.” kata Siwon lagi sambil tersenyum. Karena Siwon merasa sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan di ladang, ia pun akhirnya mengikuti jejak Donghae -yang memutuskan untuk pulang beberapa waktu yang lalu sebelum Kyuhyun tiba. Ia juga mengajak Kyuhyun untuk pulang bersamanya. Kyuhyun menyambut ajakan Siwon dengan senang hati.

***

“Kudengar dulu kau adalah seorang CEO. Apa benar begitu, Siwon-ssi?”. Ditengah-tengah perjalanan pulang, Kyuhyun mulai bertanya tentang asal-usul Siwon. Kyuhyun sebenarnya sudah tahu siapa Siwon dari Sungmin, tapi itu hanya sebatas basa-basi saja.
“Ne. Aku mengurus bisnis keluarga. Dongsaengku juga ikut membantu mengelola Departement Store yang kami jalankan.” jawab Siwon sambil terus berjalan.
“Kau pasti sangat sibuk?” tanya Kyuhyun lagi. Siwon tersenyum lalu berkata..
“Begitulah.. Terkadang aku jadi jarang berkumpul dengan keluargaku. Aku juga sering diprotes oleh anak-istriku karena terlalu sibuk.”. Mendengar perkataan Siwon, Kyuhyun hanya bisa menghela napas. Ia jadi teringat akan dirinya sendiri yang juga sering protes kepada kedua orangtuanya karena terlalu sibuk bekerja. Oleh karenanya Kyuhyun menjadi begitu dekat dengan Ahra -yang selalu ia jadikan sebagai sosok pengganti ayah dan ibunya.
“Aku rasa aku bisa mengerti perasaan keluargamu, Siwon-ssi. Appa dan eomma-ku juga terlalu sibuk bekerja. Di rumah aku hanya ditemani oleh noona-ku. Aku sering merasa kesepian.” ujar Kyuhyun mengingat kenangan masa kecilnya dulu. Seketika hati Kyuhyun dihinggapi rasa rindu yang teramat sangat akan ayah, ibu dan kakaknya. Mereka pasti sangat khawatir karena sudah 2 hari belum mendapat kabar darinya. Tapi Kyuhyun segera mengalihkan perhatiannya dengan kembali mengobrol dengan Siwon.

“Siwon-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”
“Ne, silakan.”
“Hmm.. Aku dengar dari penduduk lain kalau kau belum lama tinggal di desa ini. Aku hanya penasaran, kenapa kau dan keluargamu memilih untuk tinggal di tempat yang terpencil seperti ini?”. Siwon segera menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kyuhyun. Siwon terdiam. Matanya seperti sedang menerawang sesuatu. Namja itu tampak seperti sedang mencoba untuk mengingat sesuatu yang telah lama dilupakannya.
“Si~Siwon-ssi..? Apa kau baik-baik saja?” Kyuhyun menegur Siwon yang tiba-tiba saja melamun. Namja itu masih terdiam. Tampak dahinya mengerutkan sebuah pertanyaan yang membuatnya berpikir keras.
“Siwon-ssi?” tegur Kyuhyun lagi karena Siwon tak meresponnya. Kyuhyun lantas menepuk pundak Siwon pelan, kemudian..
“Ah, ne?” Siwon tersadar dari lamunannya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun agak sedikit heran. Siwon berusaha bersikap senormal mungkin didepan Kyuhyun. Namja itu tersenyum lalu berkata..
“A~ku baik-baik saja, Kyuhyun-ssi. Aku hanya masih teringat akan ladangku yang terserang hama tadi.” jawab Siwon agak sedikit terbata-bata.
“Apa kau yakin?” Kyuhyun ingin memastikan.
“Ne. Mungkin sebaiknya aku segera kembali ke rumah. Kebetulan rumahku sudah dekat, jadi aku mohon permisi dulu, Kyuhyun-ssi. Annyeong..” kata Siwon lagi lalu segera meninggalkan Kyuhyun dengan terburu-buru. Melihat tingkah aneh Siwon, Kyuhyun merasa ada yang tidak beres dengan namja itu. Tak hanya Siwon, Sungmin dan penduduk lainnya juga terlihat aneh. Entah siapa sesungguhnya mereka yang menghuni perkampungan itu. Rasa penasaran Kyuhyun semakin bertambah. Hanya saja, belum ada hal yang dapat menjawab rasa penasaran pemuda itu.

