fanfiction | FREAKS: Breakaway

Author : Lady Modrus.
Genre : Friendship, Comedy, Fantasy, Romance.
Cast :
– Lee Donghae.
– Cho Kyuhyun.
– Choi Siwon.
– Shin Hyoseul (OC).
Length : Oneshoot.
Rate : T, PG-13.
Cover : ICFF.

Sebenarnya Author nulis FF ini untuk menghibur teman-teman yang mungkin lagi down. Mudah-mudahan sih terhibur… ^^

Desclimer : All cast mutlak milik Allah The Almighty, cuma FF ini yang mutlak milik Author. DILARANG COPAS TANPA IZIN APALAGI TANPA CREDIT. Don’t you ever claim it as yours!
WARNING!! Typo(s), OOC, non-EYD, bahasa tidak baku, cerita tidak menarik dan lain sebagainya. If you don’t like this fict, don’t read this.

No bashing!
Happy reading ^^

###

freaks breakaway ff cover

“Don’t you ever wish you were someone else
You were meant to be the way you are exactly
Don’t you ever say you don’t like the way you are
When you learn to love yourself, you better off by far…”

— Joey McIntyre —

 

Namaku Lee Donghae. Aku adalah seorang siswa yang beruntung dapat bersekolah di sebuah SMA ternama di Seoul atas bantuan beasiswa. Tapi—tunggu sebentar—apakah tadi kubilang ‘beruntung’? Untuk beasiswa itu mungkin ya, tapi untuk selebihnya? Kurasa tidak.

 

Menjadi salah satu siswa pintar di sekolah bukan berarti aku populer dan dikagumi oleh banyak orang. Ah, tetapi tidak juga. Sebenarnya aku cukup populer. Untuk seukuran siswa yang sangat sering di-bully oleh siswa lainnya, aku memang populer. Bahkan sangat populer.

 

Aku tidak tahu hal apa yang menyebabkan mereka tidak menyukaiku dan kerap berperilaku kasar terhadapku. Apakah karena aku ini hanya seorang anak nelayan miskin? Atau karena derajatku tidak setinggi mereka? Apakah itu yang membuat mereka menjauhiku?

 

Selama ini aku selalu bersikap ramah kepada siapa pun. Aku mencoba membaur dengan mereka melalui berbagai cara. Salah satunya dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler kesenian.

 

Aku mengajukankan diri untuk bergabung dengan paduan suara dan tim dance sekolah. Namun hasilnya nihil. Mereka tidak mau menerimaku.

 

Aku tidak diterima di paduan suara karena menurut mereka aksen Mokpo-ku terlalu kental saat sedang bernyanyi sehingga membuat suaraku terdengar sedikit aneh. Sedangkan tim dance menolakku dengan alasan yang sangat diskriminatif; aku terlalu pendek untuk menjadi seorang dancer.

 

Terkadang, aku merasa iri kepada Siwon. Dia adalah salah satu siswa yang paling populer di sekolah. Dia tidak hanya tinggi dan tampan, tetapi juga sangat kaya dan berprestasi di cabang olahraga Taekwondo. Atau juga Cho Kyuhyun yang suaranya sangat merdu saat bernyanyi dan menyandang predikat sebagai juara Olimpiade Matematika tingkat nasional.

 

Aku sangat ingin menjadi seperti mereka. Bukan ingin populer, tetapi ingin diterima menjadi bagian dari mereka, menjadi bagian dari sekolah ini. Aku ingin memiliki teman seperti bagaimana siswa lainnya. Itu saja.

 

Memikirkan semua itu terkadang membuatku merasa sangat sedih. Tidak hanya menjauhiku, beberapa siswa lainnya bahkan memerasku. Mereka memaksaku untuk mengerjakan tugas sekolah mereka atau aku akan di-bully. Hal ini yang terkadang membuatku tidak tahan. Patuh tidak patuh, aku tetap saja di-bully.

 

Bahkan Hyukjae—salah seorang siswa yang bernasib sama sepertiku—sampai memutuskan untuk pindah ke sekolah lain. Terkadang, hal seperti itu juga sering datang dan mengganggu pikiranku. Apakah lebih baik aku pindah sekolah saja? Sayangnya, aku sadar aku tidak akan mungkin meninggalkan sekolah ini. Aku telah berusaha sekuat tenaga agar bisa mendapatkan beasiswa dan bersekolah di sini. Jika aku pergi, semua kerja kerasku selama ini akan sia-sia dan aku akan mengecewakan kedua orangtuaku—dan menambah beban hidup mereka.

