fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-1

allthedreamsaboutyou

 

ALL THE DREAMS ABOUT YOU

Author : @ladymodrus
Genre : Romance, Friendship, Fantasy
Cast (in this part) :
Choi Siwon, Lee Hyukjae, Park Daejia (OC), Jung Taekwoon (Leo VIXX), Cha Heejoo (OC)
Length : Chaptered
Rate : PG-17
Cover by : Bbon Art

CHAPTER 1 – Stuck In A Moment

“Even though I pretend that I moved on, you’ll always be my baby.”
S Club 7 – Never Had A Dream Come True

***

— Siwon’s POV —

Warna jingga keemasan bertahta di atas kepalaku. Hangat sinar sang surya seakan merasuki tubuhku dengan nyamannya. Aku rasa ini sepadan dengan apa yang telah kulalui selama seharian ini. Setidaknya penat di kepalaku berangsur-angsur berkurang, rasa lelah itu seolah terbayarkan dengan pemandangan indah kota Seoul di sore hari ini; hari yang bisa dibilang cukup berat untuk kujalani.

Serangkaian meeting dan segala macam tugas kantor membuatku hampir gila. Dua tahun terakhir ini aku hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Bahkan aku tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri. Sangat menyebalkan bukan? Tetapi sayangnya, aku sadar segala macam tugas yang harus kukerjakan di perusahaan bukanlah bagian terburuk dari hidup yang sedang kujalani ini.

Saat jam makan siang tadi, seperti biasa, aku dan Hyukjae pergi makan siang bersama di sebuah kedai ramen kecil milik Tuan Kang—kedai itu sudah sangat familiar bagi kami karena aku dan Hyukjae memang sudah terbiasa makan di sana semenjak kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Aku dan Hyukjae memesan ramen, dan kami berdua makan dengan lahapnya. Namun beberapa saat kemudian, napsu makanku hilang. Bukan, bukan karena ramennya tidak enak atau pun karena Hyukjae membahas film dewasa yang baru ditontonnya, tetapi ini tentang hal lain.

Saat aku tengah menikmati ramen bersama Hyukjae, pandanganku tanpa sengaja beralih ke arah luar jendela, tepat ketika seorang gadis berjalan melewati depan kedai ramen tempatku dan Hyukjae makan.

Daejia. Ya, itu Park Daejia, gadis yang sudah membuat hari-hariku selama dua tahun terakhir ini terasa begitu berat. Dia berjalan di depan kedai dengan menenteng beberapa tas belanjaan. Daejia tetap terlihat sama; cantik dan anggun. Aku bisa melihat ada senyum yang merekah di wajahnya ketika dia bercengkrama dengan seorang pria di sampingnya.

Tunggu sebentar, siapa pria itu? Sepertinya aku mengenalnya.

Ah, ya! Jung Taekwoon. Pria itu adalah Jung Taekwoon, salah seorang teman kuliah kami dulu. Apa yang sedang dilakukannya bersama Daejia? Apakah sekarang mereka berpacaran?

Baiklah, Choi Siwon, kenapa kau harus bertanya-tanya seperti itu? Gadis itu bukanlah lagi milikmu. Dia bebas untuk pergi bersama pria mana pun yang disukainya; Lee Changsun, Shin Dongwoo dan sekarang Jung Taekwoon. Daejia sudah melupakanmu, kenapa kau harus peduli padanya?

Ah, sial!

***

 

“Bagaimana menurutmu? Kau ada saran?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana mungkin kau tidak punya saran untukku? Biasanya kau sangat cerewet.”

“Dengar, Choi Siwon, kau ini masih memendam perasaan kepada Daejia. Jika rasa cintamu padanya masih sangat besar, maka percuma saja aku menasehatimu. Kau pasti tidak akan mendengarkanku.”

Malam itu aku datang ke apartemen Hyukjae dan menceritakan tentang kejadian saat makan siang tadi kepadanya—berharap agar Hyukjae mau membantuku melupakan Daejia dan agar aku bisa menjalani hidupku tanpa harus lagi merasakan yang namanya patah hati. Tetapi sepertinya Hyukjae tidak begitu memedulikan permintaanku. Bahkan sepertinya dia sudah benar-benar enggan mendengarku bercerita tentang apa yang sedang kurasakan. Dia hanya fokus ke layar laptopnya dan sibuk mengetik sesuatu.

“Jadi, sekarang kau mulai tega kepadaku?” tanyaku, melihat sikap acuhnya.

“Aku harus belajar tega kepadamu,” jawabnya dengan sangat santai sambil terus mengetik.