***

Siwon membuka pintu rumahnya yang terbuat dari kayu itu. Jauh dari arah belakang rumah terdengar suara seseorang. Suara yang begitu dikenalnya. Choi Hyunsoo, putra kesayangannya terdengar sedang asik bermain. Mendengar suara ceria Hyunsoo, hati Siwon menjadi sedikit tenang karena tadi malam bocah laki-laki itu tak mau berhenti menangis. Ia tampak begitu ketakutan -tanpa Siwon dan istrinya tahu apa penyebabnya. Siwon meneruskan langkahnya sehingga ia sampai di halaman belakang rumahnya. Tampak Hyoseul sedang duduk mengawasi Hyunsoo yang sedang sibuk bermain dengan seekor anak kelinci berwarna putih.

Menyadari kedatangan Siwon, Hyoseul hanya melemparkan senyuman kearah namja itu -sebagai pertanda kalau Siwon tak perlu lagi mengkhawatirkan Hyunsoo.
“Dari mana Hyunsoo mendapatkan anak kelinci itu?” tanya Siwon yang kemudian duduk di samping Hyoseul.
“Dari si kembar Ryeo Eun dan Sunwook. Myuri dan Ryeowook mendengar Hyunsoo menangis tadi malam. Jadi, mereka berinisiatif untuk memberikan salah satu kelinci milik mereka pada Hyunsoo agar dia merasa terhibur.” jawab Hyoseul.
“Keluarga Kim.. Mereka memang sangat baik hati. Mereka selalu banyak membantu kita.” Siwon merasa kagum kepada keluarga Ryeowook. Bahkan ladang sayur yang kini digarap olehnya dulunya adalah milik Ryeowook. Siwon benar-benar tidak tahu bagaimana ia harus berterimakasih kepada mereka. Berkat Keluarga Kim pula mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan di perkampungan itu.
*Author’s POV ends*

*Siwon’s POV*
Syukurlah.. Hyunsoo kembali ceria seperti semula. Semalaman aku dibuatnya khawatir setengah mati karena anak itu menangis dan terus menangis dengan kencang. Segala usaha yang kami lakukan untuk membuatnya diam semuanya gagal total. Hyunsoo baru berhenti menangis ketika hari sudah menjelang pagi. Hyoseul menemaninya hingga ia tertidur. Karena hari sudah pagi, Hyoseul jadi tidak sempat untuk beristirahat. Sepertinya sampai sekarang pun ia belum tidur. Aku bisa melihat dari matanya yang agak memerah dan wajahnya yang sedikit pucat. Aku harus melakukan sesuatu.

“Hyoseul-ah, kau tampak sangat lelah. Kau bahkan belum tidur sejak tadi malam. Beristirahatlah..” pintaku pada Hyoseul yang semenjak tadi tak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah lucu Hyunsoo yang sedang bermain dengan ‘teman’ barunya.
“Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.” ujarnya sambil menoleh kearahku. Aku bisa melihat dengan jelas kalau ia begitu kelelahan. Tapi Hyoseul mencoba menyembunyikan rasa lelahnya dengan berkata kalau dirinya baik-baik saja.
“Kau tidak bisa membohongiku. Beristirahatlah di kamar. Aku akan menjaga Hyunsoo dan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku tidak mau kau jatuh sakit, chagiya.” aku berusaha agar Hyoseul mau beristirahat sejenak. Tapi dia malah tertawa..
“Hahaha.. Kau bilang apa tadi? Menjaga Hyunsoo dan mengerjakan semua pekerjaan rumah?” Hyoseul memicingkan matanya seperti tak yakin.
“Jangan remehkan aku. Kau pikir hanya karena aku seorang pria aku tidak bisa mengurus rumah?” tanyaku padanya. Hyoseul menggelengkan kepalanya.
“Wae?” tanyaku bingung.
“Ah, ani.. Setahuku kau sudah cukup lelah bekerja di ladang. Sayuran kita tanam sedang diserang hama, kan? Aku juga tidak mau kau jatuh sakit, Siwon-ah.” jawabnya padaku. Aku bisa melihat dari sorot matanya, disana ada rasa khawatir yang sedang ia coba sembunyikan dariku. Seharusnya aku memberi Hyoseul perhatian yang lebih. Aku tak seharusnya membuat ia semakin cemas.