 

Arrgh…!! Hidup ini memang tidak adil!

 

“Kau sudah melamun di tempat ini selama berjam-jam, Lee Donghae. Dasar orang aneh.”

 

Sebuah suara membuyarkan lamunanku yang memang sudah berlangsung cukup lama ini, suara seorang gadis.

 

Aku menoleh dan mendapati Hyoseul sudah duduk di sebelah kiriku dengan memamerkan wajah bosannya. Ah, gadis ini… Beraninya dia menyebutku sebagai orang aneh. Padahal kenyataannya, dia jauh lebih aneh dariku.

 

Shin Hyoseul adalah seorang siswi tahun pertama di sekolah ini. Sebenarnya dia gadis yang cukup manis, hanya saja, perilakunya sedikit berbeda jika dibandingkan dengan sebagian besar gadis lain di sini.

 

Sebagai siswa perempuan, Hyoseul bisa dibilang cukup sering terlibat perkelahian dengan murid laki-laki. Aku tidak sedang membicarakan seorang gadis yang akan mengadu kepada pacarnya apabila dia diganggu oleh seseorang. Tetapi ini tentang seorang gadis yang akan benar-benar menghajar orang yang mengganggunya dengan tangannya sendiri.

 

Dan seperti itulah Hyoseul. Terkadang dia membicarakan tentang banyak hal yang tidak masuk akal, terkesan mengada-ada dan membuatku bingung. Entah apa penyebabnya, tetapi yang pasti, Hyoseul telah membuka mataku terhadap beberapa hal yang membuatku cukup terkejut. Salah satu di antaranya adalah tentang Siwon dan Kyuhyun.

 

Dari Hyoseul, aku mengetahui bahwa Siwon dan Kyuhyun ternyata tidak se’populer’ yang aku kira sebelumnya. Semua orang yang mengaku dekat dengan mereka ternyata hanya ingin memanfaatkan kepopuleran mereka saja. Sesungguhnya, orang-orang itu sama sekali tak berniat untuk benar-benar berteman dengan mereka. Kenapa? Karena ternyata Siwon dan Kyuhyun juga orang aneh.

 

Cho Kyuhyun, dia memang pintar, tapi terkadang kepintarannya itu melewati batas dan lebih sering membuatnya terlihat seperti seorang jenius gila. Dia sangat senang berbicara dengan istilah-istilah aneh, istilah-istilah tingkat tinggi yang mungkin hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Lupakan soal “kontroversi hati”, “labil ekonomi” ataupun “konspirasi kemakmuran”. Kau tidak akan mengerti omongannya sepintar apapun dirimu. Dan untungnya saja, dia tidak pernah berbicara seperti itu di depanku.

 

“Masih menganggapku seperti jenius gila? Keterlaluan sekali.”

 

Suara itu—Kyuhyun? Astaga! Bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang kupikirkan? Dan bagaimana caranya anak itu bisa berada di sebelah kananku tanpa aku mengetahuinya? Kapan dia datang?

 

“Berhentilah bertanya-tanya seperti orang bodoh begitu. Lagipula aku bersyukur dengan segala ‘kegilaan’ yang aku miliki.” Kata Kyuhyun lagi.

 

Anak ini… Anak ini benar-benar bisa membaca pikiranku!

 

“Benar. Lagipula kau harus ingat satu hal, Lee Donghae; apabila di dunia ini tidak ada orang gila, maka malang nasibnya bagi mereka yang menganggap dirinya waras. Jadi pada dasarnya, kau sama gilanya dengan kami. Karena bagi mereka, kau itu aneh. Kau ingin bernyanyi dengan aksen Mokpo dan menari dengan tinggi badanmu yang tak seberapa itu? Kau sudah gila yaa? Hahaha…” Hyoseul terbahak-bahak setelah mengutarakan pendapatnya.

 

Kyuhyun hanya mengangguk menanggapi omongan Hyoseul yang absurd namun ada benarnya juga.