Aku hanya bisa merebahkan diri di atas sofa, mendesah pasrah mendengar jawaban Hyukjae. Ini tidak terlalu mengherankan sebenarnya. Entah sudah berapa kali aku memintanya untuk membantuku melupakan Daejia, dan entah sudah berapa kali pula Hyukjae mengenalkanku pada teman-teman wanitanya tetapi aku masih saja tidak bisa menyingkirkan Daejia dari ingatanku. Jadi wajar kalau Hyukjae mulai enggan untuk membantuku.

Melupakan Daejia bukanlah sebuah perkara yang mudah. Kami mulai menjalin hubungan sejak kami masih duduk di bangku SMA dan berlanjut hingga ke bangku kuliah. Bahkan setelah lulus kuliah pun hubungan kami masih baik-baik saja. Sampai akhirnya hubunganku dengan Daejia mulai merenggang setelah ayahku memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan posisi CEO-nya kepadaku.

Semenjak itu, aku mulai jarang bertemu dengan Daejia karena terlalu sibuk mengurus perusahaan. Mungkin saat itu Daejia sangat ingin menghabiskan waktu denganku—makan bersama atau hanya sekedar mengobrol—tetapi aku tidak bisa melakukannya karena kelangsungan perusahaan menjadi prioritas utamaku. Dan mungkin hal itulah yang mendasari perubahan sikapnya.

Kami yang dulu selalu setuju pada satu hal yang sama tiba-tiba saja saling bersilang pendapat—mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Terlalu seringnya kami beradu argumen membuat Daejia merasa kalau aku sudah tidak bisa lagi mengerti dirinya. Baginya, aku sudah berubah. Wajar jika kemudian dia menemukan sosok seorang kekasih yang pengertian dalam diri lelaki lain. Dan saat itu, aku tidak bisa mencegahnya pergi.

“Sudahlah, Siwon-ah. Aku tahu ini sulit, tapi sampai kapan kau mau seperti ini terus?” kata Hyukjae tiba-tiba. Aku tahu sebenarnya dia juga tidak tega mengacuhkanku seperti ini. “Pasti ada satu atau dua hal dalam diri Daejia yang bisa membuatmu tidak lagi menyukainya,” sambungnya.

“Apa kau memintaku untuk mencari di mana letak kesalahan Daejia? Kau tidak ingat ya? Daejia meninggalkanku karena aku mengabaikannya,” sanggahku, menepis ucapan Hyukjae.

“Dan sekarang kau menyalahkan dirimu sendiri? Astaga, Choi Siwon!” Hyukjae berhenti mengetik. Dia menatapku kesal seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tidak cuma kau Lee Hyukjae, aku pun terkadang tidak habis pikir terhadap diriku sendiri.

Hyukjae mendengus. Dia pergi meninggalkan laptopnya dan berjalan menuju dapur, “Aku mau mengambil minuman dulu. Sepertinya kita butuh sesuatu yang bisa membuat suasana di sini menjadi sedikit lebih santai.”

Aku mengiyakan saja. Hyukjae benar, kami harus sedikit bersantai.

“Kau mau minum apa?” tanya Hyukjae dari dapur.

“Yang seperti biasa saja,” sahutku.

Terkadang aku ingin sekali menjadi seperti Hyukjae. Dia tidak pernah terlalu mempermasalahkan soal cinta. Jika Hyukjae sedang menyukai seorang wanita, dia akan dengan sangat mudahnya menyatakan apa yang sedang dirasakannya kepada wanita tersebut. Atau ketika cintanya ditolak, dia akan dengan sangat mudahnya melupakan wanita itu dan mencari wanita lain. Mungkin dia juga merasakan patah hati, tetapi tidak berlangsung lama dan berlarut-larut sepertiku. Tentu saja, itu karena yang terjadi kepada Hyukjae hanyalah sebuah penolakan biasa dari seseorang yang disukainya. Sedangkan yang terjadi kepadaku tidak sesederhana itu.

Aku ditinggalkan oleh seorang wanita yang sudah menjalin cinta denganku selama bertahun-tahun. Hubungan yang kami jalani bukanlah lagi seperti hubungan cinta remaja belasan tahun yang hanya berkutat pada kencan di bioskop atau berjalan bergandengan tangan bersama di sebuah taman. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, hubunganku dengan Daejia menjadi kian serius dan sangat intim—secara mental maupun fisik. Aku bahkan sudah berencana untuk melamarnya, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.

“Mungkin sudah saatnya kau mengambil cuti dan menikmati sedikit liburan, Siwonnie,” kata Hyukjae, yang datang dari arah dapur dengan membawa dua botol London Pride—satu untukku, dan satu lagi untuknya.