“Aku berjanji padamu, apabila semuanya sudah selesai aku juga akan beristirahat. Percayalah padaku.” ujarku mencoba menyakinkannya. Kugenggam kedua belah telapak tangannya dengan erat. Aku merasakan tangan Hyoseul begitu dingin, oleh karena itu..
“Pergilah tidur. Aku akan menjaga Hyunsoo.”. Hyoseul tidak berkata apa-apa, ia hanya mengangguk sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju kamar tidur. Entah mengapa saat menggenggam tangannya, aku merasakan ada sesuatu yang membuat hatiku tak tenang. Mungkin aku hanya khawatir karena sepertinya Hyoseul sedang kurang sehat. Tapi aku rasa ada sesuatu yang lebih buruk dari itu.
*Siwon’s POV ends*

*Author’s POV*
“Appa!” seru Hyunsoo ketika melihat Siwon. Anak itu segera berlari menuju sang ayah seraya menggendong anak kelinci yang menjadi teman barunya. Siwon segera memberikan jagoan kecilnya itu sebuah pelukan yang begitu hangat.
“Appa, Ryeo Eun dan Sunwook memberiku kelinci kecil ini. Aku memberinya nama Sungmin.” kata Hyunsoo dengan penuh semangat. Mendengar itu, Siwon tertawa..
“Mwo? Kenapa harus Sungmin?” tanya Siwon bingung. Ia ingin tahu kenapa Hyunsoo menamai kelincinya sama seperti nama Lee Sungmin.
“Itu karena gigi depan Dr.Lee sangat mirip dengan kelinci.” jawab bocah berpipi chubby itu dengan polosnya. Siwon kembali tertawa mendengarnya.
“Hahaha.. Jinja? Apa kau tidak takut Dr.Lee akan marah? Bagaimana kalau diberi nama Hyunsoo saja?” ujar Siwon sedikit bercanda. Hyunsoo menggelengkan kepalanya, wajah manis anak itu berubah cemberut.
“Aku tidak mau jadi kelinci..” ujarnya. Lagi-lagi Siwon tertawa kecil mendengar jawaban polos putranya.
“Tentu saja kau tidak akan jadi kelinci Hyunsoo-ah. Kau hanya akan jadi jagoan kecil Appa. Selalu.” mendengar ucapan Siwon, senyum pun kembali terlukis di wajah Hyunsoo. Senyuman itu menampakkan lesung pipit yang begitu manis di kedua belah pipinya -membuat Hyunsoo terlihat sangat mirip dengan ayahnya. Siwon kembali mendekap Hyunsoo dengan erat. Sangat erat. Sehingga kemudian Siwon kembali merasakan ada sesuatu yang aneh.

***

Malam sudah larut, namja bernama Choi Siwon itu masih terjaga. Matanya seperti enggan untuk terpejam. Hatinya sedang tak tenang, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Siwon teringat akan pertanyaan Kyuhyun tadi siang tentang alasannya memboyong Hyoseul dan Hyunsoo pindah dari kota besar ke perkampungan terpencil dan meninggalkan semua yang dimilikinya -perusahaan dan keluarga besarnya. Entah apa yang terjadi, Siwon tidak dapat mengingat apa yang telah membuatnya memutuskan untuk tinggal di tempat terasing seperti itu. Seketika Siwon teringat akan orang tuanya, adik perempuannya dan Kibum sahabatnya. Apakah mereka semua tahu keberadaan Siwon dan anak-istrinya sekarang? Bagaimana bisa Siwon melupakan mereka semua?

‘Ya Tuhan.. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada kami?’ tanya Siwon dalam hati. Namja itu semakin merasa tak tenang ketika mengetahui adanya keanehan pada diri Hyunsoo. Saat memeluk putranya tadi siang, Siwon tidak dapat merasakan detak jantung di dada bocah kecil itu. Semuanya sangat mengganggu pikiran Siwon. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Akal sehatnya tak mampu menerima kejadian aneh yang baru saja ia alami. Siwon benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dirinya hanya bisa melamun diatas alas tidurnya. Melamun tanpa adanya jalan keluar yang ia temui.

Malam itu terasa begitu berat untuk dilewatinya sendirian. Siwon menoleh kearah seorang yeoja yang sedang tertidur lelap di sebelah kanannya. Shin Hyoseul, yeoja itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya, membuat Siwon tak tega kalau harus membangunkan sang istri meskipun saat ini dirinya sedang membutuhkan tempat untuk berbagi. Siwon juga tidak mau Hyoseul menjadi cemas apabila ia menceritakan semuanya kepada yeoja itu. Dan Siwon hanya bisa menghela napas menghadapi itu semua.
“Apa yang harus aku lakukan..?” gumam Siwon kepada dirinya sendiri.