 

Sekarang sudah mengerti dengan apa yang kumaksud kan? Mereka ini aneh. Aku juga aneh sih, tapi mereka jauh lebih aneh dariku. Ya Tuhan… Kami adalah sekumpulan orang-orang aneh. (“==)

 

“Oh, ya. Mana Siwon? Kenapa sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya?” Kyuhyun menanyakan di mana keberadaan Siwon. Ia tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar.

 

“Entahlah,” jawabku jujur, “aku juga belum melihatnya semenjak tadi pagi.”

 

“Jangan bicarakan Siwon, itu membuatku galau,” rajuk Hyoseul yang tiba-tiba saja memeluk erat lengan kiriku dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Ia merengek-rengek menyebut nama Siwon, “Owhh… Siwon Sunbae…”

 

“Yak! Apa yang kaulakukan? Lepas! Lepaskan aku!” Pintaku panik ketika Hyoseul semakin erat bergelayutan di lenganku.

 

PLETAKK!!!

 

Kyuhyun melayangkan sebuah jitakan sadis ke kepala Hyoseul dan sukses membuatnya kesakitan dan melepaskan lenganku. “Siwon tidak akan melirikmu jika kelakuanmu seperti itu. Dasar bodoh!” Omel Kyuhyun.

 

Hyoseul—yang tengah mengusap-usap kepalanya yang sakit—mengerucutkan bibirnya, “Kau yang bodoh!” Timpalnya, membalas perkataan Kyuhyun. Gadis ini memang sangat menyukai Siwon. Hanya saja dia belum mendapatkan respon apapun dari pemuda pujaannya itu. Kasihan sekali.

 

Tidak mengherankan memang, Siwon itu sangat tampan. Wajar jika banyak gadis yang mendekatinya. Setidaknya, untuk membuat mantan-mantan pacar mereka cemburu dan memberikan kesan bahwa seorang Choi Siwon saja bisa tertarik pada mereka.

 

Yaah, trik lama untuk membuat seorang mantan pacar menyesal telah memutuskan hubungan dengan gadisnya. Dan memang itulah yang terjadi sebenarnya. Mereka memanfaatkan Siwon hanya untuk membuat cemburu mantan-mantan pacar mereka. Apakah mereka benar-benar menyukai Siwon? Tentu saja tidak.

 

Mungkin awalnya mereka memang menyukai Siwon, tetapi setelah melihat hobi ceramah Siwon yang bisa dibilang sudah melampaui batas, mereka akan memilih untuk menyingkir dan menjauh darinya.

 

“Percuma saja mendekati Choi Siwon, dia itu bukan tipe pria yang ingin menikah dan berumah tangga. Sepertinya dia lebih memilih untuk menjadi seorang pendeta daripada mencintai seorang wanita.”

 

Seperti itulah pergunjingan yang kudengar di sekitarku; Siwon tidak ingin menikah, dia lebih menginginkan untuk menjadi seorang pendeta, perjaka seumur hidup. Hahaha… Shin Hyoseul, malang sekali nasibmu. Sepertinya cintamu bertepuk sebelah tangan. Tidak ada gunanya mencintai seorang Choi Siwon. Dia hanya akan jadi perjaka tua.

 

“Aku rasa berprasangka buruk terhadap seseorang itu jauh lebih tidak berguna daripada mencintai seseorang secara diam-diam.”

 

“HWAAAAAA………!!!!!!”

 

GUBRAKK!!!

 

Aku langsung jatuh terjungkal ke belakang karena terkejut melihat Siwon yang tiba-tiba saja muncul tepat di depan wajahku. Aku bahkan tidak tahu dia datang dari mana.

 

“Melamun berjam-jam meratapi nasib di atas atap sekolah seperti ini membuatmu terlihat sangat TI-DAK BER-GU-NA. Mengeluh dan meratapi nasib itu tidak akan mengubah apapun. Kau seharusnya bersyukur Tuhan telah memberimu mukjizat yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Tuhan itu baik. Ingat itu.” Siwon memulai ceramahnya dengan sangat tenang sementara aku meringis kesakitan.

 

“Lee Donghae, kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun kepadaku. Dia dan Hyoseul melihat ke arahku dengan tatapan sedikit cemas namun terkesan kau-bisa-bangun-sendiri-kan?

 

“Aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir,” kataku, mencoba bangun dan kembali duduk di atas pembatas gedung.

