fanfiction | THE HOMECOMING

Author : Shin Hyoseul (@ladymodrus)
Genre : Family, Friendship, sedikit Action (tapi ga yakin)
Main Cast :
– Siwon sbg Andrew
Supporting Cast :
– Kangin sbg Jordan
– Shindong sbg Matthew
– Eunhyuk sbg Spencer
– Donghae sbg Aiden
– Ryeowook sbg Nathan
– Kyuhyun sbg Marcus
Length : Oneshot
Rate : PG-17

Eeeaaaaa….. Udah lama banget nih Author kepingin ‘membawa’ Siwon dkk ke Afghanistan(?). Akhirnya terwujud juga dalam FF Comeback saya ini setelah hiatus selama beberapa waktu. Tapi mian ya, kalo FF-nya ga sesuai harapan. Hehehe… πŸ˜€

Desclimer : All cast mutlak millik Allah The Almighty, cuma FF ini yang mutlak milik Author. Share boleh, tapi COPAS TIDAK DIPERBOLEHKAN APALAGI TANPA IZIN DAN TANPA CREDIT. Don’t you ever claim it as yours!
WARNING!! Typo(s), OOC, AU, non-EYD, bahasa tidak baku, cerita tak berkualitas dan lain sebagainya.

No bashing!
Happy reading ^^

###

the homecoming ff cover by shin hyoseul

— Kandahar, Agustus 2004 —

Nathan tak henti-hentinya bernyanyi di sepanjang perjalanan kami kembali ke markas, setelah melaksanakan sebuah tugas patroli. Sebuah lagu country—yang entah siapa penyanyinya—mengalun dengan sangat merdu dari mulutnya. Suara khasnya, dan aksen Selatan yang ia miliki membaur menjadi satu dalam sebuah nyanyian apik yang membawa kami semua pada suasana yang begitu tenang—dan sedikit melupakan apa dan kenapa kami semua bisa berada di sini.

“Bisa kauhentikan nyanyianmu? Taliban bisa saja menembakkan RPG ke arah kita karena nyanyianmu itu.”

Suara merdu Nathan pun berakhir seiring dengan teguran yang dilontarkan oleh pria yang duduk di sebelah kanan kursi kemudi. Jordan, USMC dengan 6 stripe di lengan bajunya itu tampak tidak senang melihat tingkah salah satu anak buahnya—yang seharusnya mengawasi jalanan dengan senapan mesin berkaliber 50 mm yang terdapat di atas jip. Bukannya tidak suka pada nyanyian Nathan, Jordan hanya ingin mengingatkan agar kami tidak lengah, dan bahwa milisi bersenjata bisa datang dan menyerang kapan saja.

I’m so sorry, Sarge. Aku hanya ingin membuat suasana di tempat ini menjadi lebih baik.” ujar Nathan, menanggapi omelan Jordan.

“Kau ingin membuat suasana di tempat ini menjadi lebih baik? Cobalah bujuk Gedung Putih agar segera menarik kita semua keluar dari neraka ini.” Jordan mengomel lagi. Kali ini Nathan tidak melawan dan hanya mengangkat bahunya saja. Ia kembali fokus mengawasi jalan yang kami lewati.

Berbulan-bulan sudah kami semua bertugas di sini. Aku dan teman-temanku yang lain tidak bisa menolak ketika datang perintah untuk membela negara—walaupun terkadang perintah itu patut dipertanyakan. Dua tahun mengabdi di Marinir, akhirnya aku bisa mendapatkan medan pertempuranku juga. Entahlah, dulu aku selalu menginginkan pengalaman lapangan seperti ini. Namun setelah menikah dengan Scarlett—dan terlebih lagi setelah Jared lahir—segalanya berubah. Medan perang ini bukanlah lagi sesuatu yang sangat kuidam-idamkan seperti dulu. Meninggalkan keluarga adalah hal yang sangat berat bagiku, karena kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kepada kami saat sedang bertugas.

“Choi, arah jam enam!!”