***

Hyoseul terbangun dari tidurnya dan mendapati hari sudah malam. Sepertinya ia sudah terlalu lama tidur sehingga tak menyadari kalau hari sudah gelap. Hyoseul menoleh ke sebelah kanan dan kirinya. Biasanya ada seorang namja disana. Siwon, dia tidak ada di kamar. Hyoseul pun bangun dari pembaringannya dan melangkah keluar kamar mencari Siwon.

Tak perlu menunggu lama, saat Hyoseul membuka pintu kamar Hyunsoo, ia mendapati suaminya sedang tiduran di sebelah kanan anak laki-lakinya itu. Hyoseul tersenyum melihatnya. Ternyata Siwon menepati janjinya untuk menjaga Hyunsoo. Yeoja itu pun melangkah masuk dan tiduran di sisi kiri bocah kecil kesayangannya.
“Kau belum tidur?” tanya Hyoseul dengan suara pelan. Siwon hanya sedikit tersenyum dan mengangguk kecil. Mata lelah namja itu tak mau lepas dari Hyunsoo, membuahkan sebuah isyarat tentang kekhawatiran yang kini sedang melanda dirinya. Dan Hyoseul dapat membaca hal itu dengan mudahnya.
“Ada apa?” tanya Hyoseul lagi. Siwon mendesah pelan, ia tidak yakin untuk menceritakan semuanya pada Hyoseul.
“Aku ingin bicara denganmu.” jawab Siwon kemudian.

Namja itu mengajak Hyoseul keluar dari kamar putra mereka. Siwon tidak mau mengganggu tidur Hyunsoo.
“Kau ingin bicara soal apa?” tanya Hyoseul sesaat setelah mereka keluar dari kamar Hyunsoo. Siwon terdiam, kepalanya tertunduk lesu. Ia tampak sedang berpikir keras, membuat Hyoseul cemas kepadanya.
“Chagiya, sebenarnya ada apa?” Hyoseul menunggu jawaban Siwon. Namun namja itu tetap tak bersuara. Ia hanya mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap Hyoseul sejenak. Mata Siwon tampak berkaca-kaca, ia begitu tampak kebingungan.
“Siwon-ah, waeyo?” tanya Hyoseul semakin tak mengerti ketika tiba-tiba saja Siwon memeluknya dengan erat. Siwon tidak tahu harus bagaimana menceritakannya pada Hyoseul. Dan bukannya mendapatkan ketenangan, Siwon justru menangis ketika menyadari tubuh yeoja yang sedang dipeluknya itu terasa begitu dingin. Siwon hampir tak lagi bisa merasakan hangat tubuh Hyoseul.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Tuhaan..?” Siwon sudah tak sanggup lagi menahan air mata-nya. Sementara Hyoseul, yeoja itu sangat kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada suaminya.

***

“Kyu! Lihat..” seru Seungjung pada Kyuhyun dengan wajah berseri. Seungjung merasa senang dirinya sudah tak harus memakai tongkat penyangga lagi karena kakinya yang terkilir sudah mulai membaik. Yeoja itu berjalan dengan perlahan di halaman depan rumah yang mereka tinggali. Kakinya menapaki halaman itu selangkah demi selangkah menuju Kyuhyun yang sedang tersenyum geli melihat sahabatnya itu terlihat seperti bayi yang baru belajar berjalan.

“Aku sampai!” seru Seungjung lagi dengan riang begitu sampai ke hadapan Kyuhyun.
“Kau ini seperti anak kecil saja!” kata Kyuhyun sambil menyentil dahi Seungjung.
“Ya! Cho Kyuhyun, kau ini menyebalkan!” omel Seungjung. Kyuhyun hanya tersenyum ketika melihat yeoja itu cemberut setelah disentil olehnya.

Suasana pagi itu terasa begitu indah. Sekalipun keadaan langit masih sama seperti hari-hari sebelumnya, hal itu seperti tak bisa menghalangi apa yang sedang dirasakan oleh Seungjung. Semakin hari Kyuhyun semakin perhatian padanya. Seungjung selalu teringat akan pengorbanan yang telah namja itu lakukan untuknya. Perlahan, Seungjung mulai menyadari kalau dirinya memiliki rasa terhadap Kyuhyun. Saat ini, namja itu sedang melemparkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berada -tampak seperti sedang mencari sesuatu. Seungjung menjadi terheran-heran dibuatnya.