 

Menyebalkan memang, tetapi setidaknya Siwon telah mengingatkan di mana keberadaanku sekarang. Aku sedang berada di atap gedung sekolah. Ya, meratapi nasib seperti orang yang tidak berguna, persis seperti apa yang Siwon katakan.

 

“Untung saja kau jatuh ke belakang. Kalau tidak, kau bisa mati.” Kata Hyoseul yang sepertinya sedikit mengeluhkan kemunculan Siwon yang secara tiba-tiba sehingga membuatku terkejut kemudian jatuh terjungkal.

 

“Kau ini bicara apa? Dia ini tidak akan bisa mati. Sama seperti kau, aku dan Siwon.” Ujar Kyuhyun menyangkal kata-kata Hyoseul tadi.

 

Siwon tersenyum, bersedekap santai seraya mengepakkan sepasang benda berbulu putih yang terdapat di punggungnya.

 

Sayap. Itu sepasang sayap.

 

Baiklah, ini memang terdengar gila. Bahkan diriku sendiri sempat tak mempercayainya. Namun ketika pada suatu hari Hyoseul—yang sebelumnya tak pernah mengenalku secara pribadi—datang kepadaku dan mengatakan bahwa sebenarnya aku ini ‘istimewa’, aku tahu hidupku akan berubah—meskipun di sisi lain hal itu juga membuatku bertanya-tanya tentang dari mana diriku berasal dan siapa orangtuaku yang sesungguhnya. Hyoseul mengatakan bahwa aku bukanlah manusia biasa. Aku adalah makhluk Tuhan yang diciptakan berbeda dengan ciptaan-Nya yang lain. Sulit diterima dengan akal sehat memang, tapi inilah kenyataannya.

 

“Masih ingin mengeluh? Mengutuk diri sendiri seperti orang bodoh seperti tadi?” tanya Siwon yang masih melayang-layang di depanku dengan kedua sayapnya. “Kau tidak aneh, Lee Donghae, kau ini hanya memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Seperti apapun dirimu, kau harus menerimanya. Kau harus bisa mencintai dirimu sendiri dan bukan malah membencinya. Kau tidak perlu iri melihat kehebatan mereka, karena dengan menjalani hidup dengan baik seperti ini saja sudah membuat dirimu terlihat jauh lebih hebat dari mereka.” Kata Siwon lagi, masih dengan senyuman yang seolah enggan pergi dari wajahnya.

 

“Kau tidak seburuk yang mereka—atau bahkan dirimu—kira, Lee Donghae. Tidak perlu berkecil hati.” Kyuhyun menambahkan.

 

“Dan kau juga tidak sendirian. Ada kami di sini. Sekarang kita semua teman kan?” Hyoseul tersenyum manis, menunjukkan rasa pedulinya kepadaku, sama seperti 2 orang temannya yang lain—Siwon dan Kyuhyun.

 

Setelah sekian lama, baru kali ini aku merasa begitu bahagia, merasa begitu diterima. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bersyukur dilahirkan aneh seperti ini—dan bersyukur bahwa tidak hanya diriku saja yang terlahir seperti ini.

 

Bertahun-tahun lamanya aku merasa seperti orang yang dikutuk dan membuatku beranggapan bahwa kutukan inilah yang telah menjadikanku aneh dan tidak diterima di manapun. Tetapi sekarang, aku memiliki tempat untuk berbagi. Aku memiliki teman-teman yang dapat kuandalkan, teman-teman yang mau menerimaku, teman-teman populerku. Mungkinkah setelah ini aku juga akan menjadi populer sama seperti mereka?

 

“Jangan berharap,” Kyuhyun menatapku tajam, “kau tidak akan bisa melampaui kepopuleran seorang Cho Kyuhyun. Jadi jangan coba-coba berharap, Lee Donghae.” Sambungnya lagi, menegaskan tatapan tajamnya ke arahku.

 

Baiklah, anak ini mulai terlihat menyeramkan.

 

PLETAK!!!

 

“Aww!!” Kyuhyun mengeluh kesakitan setelah Siwon memberinya sebuah jitakan ke atas kepalanya. “Choi Siwon, kenapa kau memukulku??” protes Kyuhyun yang merasa tak terima atas perbuatan Siwon terhadapnya.