Aku sontak membalikkan badan, dan mengarahkan senapan M-16 milikku ketika mendengar Marcus berteriak. Awalnya kupikir ada musuh di belakangku, tapi ternyata itu hanya ulah isengnya saja.

“Kau panik, Bung?” kekehnya puas melihatku yang memang sedikit panik akibat dari teriakannya tadi. “Kau jangan terlalu banyak melamun. Senin kemarin seorang pria Taliban tewas karena melamun saat sedang merakit bom.” kekehnya lagi, sedikit absurd.

Aku hanya bisa menghela napas. Anak ini memang senang sekali mengerjai kami. Hanya saja, terkadang ia melakukannya pada tempat dan waktu yang salah—dan sama sekali tidak tepat.

“Andrew baru saja menjadi seorang ayah. Wajar kalau dia melamun dan memikirkan putranya.” bela Matthew yang berada di balik kemudi, tengah mengendarai jip. Kurasa Matthew juga mengerti perasaanku karena ia juga seorang ayah.

“Ya, tapi itu bukan berarti kalian boleh menjadi lengah. Jika terjadi sesuatu kepada kalian, bagaimana dengan nasib mereka? Kalian harus tetap fokus. Copy that?” sanggah Jordan sekaligus mengingatkan kami.

Yes, Sir.” sahut kami bersamaan.

Yeah… Copy that, Sir.” Matthew menyahut terakhir, dengan nada sedikit malas dan tak bersemangat.

Perjalanan kami pun berlanjut. Aku sangat bersyukur karena hari ini semuanya berjalan dengan lancar. Situasi di Kandahar belakangan ini cukup kondusif. Kami mulai jarang terlibat kontak senjata dengan milisi Taliban. Tidak seperti minggu yang lalu, sebuah bom meledak di sisi jalanan kota saat konvoi pasukan Infanteri tengah lewat. Tiga orang prajurit tewas. Salah satunya adalah Bryan, teman sekolahku sewaktu masih di SMA dulu. Mengingat kejadian itu, membuatku sedikit dihinggapi rasa takut. Bagaimana jika hal itu terjadi kepadaku?

“Shark One, this is Base. Shark One, this is Base. Come in.”

Suasana hening yang semula melingkupi kami sedikit terpecah ketika datang sebuah kontak radio dari markas.

This is Shark One. Come in, over.” Jordan menjawab panggilan itu.

“Di mana posisi kalian?” tanya seseorang di seberang sana.

“Kami sedang dalam perjalanan pulang, Sir.” jawab Jordan.

Copy that. Cepatlah, kalian pasti ingin mendengarkan beritanya secara langsung dari Kolonel. Over.”

Kami terdiam sejenak mendengar itu. Dahi Jordan sedikit mengerut, “Berita tentang apa?”

***

“Dengar, setelah semua ini berakhir, aku akan mengajak Emily pergi ke Maryland dan meminta restu dari ibuku secara langsung.”

“Kalau aku, aku akan mengajak istriku berbulan madu ke Malibu dan merencanakan Little Spencer di sana.”

“Malibu? Memangnya kau punya uang sebanyak itu? Lebih baik bermain game seharian daripada harus menghamburkan uang di Malibu.”

Perjalanan kami menjadi begitu ramai oleh ocehan dan sukacita sesaat setelah mendengar sebuah kabar gembira dari markas. Pasukan kami akan ditarik mundur dari garis depan dan digantikan oleh pasukan lain. Dua minggu lagi, kami akan segera meninggalkan Afghanistan. Itu berarti, kami bisa berkumpul kembali dengan keluarga masing-masing.

Semua orang terlihat begitu antusias menceritakan rencana mereka jika pulang nanti. Aiden yang ingin melamar kekasihnya, Spencer yang ingin mengajak istrinya berbulan madu, dan Marcus yang hanya ingin bermain game seharian di rumah trailer miliknya. Bahkan Matthew dan Jordan pun ikut tenggelam dalam sebuah perbincangan hangat tentang rencana mereka masing-masing. Sementara Nathan, ia hanya bersenandung ria menirukan suara banjo. Sudah dapat dipastikan, ia ingin kembali ke peternakan milik orangtuanya di Texas.