“Kau kenapa?” tanya Seungjung.
“Ah, ani.. Sepertinya semenjak kemarin aku tidak melihat Dr.Lee.” jawab Kyuhyun.
“Mwo? Memangnya ada apa?” tanya Seungjung lagi. Yeoja itu terlihat sangat penasaran.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang perkampungan ini.”
“Hmm.. Bukankah kemarin kau sudah menemui warga yang bernama Choi Siwon itu dan bertanya tentang banyak hal?”
“Ne, tapi~” Kyuhyun menghentikan kata-katanya. Namja itu segera mengajak Seungjung untuk masuk kedalam rumah tempat mereka menginap. Seungjung tidak mengerti kenapa tiba-tiba Kyuhyun mengajaknya masuk kedalam rumah dengan terburu-buru.

“Ya! Kau ini kenapa?” Seungjung ingin penjelasan.
“Ssstt… Kau jangan berisik..” pinta Kyuhyun.
“Wae? Sebenarnya ada masalah apa?” tanya Seungjung tak mengerti.
“Dengar, aku rasa ada yang aneh dengan tempat ini. Begitu pula dengan warganya.” jawab Kyuhyun seraya memperhatikan keadaan di luar jendela untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
“Ne. Mereka memang aneh, tapi hidup jauh dari hiruk-pikuk kota juga tidak ada salahnya kan?” Seungjung mengutarakan pendapat-nya.
“Ani.. Bukan itu yang kumaksud, Shin Seungjung. Ini sesuatu yang berbeda. Mereka seperti menutupi sesuatu dari kita.”
“Menutupi apa? Aku benar-benar tak mengerti.”

Kyuhyun bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada Seungjung. Mungkin apa yang sedang ada didalam pikiran-nya saat ini belum bisa dibuktikan. Akan tetapi, Kyuhyun sangat yakin dengan intuisi-nya.
“Dr.Lee.. Aku rasa dia tidak ingin kita berada disini.” ujar Kyuhyun kemudian. Seungjung masih belum paham dengan benar maksud dari perkataan Kyuhyun. Sejauh ini Seungjung melihat sosok seorang Lee Sungmin sebagai seorang dokter muda yang baik dan ramah. Apa alasannya jika memang itu yang diinginkan oleh Sungmin?
“Jika benar begitu, kenapa dia begitu baik kepada kita berdua?” tanya Seungjung seolah menginginkan penjelasan yang lebih detail dari Kyuhyun.
“Dia memang baik. Aku tahu dia tulus. Tapi dia selalu berbicara seolah ingin memberi isyarat kepadaku kalau kita tak seharusnya berada disini. Aku berbincang dan bertanya tentang banyak hal kepadanya, tapi dia selalu memberiku jawaban-jawaban yang tak jelas. Seperti ketika aku menanyakan tentang keluarga Choi, dia justru memintaku untuk menanyakan langsung kepada mereka tentang alasan kenapa mereka bisa tinggal di tempat ini dan sebagainya.” Kyuhyun menjelaskan. Namun itu tak cukup untuk mengobati rasa keingintahuan Seungjung.
“Memang ada apa dengan keluarga Choi?” tanya Seungjung dengan tatapan seperti tak ingin mempedulikan tentang masalah apa yang terjadi antara Dr.Lee dan keluarga Choi.

Kyuhyun terduduk di lantai. Kepalanya pusing. Tampaknya Seungjung belum merasakan adanya keanehan yang terjadi di sekitar mereka.
“Seingatku, kau adalah seorang ‘petualang’ yang selalu tertarik pada tempat-tempat yang aneh, Kyu. Bukankah bagimu tempat-tempat aneh itu jauh lebih menyenangkan dari rumahmu sendiri? Kenapa sekarang kau berubah pikiran?” tanya Seungjung lagi sambil duduk disebelah Kyuhyun.
“Kau ingin pulang?” pertanyaan terakhir Seungjung membuat Kyuhyun menoleh kearah yeoja itu. Tatapan mata Kyuhyun tampak begitu rumit.
“Bagaimana kalau aku memang ingin pulang?” Kyuhyun balik bertanya dengan ekspresi wajah yang datar. Seungjung terdiam. Gadis itu ingin menjawab pertanyaan Kyuhyun namun urung ia lakukan karena hatinya sendiri sedang berkecambuk.
“Kau tidak ingin pulang, Seungjung-ah?” tanya Kyuhyun lagi. Seungjung masih diam. Ia hanya menatap lurus kearah dinding kayu yang berada 3 meter di hadapannya.

