I Wanna Be A Real Author

OpenBook

Gue suka nulis dari kecil, tapi gue sendiri bukan orang yang hobi mengoleksi buku-buku sastra seperti novel, dll. Alasannya karena ekonomi. Daripada buat beli novel, mungkin lebih baik buat beli buku pelajaran yang -menurut sebagian orang- jauh lebih berguna. Sedangkan novel sendiri isinya kebanyakan cuma cerita fiksi. Toh kalau cuma kepingin baca cerita gue juga bisa bikin sendiri sesuai imajinasi gue.

Tapi ya begitulah.. Mungkin karena memang sangat jarang membaca karya sastra -kecuali cerpen & puisi yang ada di buku sekolah- gue jadi ga terlalu pandai merangkai kata setiap kali menulis cerita. Gue hanya mengandalkan kekuatan dialog tanpa bisa menggambarkan secara terperinci apa yang ingin gue sampaikan ke dalam cerita itu. Dan itu terus berlangsung hingga tahun 2011. Semenjak awal, gue menulis cerita hanya untuk konsumsi pribadi. Jadi gue ga terlalu peduli dengan yang namanya EYD, majas dan sebagainya. Toh gue bisa ngebayangin kayak apa ceritanya karena gue sendiri yang nulis. Tapi semenjak gue tahu fanfiction, semua berubah..

Ya, sejak mengenal ff gue jadi mirip anak kecil yang baru dibikinin perpustakaan. Gue jadi rajin dan mulai banyak baca karya orang lain yang -menurut gue- ga kalah keren dengan karya penulis yang novelnya udah banyak berjejer di toko buku. Dan gue mulai tertarik untuk membuat ff. Dan untuk pertama kalinya pula gue merasa PD untuk memperlihatkan karya tulis gue pada publik melalui internet (fb dan blog tentunya). Ff yang gue buat ceritanya asal dan EYD-nya parah. Masih untung ada yang suka! 😀 Gue bersyukur karena dengan fanfiction gue bisa menyalurkan hobi menulis gue.

Gue memang banyak menulis ff yang isinya ga karuan. Kebanyakan genrenya humor/komedi (dengan bahasa yang memprihatinkan tentunya). Tiba-tiba aja terbesit keinginan gue untuk membuat ff non humor. Gue kepingin bikin ff yang lebih serius dan di sini lah gue mulai sadar kalo menulis itu ga semudah membalikkan telapak tangan. Menyusun kata-kata untuk membentuk kalimat yang bagus ternyata sangat sulit.

Gue sering mengalami writer’s block karena kesulitan menemukan kata-kata yang bagus dan tepat untuk menggambarkan cerita yang gue maksud. Gue berkali-kali membaca ulang ff karya gue sendiri dan menemukan masalah yang sama. Yaitu, feel yang kurang dapet dan kata-kata yang terlampau monoton. Gue sadar perbendaharaan kata gue masih benar-benar minim. Sebagai contoh, lo mungkin bisa coba baca yang ini.

Di situ kelihatan banget kalo gue ga mampu menceritakan apa yang terjadi dalam cerita itu secara spesifik sehingga feel-nya kurang dapet.

Legowo, terima nasib, mawas diri.. Mungkin itulah yang mesti gue lakukan. Mungkin gue memang sama sekali ga ada bakat jadi author. Mungkin sebaiknya gue ga usah sok bikin ff dengan bahasa ‘tinggi’ karena gue memang ga mampu. Ya udah lah.. Yang penting gue nulis ff. Masa bodo dengan tata bahasa dan sebagainya.

Tapi, sekalipun gue udah -mencoba- ga peduli lagi sama yang namanya tata bahasa, toh pada akhirnya ada aja hal yang bikin gue kembali kepingin nulis cerita yang serius. Saat nge-add salah seorang author di fb, gue nemuin sebuah page bernama “ELF Books”. Apaan nih? Setelah lihat-lihat page-nya sejenak, ternyata itu adalah sebuah penerbit. Gue baca di situ, kalau kita bisa mengirimkan naskah novel untuk diterbitkan. Memiliki sebuah novel sendiri adalah salah satu impian gue sejak sekolah. Oleh karena itu, gue mampir ke www.elfbook.com untuk mencaritahu gimana caranya supaya kita bisa mengirimkan naskah kepada mereka. Ternyata persyaratannya ga jauh beda dengan penerbit lain. Jujur, gue tertarik untuk mengirimkan naskah ke mereka.