Tak ubahnya mereka, aku juga memiliki rencanaku sendiri. Aku ingin berkumpul kembali dengan keluargaku—istri dan anakku—di Manhattan. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Jared dan menggendongnya dalam pelukanku untuk yang pertama kalinya. Aku akan mengajaknya pergi berjalan-jalan ke Central Park, bermain dengannya hingga puas, dan entah apa lagi. Yang pasti, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya.

“Bagaimana denganmu, Drew? Apa rencanamu jika pulang nanti?” lamunan indahku menjadi buyar ketika Marcus melayangkan sebuah pertanyaan kepadaku.

“Tentu saja dia ingin bertemu dengan putranya. Bukankah begitu?” Aiden menjawab mendahuluiku—yang belum sempat berbicara. Aku hanya tersenyum kepadanya sebagai jawaban. Aku terlalu bahagia sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa.

“Kau salah. Sepertinya dia lebih ‘merindukan’ istrinya.” Spencer mengeluarkan sebuah opini nakal seraya menyeringai lebar ke arahku.

“Aku rasa begitu. Mungkin juga dia sudah memiliki rencana untuk memberikan Jared seorang adik baru. Bukan begitu, Sarge?” kini Matthew yang berbicara, sekaligus meminta pendapat langsung dari Jordan.

Jordan hanya tersenyum geli tanpa menoleh sedikit pun, “Yup.” jawabnya singkat. Astaga, mereka sukses membuatku jadi salah tingkah.

Come on, Guys. Istriku baru saja melahirkan. Jangan berpikiran yang bukan-bukan.” bantahku yang berusaha menahan rasa maluku. Namun di sisi lain, aku juga tidak bisa menahan diri untuk terus tersenyum, dan semua itu membuat mereka semakin gencar menggodaku.

“Hei, lihat. Wajah Andrew memerah! Hahaha…” seru Marcus yang dengan sangat usilnya menunjuk ke arah wajahku. Mereka semua jadi tertawa melihatku yang tidak bisa menyembunyikan rasa malu—sekaligus rasa bahagiaku.

Ini adalah perasaan paling menyenangkan yang pernah aku rasakan selama masa tugas di Afghanistan. Kami semua tertawa dan bersenda gurau. Bahkan terik matahari dan panasnya gurun yang begitu membakar pun tidak mampu menghalangi rasa bahagia yang tengah kami rasakan.

Hingga kemudian, aku mendengar Nathan berteriak, “IED!!!

DHUAAARRR…………..!!!!!!!!!

Terdengar suara ledakan yang cukup keras dari arah depan. Jip kami langsung terpental dan berguling. Aku terpelanting membentur jalanan yang panas dan berdebu. Serpihan-serpihan logam melontar ke segala penjuru dan berserakan dimana-mana. Dapat kudengar pula suara seorang pria mengerang kesakitan, tetapi aku tidak tahu itu suara siapa.

“Aaaarrgghhh………”

BRUKK!!!

Sesuatu menimpa setengah dari tubuhku dengan keras, sesuatu yang sangat berat. Rasa sakit dengan cepatnya menjalar dan menyiksa seluruh tubuhku. Dadaku terasa sesak, seperti dihimpit oleh dua bongkah batu besar. Aku sampai harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik napas.

“A~aarrghh…”

Aku menoleh perlahan, dan kulihat di sebelah kiriku, ada seorang pria berseragam Marinir tengah terkapar bersimbah darah dengan setengah dari wajahnya tampak hancur, “Nat… Nathan…?”

Nathan tak bergerak. Pupil matanya tampak membesar. Mungkin ia sudah mati.

Saarge…?” dengan napas tercekat, aku mencoba mencaritahu di mana keberadaan Jordan dan teman-temanku yang lain. Namun aku tidak dapat bergerak karena sesuatu yang menimpa tubuhku. Jip itu… Jip itu menimpa tubuhku!