 

“Jangan sombong. Semua kelebihan yang kaumiliki tidak akan ada gunanya jika hanya untuk menyombongkan diri. Seharusnya kau memanfaatkan kelebihanmu itu untuk membantu orang lain. Aku rasa itu akan jauh lebih ber—”

 

“Ya, ya, ya, Choi Siwon. Aku tahu. A-KU TA-HU. Kau tidak perlu melanjutkan khotbahmu lagi.” Kyuhyun segera memotong ceramah Siwon dengan nada terkesan tak suka.

 

Sepertinya aku mulai setuju dengan pendapat orang-orang itu, bahwa mendengarkan ocehan Siwon terlalu lama bisa membuat gendang telinga siapa saja menjadi pecah berkeping-keping.

 

“Kau tidak perlu khawatir, Lee Donghae. Aku yakin kau akan jauh lebih populer daripada Kyuhyun.” Hyoseul memberiku semangat, sedikit memihakku sepertinya.

 

Dapat kulihat Kyuhyun sangat tidak menyukai ucapan Hyoseul tadi. Dengan tegas, Kyuhyun memberi gadis itu sebuah peringatan, “Kau jangan bicara sembarangan, Shin Hyoseul. Lihat saja nanti, siapa yang akan jauh lebih populer?”

 

“Kau ini kenapa? Aku hanya ingin menyemangatinya. Memangnya itu salah? Jangan-jangan kau takut tersaingi.”

 

“Enak saja. Aku tidak pernah merasa takut tersaingi oleh siapa pun. Dasar orang aneh!”

 

“Yak! Apa kaubilang tadi? Orang aneh?? Dasar kau—”

 

“Sudahlah! Bukankah kita semua ini memang aneh?” Siwon menyudahi perdebatan tak penting di antara Hyoseul dan Kyuhyun. “Jika ada salah satu di antara kalian yang menjadi siswa paling populer di sekolah ini, aku tidak harus berkata WOW kan?”

 

GUBRAKK!!!

 

Ya Tuhan… Lebih baik Kau bunuh saja aku… TT___TT

 

“Ah, sudahlah! Aku lelah dengan semua ini. Daripada terus-terusan mengoceh tidak jelas, bagaimana kalau kita balapan saja?” Hyoseul yang sudah mulai merasa tidak nyaman lagi dengan suasana di sini memberikan sebuah usul. Dia menantang kami untuk balapan. Tapi balapan apa?

 

“Aku setuju. Kita balapan saja.” Sahut Kyuhyun dengan penuh semangat. Ini sangat berbeda dengan dirinya beberapa saat yang lalu. Bukankah tadi dia baru saja terlibat perdebatan sengit dengan Hyoseul? Kenapa sekarang malah sebaliknya? Dasar… (“-___-)

 

Hyoseul tampak senang mendengar antusiasme Kyuhyun. Dan tentu saja, dia ingin ada orang lain yang bersedia untuk ikut serta dalam balapan itu. “Su—sunbae mau ikut?” Hyoseul meminta kesediaan dari Siwon. Dia terlihat sedikit gugup, bahkan hampir tak berani menatap wajah Siwon yang memang memancarkan ketampanan yang tidak biasa.

 

Ah, andai saja aku setampan itu.

 

“Ba—bagaimana, Sunbae?” tanya Hyoseul lagi.

 

Kyuhyun memutar kedua bola matanya ketika menyaksikan kegugupan Hyoseul. Aku yakin dia tidak suka mendengar Siwon dipanggil dengan sebutan “Sunbae” sementara aku dan dirinya tidak. Padahal, kami bertiga satu angkatan.

 

Siwon menoleh sedikit ke arah Hyoseul yang—aku yakin—sedang merasakan debaran yang begitu keras di dadanya. Ia tersenyum ringan, kemudian mengiyakan permintaan gadis itu, “Tentu saja,” jawabnya, “bagaimana kalau kita balapan bersama?” tanya Siwon, dibarengi dengan ujung sayap kanannya menyentuh lembut pipi kiri Hyoseul yang sudah merona semenjak tadi.

 

Hyoseul terpaku, seperti terpenjara oleh tatapan mata Siwon. Ia meremas lengan bajuku erat, tangannya sedikit bergetar.