“Kau sendiri tahu aku adalah seorang anak tunggal. Orang tuaku berada di luar negeri untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Aku selalu merasa sedih dan kesepian setiap kali berada di rumah. Kau juga tahu aku selalu ingin berada di tempat lain dimana aku bisa merasa bahagia. Tempat ini mulai memberiku sedikit dari kebahagiaan itu.” jawab Seungjung tanpa menoleh sedikitpun.
“Bagaimana tempat sesepi ini bisa membuatmu bahagia?” kali ini Seungjung yang menoleh kearah Kyuhyun setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh namja itu.
‘Karena kau ada disini bersamaku, Kyu.’ jawabnya dalam hati. Mulut-nya tak berucap. Begitu pula dengan Kyuhyun. Mereka hanya saling menatap, mencoba untuk saling menerka isi pikiran masing-masing. Tetapi itu hanya bisa membuat segalanya semakin bertambah rumit. Apa yang mereka coba tebak hanya membuahkan harapan-harapan yang belum tentu nyata. Sementara, apa yang tengah hati mereka rasakan semakin lama semakin dalam. Dan semakin menyakitkan pula karena Kyuhyun maupun Seungjung tak mampu berkata apapun untuk mengungkapkannya.

Seungjung tak lagi mampu menatap mata Kyuhyun. Pada akhirnya ia hanya bisa tertunduk, mencoba menyembunyikan airmata yang mulai membasahi pipi-nya. Sayangnya itu tak berhasil karena terlalu mudah bagi Kyuhyun untuk melihatnya menangis. Namja itu menyentuh pipi Seungjung dan menyeka airmata gadis itu dengan jemari-nya. Sekali lagi Seungjung menoleh.
“Apa yang membuatmu bahagia berada disini?” tanya Kyuhyun pelan, bahkan hampir seperti berbisik.
“Aku tak ingin membicarakan tentang hal ini, Kyu..” ujar Seungjung menepis tangan Kyuhyun perlahan dan hendak pergi. Namun Kyuhyun mencegahnya.
“Jangan pergi dariku..” ucap Kyuhyun lagi. Ia menggenggam tangan yeoja itu dengan sangat erat. Entah apa yang dimaksud oleh Kyuhyun, yang pasti hal itu berhasil membuat Seungjung tak beranjak kemanapun. Mata yeoja itu seolah tak mampu melihat hal lain selain Cho Kyuhyun, namja yang kini sedang menatapnya dengan sangat lekat dan semakin dekat. Seungjung seperti terkunci. Sejenak pikiran Seungjung terasa kosong. Hingga kemudian ia tersadar oleh sesuatu.
*Author’s POV ends*

___

*Seungjung’s POV*
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirku. Sesuatu yang begitu lembut dan terasa hangat. Aku hanya bisa terpejam. Tapi apakah ini nyata? Ataukah ini hanya mimpi? Apa benar ini cinta ataukah hanya sebuah kesalahan manis yang siapa saja bisa melakukannya? Jika ini hanya mimpi.., tolong.. Jangan bangunkan aku..
*Seungjung’s POV ends*

___

*Author’s POV*
Seungjung tak ingin menampik kenyataan bahwa dirinya memang mencintai Kyuhyun. Secara sadar atau tidak, ia membalas ciuman itu dan membiarkan bibir mereka saling berpagutan satu sama lain. Namun apa yang dilakukannya terbalik dengan apa yang kini sedang ia rasakan didalam hati. Seungjung tak tahu apakah ia harus merasa bahagia atau justru merasa sebaliknya. Ia tak pernah tahu apakah Kyuhyun mencintainya atau tidak. Dan seiring dengan semakin dalamnya ciuman itu, semakin dalam pula kesedihan yang dirasakan oleh Seungjung karena Kyuhyun juga tak pernah tahu bahwa ia begitu mencintainya. Hal itu membuat airmata-nya kembali menetes ditengah-tengah ciuman mereka.
‘Kenapa kau menangis?’ tanya Kyuhyun dalam hati ketika menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Seungjung.