“To~tolong aku…” aku berusaha meminta bantuan dengan sisa tenaga yang kumiliki. Kuharap ada seseorang yang bisa mendengarku, tapi ternyata aku salah. Di sini begitu sepi, bahkan suara pria yang tadi mengerang kesakitan sudah tak terdengar lagi.

Yala! Yala!” sayup-sayup kudengar suara seseorang, berbicara dalam bahasa Arab dan dibarengi oleh suara derap langkah yang lumayan cepat. Tampak ada seorang pria dengan sorban merah menutupi wajahnya datang menghampiri dan kemudian berjongkok di dekatku.

Ia menyentuh satu titik di leherku untuk beberapa saat, kemudian melepaskannya. Ia juga membuka rompi anti peluru yang kukenakan, melucuti persenjataan yang kumiliki, mengeluarkan semua amunisinya dan mengambil selembar foto yang ditemukannya dari dalam saku rompiku. Itu foto keluargaku.

Dan dapat kulihat pula, ada seorang lagi—yang kepala dan sebagian wajahnya tertutup kain hitam—tengah berdiri, menatapku tajam dengan kedua tangannya menyandang sebuah senapan AK-47. Ia mengarahkan senapan itu kepadaku dan hendak menembak, namun pria yang—sepertinya—sedang memeriksaku dengan cepat mencegah tindakannya. Sebuah perdebatan kecil pun terjadi.

Entah apa yang tengah mereka perdebatkan—aku tidak mengerti—namun dapat kusimpulkan, pria dengan sorban merah itu tidak mengizinkan temannya untuk membunuhku. Ia berkali-kali menunjuk ke arahku dan mencoba meyakinkan pria dengan penutup kepala berwarna hitam itu. Dan beberapa saat kemudian, pria berpenutup kepala hitam itu menyerah, ia tampak kesal lalu melangkah pergi meninggalkan tempat ini.

Pria dengan sorban merah itu kembali berjongkok di dekatku. Ia menyelipkan kembali foto keluargaku yang sempat diambilnya ke dalam saku rompi yang masih kukenakan. Dengan tenang—dan suara yang begitu lembut—pria itu berkata kepadaku, “May Allah forgives you.”

Ia berdiri, menatapku sejenak. Kemudian, ia pergi meninggalkanku.

Aku diam tak bergerak. Aku sudah tak bisa merasakan tubuhku lagi. Matahari yang bersinar di atasku begitu menyilaukan mata. Dan yang dapat kulihat hanyalah birunya langit yang bercampur dengan asap hitam pekat. Lalu secara samar-samar, kulihat pula bayangan wajah Scarlett tengah tersenyum dengan Jared berada dalam pelukannya. Bayangan itu berlalu-lalang, bermain-main di ruang mataku.

Apakah aku sudah pulang..?

Dan kemudian, hanya dalam sekejap, segalanya berubah menjadi begitu hening… dan gelap.

~ THE END ~

ket :
USMC = United States Marine Corps/Korps Marinir Amerika Serikat.
Sarge = Sergeant/sersan.
RPG = Ruchnoy Protivotankovy Granatomyot/granat berpeluncur roket.
IED = Improvised Explosive Device/sejenis bom rakitan.

Iklan

20 responses to “fanfiction | THE HOMECOMING

  1. unn, klo unni engga kasih keterangan di akhir ffnya, aq mungkin dah nangis. aq engga ngerti dgn istilahmu ituh, unn… /maafkn aq yg payah ini, unn/

    dan maksdnya kyu dgn ‘arah jam enam’ itu apa, unn? knp wonppa langsg balik bdan?

    tapi aq sk ffnya loh, unn. untung aq engga telat bacanya. ganyesel pgi2 begini mampir ke blog unni πŸ™‚