 

Tidak lama kemudian, aku merasakan ada sebuah hembusan angin kecil di dekatku. Dan ketika menoleh, aku mendapati sepasang sayap putih—yang keluar dari punggung Hyoseul—tengah mengepak-ngepak liar mengekspresikan rasa bahagia yang sedang dirasakan oleh gadis itu.

 

“KYAAAAAAAAAA…………………….!!!!!!!!!!!!!!”

 

Hyoseul melesat dengan begitu cepat menuju angkasa. Hanya dengan sekejap mata saja, dirinya sudah menghilang, meninggalkan bulu-bulunya yang beterbangan di sekitar kami.

 

“Yak! Hentikan itu, Bodoh!” Teriak Kyuhyun ketika melihat gadis itu meliuk-liuk lincah di langit, membelah cakrawala dengan kecepatan yang luar biasa, seperti sebuah peluru kendali yang tengah mengejar sebuah jet tempur. “Lebih baik kuhentikan dia sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”

 

Kyuhyun berdiri di atas pembatas, melemparkan pandangannya sejenak ke arah langit biru. Lebih tepatnya, ke arah Hyoseul yang masih meluapkan rasa senangnya dengan bermanuver di angkasa, menembus gumpalan-gumpalan awan putih, seputih kapas.

 

Sementara Kyuhyun membidik ‘target’, sepasang sayap keluar dari punggungnya, membentang lebar di dekatku.

 

Aku terpana melihatnya.

 

“Bersiaplah, Cho Kyuhyun akan segera datang!”

 

Dengan secepat kilat, Kyuhyun melesat menuju birunya mega, mengejar Hyoseul yang segera menambah kecepatannya begitu tahu Kyuhyun tengah membuntutinya.

 

Aku tidak mampu berkata-kata. Bagiku, ini adalah sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Melihat mereka saling mengejar satu sama lain hingga ke ujung langit seperti menyadarkanku bahwa terlahir aneh seperti ini memang memiliki sisi lain yang menyenangkan.

 

“Mereka sudah memulai balapannya. Kau mau ikut?”

 

Aku menoleh ketika mendengar pertanyaan Siwon. Karena terlalu asik menyaksikan Hyoseul yang sedang dikejar Kyuhyun, aku sampai tak menyadari bahwa dia masih melayang di depanku dengan kedua sayapnya.

 

Aku tahu diriku juga ingin terbang dan bermain-main seperti mereka. Hanya saja, aku tidak tahu apakah benar aku ini makhluk ‘istimewa’ seperti mereka? Apa benar aku juga memiliki sepasang sayap seperti mereka?

 

Siwon, Hyoseul dan Kyuhyun memiliki kemampuan lebih yang aku tidak punya. Mereka bisa membaca pikiran orang lain, sedangkan aku tidak. Jadi, apa benar aku ini ‘istimewa’?

 

“Ah, tidak. Aku di sini saja. Lagipula ini sudah sore, sebentar lagi aku harus pulang ke rumah atau aku akan dimarahi Appa.” Tolakku, mencoba menyembunyikan keinginanku yang sesungguhnya.

 

“Berhentilah bersikap seolah kau tidak tahu siapa dirimu. Jika kau tidak pernah mencobanya, bagaimana kau bisa yakin?” ujar Siwon dengan senyuman penuh kharisma. “Sudah saatnya kau mendobrak rasa rendah dirimu itu. Aku tahu kau bisa.” Siwon mulai mengepakkan sayapnya, terbang menjauh dariku dan pergi menyusul Hyoseul dan Kyuhyun.

 

Benarkah? Benarkah apa yang dikatakan Siwon tadi? Tapi bagaimana caranya agar aku bisa tahu bahwa aku ini benar-benar istimewa?

 

“Hei, orang aneh! Ayo kejar aku!!”

 

“HWAAAAAA………!!!!”

 

GUBRAK!!

 

Aku kembali terjungkal ketika dengan tanpa diduga, Kyuhyun terbang tepat di depanku dengan secepat kilat.

 

“Yak! Sembarangan!!” Teriakku, tak terima dengan perkataannya. Bagaimana bisa ada orang aneh mengatai orang aneh lainnya? Anak ini benar-benar membuatku kesal!

 

“Ayo, Lee Donghae! Kejar dia!!” Kudengar seruan Hyoseul dari kejauhan. Dia memberiku isyarat agar segera mengejar Kyuhyun dan memberi anak kurang ajar itu sebuah pelajaran.