Tok tok tok..
Terdengar suara ketukan di pintu. Seperti baru tersadar dari mimpi, Seungjung reflek mendorong dada Kyuhyun pelan sehingga membuat bibir mereka yang semula saling bertautan kini terpisah. Jantung keduanya terasa berdentam dengan sangat keras. Baik Kyuhyun maupun Seungjung tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka bahkan tak mampu untuk menatap satu sama lain.

Tok tok tok.. Suara ketukan itu terdengar lagi.
“Biar aku saja.” kata Kyuhyun yang kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu depan. Dan ketika Kyuhyun membuka pintu..

“Oh, Dr.Lee..” sapa Kyuhyun pada Sungmin yang berdiri dihadapannya.
“Hmm.. Apakah aku mengganggu?” tanya Sungmin ketika melihat Kyuhyun agak lain.
“Ah, anio.. Aku baru saja ingin mencarimu. Ada hal yang~”
“Ingin kau bicarakan denganku?” Sungmin memotong perkataan Kyuhyun seolah ia bisa membaca isi pikiran pemuda itu.
“Ne.” jawab Kyuhyun singkat. Sungmin melirik sejenak keadaan didalam rumah yang ditinggali oleh Kyuhyun. Tampak disana ada Seungjung yang duduk di lantai membelakangi mereka berdua -sedang menghapus airmata.
“Aku rasa lebih baik kita berbicara di rumahku saja. Bagaimana?” saran Sungmin pada Kyuhyun.
“Baiklah.” Kyuhyun melihat kearah Seungjung sejenak. Tampak yeoja itu hanya menoleh tanpa ada ekspresi sama sekali. Merasa ada suasana yang sedikit tak mengenakkan, Sungmin memutuskan untuk pergi terlebih dahulu. Kyuhyun terlihat agak ragu untuk melangkahkan kaki-nya keluar rumah. Namun pada akhirnya Kyuhyun pergi tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut-nya. Kini, Seungjung hanya bisa menunggu Kyuhyun kembali dan menantikan apa yang akan namja itu katakan kepadanya. Seungjung berharap Kyuhyun akan berkata bahwa ia mencintainya.

***

“Apa kau sudah memberitahu hyungmu soal keluarga Choi?” tanya Donghae yang mendatangi Ryeowook yang tengah mengurus ternak unggas-nya.
“Kita belum mengetahui dengan pasti mengenai hal itu. Yesung hyung sedang terfokus pada kedua orang baru itu. Kita beritahu dia nanti saja.” jawab Ryeowook enteng. Ia seperti tak mempedulikan Donghae dan lebih memilih untuk memberi makan ternak-nya.
“Apa maksudmu nanti? Choi Siwon sudah mulai mengingat sesuatu semalam. Itu karena Cho Kyuhyun terlalu banyak ingin tahu tentang tempat ini. Apabila keluarga Choi tidak ditangani dengan segera, aku khawatir rencana kita untuk merekrut Cho Kyuhyun dan Shin Seungjung akan gagal.” kata Donghae lagi. Namja itu sedikit kesal karena Ryeowook terkesan menyepelekan laporan-nya mengenai keluarga Choi.
“Baiklah. Nanti akan kusampaikan. Tapi ingat, Donghae-ssi.. Aku rasa ada seseorang yang tidak ingin kita menyentuh anak dari keluarga Choi. Istrimu menginginkan Hyunsoo kan? Aku tak yakin Chanra akan mampu melakukan hal seperti itu padanya. Keputusan Yesung hyung sudah bulat, dia tidak akan merekrut satupun anggota keluarga Choi. Bila saatnya tiba, Chanra harus mampu membantu kita menangani mereka. Jika dia tidak bisa, maka dia harus menerima konsekuensi yang ada. Kau sendiri sudah tahu peraturannya, Donghae-ssi. Ingatkan istrimu untuk berhati-hati.” Ryeowook memperingatkan. Namja bertubuh kecil itu kemudian pergi meninggalkan Donghae entah kemana. Sedangkan Donghae sendiri merasa sangat kesal karena lagi-lagi Ryeowook memberinya peringatan. Bagi Donghae, itu lebih terdengar seperti ancaman. Dan lagi-lagi ini berhubungan dengan Park Chanra istri-nya.
‘Seandainya saja aku tak membawanya ke tempat ini..’ sesal Donghae dalam hati.