Gue jadi semangat banget. Gue punya beberapa ide cerita yang -mudah-mudahan- bagus dan bisa diterima. Tapi setelah dipikir-pikir, apa mungkin gue bisa menulis sebuah novel? Menulis ff aja gue masih banyak kekurangan, sekarang gue mau nekat bikin novel? Ga salah? Orang bilang, cita-cita itu harus dikejar. Ya, gue harus terus belajar supaya bisa. Harus!

Yaah.. Sekeras apapun usaha gue untuk membuat novel, ternyata masih ada kendala lain. Untuk memperbaiki tata bahasa dan memperbanyak perbendaharaan kata, gue butuh Kamus Besar Bahasa Indonesa. Gue juga butuh sebuah novel untuk referensi (cara menulis, dll). Selain itu, gue juga ga punya laptop atau komputer. Gue cuma lulusan SMP dan yang dulu gue pelajari adalah Windows ’98. Mungkin kalau untuk urusan mengetik, dll caranya masih ga jauh beda sama yang dulu. Itu bisa dipelajari dengan sering-sering masuk warnet. Gue emang ga punya laptop, tapi gue bisa nulis naskahnya di buku lalu diketik ulang di warnet. Masalahnya, kalau naskahnya belum selesai, gue harus simpan file naskahnya dimana? Gue ga punya flashdisk dan gue ga mungkin pinjam punya orang.

Kendala lainnya itu orang tua gue, terutama bokap. Kalo gue beli KBBI, flashdisk, dll, mereka pasti nanya buat apa semua benda itu? Buat apa beli KBBI? Gue kan udah 24 tahun dan udah ga sekolah. Terus, buat apa juga beli flashdisk? Gue kan ga punya laptop. Gue bisa aja jujur dengan bilang kalo gue mau bikin naskah novel. Tapi apakah setelah jadi dan naskahnya gue kirim, novelnya akan benar-benar terbit? Belum tentu kan? Ortu gue sama sekali ga tahu kalau gue suka menulis. Gue takut berterusterang sama mereka karena takut apa yang gue lakukan itu dianggap sebagai hal yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu.

Terlebih lagi, semua itu perlu biaya yang -bagi orang dengan ekonomi pas-pasan kayak gue- ga sedikit. Salah satu caranya ya gue harus kerja. Tapi masalahnya, dari beberapa kali yang pernah gue alami, saat gue bekerja justru otak gue malah buntu dan ga bisa diajak berpikir untuk membuat suatu karangan. Mungkin karena capek dan kondisi kesehatan gue memang ga memungkinkan untuk kerja terlalu diforsir (biasanya gue kerja jadi buruh pabrik dengan gaji kurang dari 200 ribu per minggu dengan jam kerja bisa lebih dari 12 jam). Lantas gue mesti gimana lagi?

Kemarin, gue sempat bilang -secara ga langsung- sama nyokap kalau gue punya sebuah rencana yang -Insya Allah- bisa menghasilkan uang (tapi gue ga bilang soal bikin novel). Tapi gue ragu karena itu butuh proses panjang dan belum tentu berhasil -juga butuh banyak biaya. Nyokap nanya, rencana apa? Ragu kenapa? Tapi gue tetap ga berani bilang. Gue takut. Sumpah, gue takut. Risma -adik sepupu gue- bertanya hal yang sama ke nyokop. Nyokap gue cuma bilang, “dia ga mau ngasih tahu”. Pokoknya gue bilang ke nyokap kalo itu butuh biaya, proses yang panjang dan belum tentu berhasil. Yaah.. Seperti kebanyakan nyokap pada umumnya, nyokap gue cuma bilang kalo gue emang punya rencana, lanjutin aja. Siapa tahu berhasil.

Nyokap sedikit ngasih dorongan sih (meskipun dia ga tahu dengan rencana apa yang gue maksud). Jujur, gue senang. Mungkin memang seperti itulah kasih sayang seorang nyokap. Tapi gue masih ga yakin sama bokap dan kakak gue. Keluarga gue tuh realis. Dalam artian, ga usah sok melakukan/mengharapkan hal yang muluk-muluk kalau memang belum tentu berhasil. Dan terkadang itu sukses membuat mental gue jatuh.

Bagi siapapun yang membaca ini (terutama kalau lo adalah seorang author), gue mohon kerendahan hati lo semua untuk membantu gue belajar menulis. Tolong izinkan gue bertanya sama lo tentang kepenulisan, dll. Gue lagi benar-benar hopeless dan merasa seperti seorang pecundang. Gue kepingin mewujudkan cita-cita gue, tapi gue ga punya kekuatan dan kemampuan untuk itu. Gue harap lo semua mau membantu gue.

 

Semoga ALLAH memberikan jalan-Nya. Amin.

Iklan

2 responses to “I Wanna Be A Real Author

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s