 

Tapi bagaimana caranya?

 

Jika kau tidak pernah mencobanya, bagaimana kau bisa yakin? Aku kembali teringat kata-kata Siwon tadi; jika aku tidak pernah mencobanya, bagaimana aku bisa yakin? Ya, aku rasa Siwon ada benarnya. Aku harus mencobanya!

 

Aku bangun dan memanjat pembatas gedung, lalu berdiri di atasnya. Kucoba untuk tidak melihat ke bawah karena itu membuat kakiku sedikit gemetar. Kurentangkan kedua tanganku tanpa aku tahu apa yang harus aku lakukan agar sayap itu muncul. Aku hanya memejamkan mata dan berharap. Biarkan aku menjadi diriku yang sesungguhnya, menjadi diriku sendiri, pintaku dalam hati.

 

Beberapa saat kemudian, kurasakan berat tubuhku bertambah. Membuatku sedikit oleng dan hampir saja kehilangan keseimbangan. Dan ketika kumenoleh ke belakang, sebuah hal yang kupikir tidak akan mungkin terjadi kini telah terjadi.

 

Sayap itu… Sayap itu keluar dari punggungku!

 

Aku menyeringai lebar ke arah Kyuhyun yang tampak terkejut di atas sana. Hahaha… Awas kau! Aku akan balas dendam!

 

“Lee Donghae, ayoo….!!!” Seru Hyoseul lagi. Tangannya melambai-lambai, memintaku untuk segera terbang. Itu membuat semangatku meningkat berkali-kali lipat untuk mengejar Kyuhyun.

 

Kuhirup udara dalam-dalam dan meyakinkan hatiku bahwa aku dapat mengepakkan sepasang sayap ini.

 

Biarkan aku terbang… Aku juga ingin terbang…

 

“Yak! Kau ini lama sekali!!”

 

PLAKK!!

 

“HWAAAAAAAAAA……………..!!!!!!!!”

 

Siwon tiba-tiba saja datang dari arah belakang dan mendorong tubuhku hingga keluar tembok pembatas.

 

Aku ketakutan setengah mati karena tidak tahu bagaimana caranya agar sepasang sayap ini bisa mengepak dan membawaku terbang. Bagaimana kalau aku sampai terjatuh?

 

“Toloooong…….!!!! Tolong akuuuuu……….!!!!” Teriakku histeris saat merasakan tubuhku melewati angin menuju ke bawah dengan begitu cepat. Aku memejamkan mata, tak berani melihat tanah yang sebentar lagi akan dihantam oleh tubuhku sendiri.

 

“Aissh… Mendramatisir sekali! Buka matamu, Lee Donghae!” Suara Hyoseul terdengar di dekatku, dan seperti menyadarkan aku akan sesuatu.

 

Ya Tuhan… Apa ini? batinku.

 

Segala hal yang kutakutkan, semua kekhawatiran itu seketika sirna saat aku membuka mata. Kulihat Hyoseul dan Siwon berada di depanku tengah mengepakkan sayap mereka. Dan seketika itu pula aku menyadari bahwa diriku juga tengah mengepakkan sayap seperti mereka.

 

Astaga… Aku bisa terbang!

 

“Benar kan? Jika kau tidak pernah mencobanya, bagaimana kau bisa yakin?” Siwon mengulangi kata-kata yang diucapkannya beberapa menit yang lalu, dia terlihat senang.

 

Sementara Hyoseul, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya memamerkan ekspresi sebalnya, “Kau tidak mau berteriak lagi seperti tadi? Seperti anak perempuan saja!” Sindirnya.

 

Aku tidak peduli dengan kata-katamu, Shin Hyoseul. Aku tidak peduli. Kalau perlu, aku akan berteriak lebih keras lagi untuk meluapkan rasa bahagiaku. Seluruh beban yang bertumpu di kedua pundakku seolah pergi entah kemana. Ini bagaikan sebuah permulaan baru bagiku. Biarkan aku menikmatinya dengan bertingkah sekampungan mungkin.

 

“Aku bisa terbang! Aku bisa terbang!” Teriakku girang.

 

Seperti mimpi, aku dengan mudahnya bergerak meninggalkan Siwon dan Hyoseul menuju angkasa luas. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru, menikmati indahnya pemandangan sore dari atas sini.