“Terimakasih,” ujarku ketika Hyukjae menyodorkan salah satu botol yang dibawanya itu kepadaku.

“Aku rasa ayahmu juga tidak akan keberatan jika kau rehat untuk sementara waktu. Kau sudah bekerja dengan sangat keras untuk perusahaan,” kata Hyukjae lagi, duduk kembali di atas sofa, di depan laptopnya, kemudian membuka tutup botol bir dalam genggamannya lalu meminum isinya sedikit.

“Ya, mungkin,” ujarku setelah meminum bir pemberian Hyukjae. “Tapi apa yang harus kulakukan selama cuti itu berlangsung? Bepergian ke luar Seoul? Atau ke luar Korea? Aku telah melakukan banyak perjalanan bersama Daejia. Kemana pun aku pergi, kenangan tentangnya pasti selalu ada,” kataku pesimis. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk lepas dari bayang-bayang Daejia.

“Bagaimana kalau ke luar angkasa saja? Mungkin kau bisa dapat kencan baru di sana.”

Hampir saja aku tersedak ketika mendengar Hyukjae berkata seperti itu. “Maksudmu dengan alien?” tanyaku tak percaya, menatap sebal ke arah Hyukjae yang sedang terkekeh geli menyaksikan keterkejutanku. Memangnya dia pikir aku manusia macam apa?

“Lalu kau mau apa lagi? Pergi wamil? Ayahmu pasti belum mau mengizinkan,” kata Hyukjae lalu mulai mengetik lagi.

“Entahlah… Sepertinya ini tidak akan berhasil,” ujarku pasrah, memijat-mijat sendiri pelipisku untuk sekedar mengurangi rasa penat di kepala.

Aku bisa mendengar helaan napas Hyukjae. Sepertinya dia juga menemui jalan buntu. Aku sudah terlalu banyak menyusahkan sahabatku yang satu ini untuk urusan cinta. Tetapi aku bersyukur Hyukjae selalu ada untukku setiap kali aku membutuhkan bantuannya. Dia adalah sababat terbaik yang pernah kumiliki.

“…tiba-tiba saja menjadi buram dan aku segera…” Hyukjae bergumam di sela-sela aktivitas mengetiknya. Kurang lebih setahun terakhir ini Hyukjae memang gemar sekali berkutat dengan laptopnya untuk mengetik sesuatu. Entah pagi, siang, malam… Yang jelas setiap kali memiliki waktu senggang, Hyukjae selalu menyempatkan diri untuk mengetik. Entah apa yang diketiknya, dia tidak pernah memberitahuku. Setidaknya, ini jauh lebih baik daripada dia menghabiskan waktu senggangnya untuk menonton film dewasa—yang sudah menjadi kebiasaannya sejak lama. Syukurlah jika dia sudah berubah.

“Lee Hyukjae,” panggilku pelan.

“Ya?” sahutnya dengan jemari yang masih asik mengetik.

“Kau sedang mengetik apa?” tanyaku penasaran.

“Bukan apa-apa,” jawabnya singkat.

Sebenarnya aku sangat ingin tahu apa yang selama ini diketiknya, tetapi Hyukjae selalu saja menolak untuk memberitahuku.

“Sepertinya aku harus ke toilet,” kataku yang kemudian beranjak dari sofa lalu pergi berjalan menuju toilet. Sesampainya aku di depan pintu toilet, aku berbalik dan melangkah kembali ke ruang tamu—dimana Hyukjae sedang larut dalam kegiatan mengetiknya—dengan langkah perlahan.

Ya, pergi ke toilet itu hanya alasanku saja sebenarnya. Aku penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Hyukjae. Kenapa dia selalu merahasiakannya? Padahal biasanya dia tidak pernah menutupi apa pun dariku.

Kudekati sofa tempat Hyukjae duduk dengan perlahan dan hati-hati—agar tidak ketahuan—dan mulai mengintip apa yang sedang dia ketik dari balik punggungnya. Perlahan tapi pasti, aku mencoba membaca setiap kata yang diketikkan oleh Hyukjae. Namun belum sempat membaca beberapa kata, mataku secara tidak sengaja terfokus pada sebuah nama yang tertera di sana; Cha Heejoo. Siapa dia? Apakah Cha Heejoo itu pacar baru Hyukjae? Kenapa dia tidak pernah cerita kalau dirinya memiliki pacar? Tapi, setahuku di antara begitu banyaknya teman wanita yang dimiliki oleh Hyukjae, tidak ada satu pun yang bernama Cha Heejoo. Atau mungkin Hyukjae sedang menulis sebuah cerita fiksi? Entahlah… Dari yang kubaca, itu memang terlihat seperti sebuah cerita fiksi.