***

“Eomma, izinkan aku bermain bersama Ryeo Eun dan Sunwook..” Hyunsoo tengah merajuk kepada Hyoseul. Seharian ini Siwon melarangnya untuk pergi dari rumah. Sekalipun itu hanya untuk bermain.
“Eomma.. Boleh yaa…” Hyunsoo memohon. Tapi Hyoseul tidak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya Siwon sangat serius kali ini. Entah apa yang ada didalam pikiran namja itu. Sejak tadi malam Siwon terlihat aneh. Hari ini ia bahkan tidak pergi ke ladang dan hanya berdiam diri didalam rumah. Siwon banyak melamun dan tidak ingin Hyoseul dan Hyunsoo berada jauh dari sisi-nya. Hyoseul merasa iba kepada putra-nya. Oleh karena itu Hyoseul mengizinkan Hyunsoo untuk pergi bermain walaupun Siwon bersikeras melarang.
“Ikut aku kedalam. Kita harus bicara.” kata Hyoseul pada Siwon dengan nada sedikit kesal. Yeoja itu berjalan cepat menuju kamar dengan Siwon mengikutinya dari belakang.

“Apa maksud dari semua ini?” tanya Hyoseul tanpa basa-basi ketika sampai didalam kamar mereka.
“Kau melarang aku dan Hyunsoo untuk pergi keluar rumah. Dan seharian ini kau hanya diam. Sebenarnya ada apa? Jika ada masalah, katakan padaku. Tapi jangan pernah libatkan Hyunsoo. Dia masih anak-anak.” Hyoseul sedikit emosi. Ia menatap mata suami-nya dengan tajam. Ia menunggu jawaban dari Siwon. Namun namja itu tak berucap sepatah katapun.
“Choi Siwon, jawab aku..” kali ini Hyoseul sedikit melunak. Tapi Siwon tetap membisu. Lelah menunggu jawaban, Hyoseul pun melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Siwon. Namun belum sempat Hyoseul melangkahkan kaki keluar kamar, Siwon menarik tubuh Hyoseul dan memeluk yeoja itu dengan erat.

“Aku hanya tidak ingin kehilangan kalian berdua.” ucap Siwon pelan. Hyoseul mengerutkan dahi mendengar perkataan Siwon.
“Apa maksudmu? Aku dan Hyunsoo tak pernah pergi jauh darimu, Siwon-ah. Kenapa kau terdengar begitu takut?” tanya Hyoseul tak mengerti.
“Aku rasa sesuatu telah terjadi kepada keluarga kita, Hyoseul-ah.” jawab Siwon pelan. Hyoseul melepas pelukan Siwon. Yeoja itu kembali dilanda kebingungan. Hyoseul merasa tak ada satupun yang salah dengan keluarga mereka. Mengapa tiba-tiba saja Siwon berkata seperti itu?

“Dengarkan aku, Siwon-ah. Apapun yang sedang ada didalam benakmu sekarang, katakanlah semuanya padaku. Kau tak seperti Choi Siwon yang biasa ku kenal. Ada apa?” Hyoseul mencoba untuk memberi pengertian kepada suaminya. Siwon menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Hyoseul tahu kalau namja yang kini berdiri dihadapannya itu sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dan Hyoseul bersabar menantikan suami-nya untuk angkat bicara. Mereka hanya saling berdiam diri untuk beberapa saat. Hingga kemudian..
“Chagiya.. Apakah kau ingat Hyowon?” tanya Siwon.
“Nugu? Hyowon? Siapa dia?” Hyoseul menjawab pertanyaan Siwon dengan pertanyaan lainnya. Siwon sudah menduga hal ini sebelumnya. Ia tahu kalau Hyoseul pasti tak mengingat apapun.
“Siapa itu Hyowon, Siwon-ah?” tanya Hyoseul lagi. Tak perlu menunggu lama, Siwon pun segera menjawab pertanyaan sang istri..
“Choi Hyowon. Dia anak perempuan kita, Hyoseul-ah. Umurnya 2 tahun, dia dongsaeng dari Hyunsoo. Apa kau tidak ingat?”

Bersambung…

Iklan

3 responses to “fanfiction | THE VILLAGE Chapter-4

  1. Ping-balik: I Wanna Be A Real Author | 신효슬 Shin Hyoseul's Headquarter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s