    Suka

    • hahaha…. mian yaa kalo bikin bingung xD

      arah jam enam itu maksudnya tepat di arah belakang. kalo tepat di arah depan pake istilah arah jam 12, sebelah kanan arah jam 3 dan sebelah kiri arah jam 9. itu istilah umum yang digunakan oleh militer (terutama us army) untuk menunjukkan arah ^^

      waaahh…. makasih ya udah sempetin baca. saya senang kalo kamu suka ^^

      Suka

  2. aigooo…. andrew mati ya, thor? omona~ kok tega sih thor bikin oppaku tragis begitu nasibnya?? 😦

    ceritanya agak kecepetan saat menjelang akhir, tapi overall bagus kok. dan kupikir tadinya rpg itu singkatan dari roleplaying games, ga taunya bahasa perancis ya? hehe

    oiya, di sini kok ga ada ff sugen? padahal kan bagus kalau ada yoonwon, seokyu atau haesica. lain kali buat ff sugen ya, thor.. ^^

    Suka

    • iya, emang lagi kepingin nyiksa(?) siwon. wkwkwkwk….

      ho’oh nih, authornya masih belajar soalnya. jadi ma’af kalo masih banyak kekurangan ^^

      wah… kebetulan saya bukan sugen shipper, jadi agak susah dapetin idenya. tapi snsd suka jadi bintang tamu(?) di beberapa ff di sini. coba aja dicek ^^ makasih ya udah mampir dan ngasih masukan πŸ™‚

      Suka

  3. Maaf untuk agasshi yang bernama nam yoomi diatas, sepertinya yang kamu maksudkan itu bukan bahasa prancis, tapi rusia. Hahahhah… πŸ˜€

    Kaka, saya suka dengan settingnya. Jarang saya menemukan ff sj dengan setting afghanistan seperti ini ^^ keep writing!

    Suka

  4. Kak T-T ini apa? kenapa keren sekali? seperti nonton film, aku kebawa suasana. Trus bahasanya enak banget! Pengetahuan kakak tentang militer itu banyak ya T-T suka-suka! Andrew-nya kasian T-T dia mati huaaaa…
    Ini keren, daebak, jjang, awesome, fantastic T-T

    Suka

  5. aku sempat baca beberapa ff kamu sebelum ini, thor. dan sepertinya tidak sia-sia kamu hiatus karena sekarang ff-mu jauh lebih baik dibandingkan yang sebelumnya. asah terus kemapuan menulismu. kamu pasti bisa, thor. hwaiting! πŸ™‚

    Suka

  6. Semalam aku mau baca yg ini tapi aku ngantuk & bru baca skrang. duh thor … aku ngga bisa bayangin wonppa mati dngan cara spt itu T-T sepertinya kamu itu military lovers ya thor? banyk post berbau militer disini. hehe, tapi keren kok ^.^

    Suka

  7. Hai ^^
    Ini ff-mu yg pertama aku baca dan aku suka banget (οΎ‰Β΄ο½°`)οΎ‰
    kebetulan aku juga suka sesuatu yg bergenre perang dan sejenisnya. Jadi seperti menemukan harta karun di tengah padang rumput.

    Suka

  8. Kayaknya aku baru pertama kalinya baca ff Kakak yang genre perang-perangan.
    Suka banget! Diihh, pinter kakak bikinnya, tapi itu kenapa Siwon mati? Tega banget. 😦

    Sedih deh kalo aku jadi istrinya *eh*

    Pengetahuan Kakak tentang militer banyak banget. Kebalikan sama aku, aku kurang suka nonton film perang-perang gitu, jadi rada gak ngerti bikin ff beginian. Lumayan deh, ff ini nambah ilmu juga ^^

    Keep writing, Kak πŸ˜‰

    Disukai oleh 1 orang

    • aku emang suka ama yang perang2an tapi ya sebenarnya ga ngerti2 bgt sih… hehehe… πŸ˜€ emang sekali2 bikin yg rada tega buat siwon, bosen liat dia jadi ceo mulu wkwkwk…. πŸ˜€ keep writing jg buat kamu! seneng bgt kalo kamu suka ffnya. makasih yaa… ^^

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s