 

Sinar matahari sore tak pernah terasa sehangat ini sebelumnya. Sepoian angin dan cicitan burung-burung di dahan pepohonan juga belum pernah terdengar semerdu ini. Ini indah sekali.

 

“Tuhan, apakah ini nyata…?” aku masih tak bisa mempercayai semua ini. Apa yang dikatakan oleh Hyoseul dan yang lain ternyata memang benar adanya. Aku ‘istimewa’.

 

“Tentu saja kau istimewa, Lee Donghae!”

 

Aku merunduk ke bawah dan kulihat Hyoseul tengah tersenyum manis ke arahku. Aku rasa dia tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Tanpa ada satu pun kata terucap, aku seakan mendengar Hyoseul berkata, “Kau lebih istimewa dari yang kautahu.”

 

Mungkinkah saat ini aku sudah mulai bisa membaca pikiran seseorang? Ah, ini mengagumkan…

 

Aku tahu, jawabku dalam hati. Buncahan kebahagiaan menyelimuti seluruh tubuhku dengan begitu hangat. Segalanya terasa jauh lebih baik dan lebih baik dari sebelumnya. “Ya Tuhan, apakah ini benar-benar nyata?”

 

PLETAK!!

 

Ada seseorang yang memukul kepalaku!

 

“Tentu saja ini nyata, Bodoh! Sebenarnya apa yang sedang kaulakukan di sini? Kau telah membuang waktu kita untuk balapan. Sekarang hari sudah benar-benar sore dan aku harus pulang!”

 

Cho Kyuhyun, anak itu sepertinya kesal melihatku yang hanya diam saja tanpa ada lagi hasrat untuk mengejarnya di udara.

 

“Masa bodoh!” Acuhku. Aku tersenyum kepada Kyuhyun sebelum terbang perlahan melewatinya, meninggalkan dirinya yang melayang dengan santai di bawah langit sore.

 

Lepas… Semuanya terasa lepas…

 

“Whohooooo……….!!!!!!” Sorakku, meliuk-liuk gembira di antara awan, sekaligus membuang jauh-jauh masa laluku. Aku memang tak seharusnya membenci diriku sendiri, bukan? Biarlah orang lain menganggapku aneh dan sebagainya, toh aku tidak harus seperti mereka yang berpura-pura demi menutupi kekurangan yang aku miliki, karena aku tahu, di balik kekurangan itu, aku memiliki kelebihan yang mereka tidak punya.

 

“Ah, akhirnya dia sadar juga. Syukurlah…” Suara Kyuhyun terdengar dengan jelas meskipun dia berada jauh di bawah sana, tersenyum mengawasiku bersama Siwon dan Hyoseul.

 

“Hei, kalian! Apa yang sedang kalian lakukan di sana? Ayo kita kita pulang!” Panggilku dari kejauhan.

 

Kyuhyun, Siwon dan Hyoseul melemparkan senyuman ke arahku. Perlahan tapi pasti, mereka mulai terbang mendekat dan kami kembali bergabung, terbang perlahan bersamaku menuju penghujung hari yang indah.

 

Dan aku tidak harus mengucapkan apapun kepada mereka secara lisan, bukan? Ya, karena aku tahu… Aku tahu mereka dapat mendengar apa yang hatiku ingin ucapkan…

 

Terima kasih, Teman-teman… ^^

 

 

“I spread my wings and I learn how to fly
I’ll do what it takes till I touch the sky
And I make a wish, take a chance, make a change…
And breakaway…”

— Kelly Clarkson —

 

 

 

 

THE END

FF ini terinspirasi dari lagu Joey McIntyre yang berjudul “Stay The Same” dan bagian reff dari lagu Kelly Clarkson yang berjudul “Breakaway”.

 

freaks breakaway by lady modrus

Iklan

6 responses to “fanfiction | FREAKS: Breakaway

  1. annyeong, unni.. aku reader baru. song hyera imnida, 97 line, donghae biased tapi jg suka siwon & kyu ^-^ beruntung aku nemu blog unni, suamiku semuanya ngumpul di ff ini. fufu~ *peluk haekyuwon

    ceritanya bagus, un. penuh motivasi & pesan moral ^-^ aku numpang baca ffmu yg lain ya, un. salam kenal 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s