“…dan akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa duduk berdua bersama Heejoo. Sungguh sulit untuk kupercaya. Aku sampai harus berkali-kali melakukan reality check hanya untuk memastikan kalau mimpi ini memang masih berlangsung…”

Aku mengerutkan dahi ketika membaca ketikan Hyukjae. Apa itu “Reality Check“? Dan… mimpi? Apa maksudnya? Apakah orang pertama dalam fiksi ini diceritakan sedang bermimpi? Karena penasaran, aku pun melanjutkan membaca.

“…semua berjalan sesuai dengan yang telah kurencanakan sebelumnya. Lucidity-nya sangat tinggi. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya lagi…”

Lucidity? Apa lagi itu?

“…kulingkarkan tanganku melingkupi tubuhnya. Hangat sekali rasanya. Heejoo tersenyum manis menatapku. Aku berani bersumpah, itu adalah senyuman termanis yang pernah kudapatkan seumur hidupku…”

Sepertinya ini sebuah fiksi romantis. Tidak kusangka, ternyata Hyukjae memiliki bakat menulis.

“…dan kulumat bibirnya. Aku tidak mau menundanya lagi. Segera tanganku bergerak ke…”

Hei, tunggu dulu! Kenapa ceritanya berubah jadi mesum seperti ini? Sialan!

“Ternyata selama ini kau sibuk membuat fiksi erotis, Lee Hyukjae?”

“Hei! Apa yang kau—” Hyukjae sontak menoleh ke belakang, terkejut bukan main ketika mendengar suaraku. “Astaga! Apa kau membacanya, Choi Siwon?” Hyukjae menutup laptopnya dengan panik, membuatku jadi tertawa melihatnya.

“Jadi sekarang kau sudah berhenti jadi penonton dan mulai mengarang cerita dewasa versimu sendiri? Atau jangan-jangan… itu pengalaman pribadimu ya?” tanyaku di sela-sela tawa yang tidak mampu kutahan ini.

Aku bisa melihat wajah Hyukjae memerah—antara malu dan kesal. “Ini bukan fiksi, tapi jurnal mimpi,” Hyukjae membela diri, menepis tuduhanku.

“Jurnal mimpi? Maksudmu kau bermimpi jorok dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan? Hahaha… Kau ini lucu sekali!” Aku masih belum bisa menghentikan tawaku. Konyol rasanya jika kau bermimpi lalu menulisnya. Apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan?

Hyukjae mendengus, “Asal kau tahu saja, Choi Siwon. Ini bukan mimpi biasa.”

“Tentu saja,” kataku, berjalan kembali menuju sofa tempatku duduk tadi. “Itu bukan mimpi biasa, melainkan mimpi ‘luar biasa’. Begitu maksudmu?”

“Hei, aku ini bicara serius padamu. Ini memang bukan mimpi biasa, ini mimpi sadar,” ujarnya lagi. Hyukjae kembali membuka laptopnya dan melanjutkan kegiatan mengetiknya yang sempat tertunda.

Aku terkekeh mendengarnya, “Mimpi sadar? Mimpi sambil berjalan? Hahaha…” Aku kembali tidak dapat menahan tawaku. Ini semakin konyol saja.

“Bisakah kau berhenti menertawaiku? Aku ini serius.”

Baiklah, sepertinya Hyukjae mulai kesal kepadaku. Aku segera berhenti tertawa dan sedikit menjaga sikap di hadapannya—tetapi tetap saja tampang kesalnya itu membuatku ingin tertawa. Ah, Choi Siwon… Bisakah kau menghargai temanmu ini dan mendengarkan kuliahnya tentang mimpi?

“Apakah kau pernah mendengar istilah Lucid Dream?” Hyukjae memulai dengan sebuah pertanyaan.

Aku menggeleng dengan sangat jujur. Terus terang, tadi aku berpikir kalau yang diucapkan Hyukjae adalah “Liquid Dream” dan bukannya “Lucid Dream“. Tahan dirimu, Choi Siwon. Jangan sampai tertawa lagi. “Ehem…” Aku berdeham sejenak, mencoba menetralkan suara. “Apa itu Lucid Dream?” tanyaku dengan setenang mungkin.

Lucid Dream adalah sebuah kondisi dimana kau sadar kalau dirimu sedang bermimpi,” jawab Hyukjae, memulai penjelasannya.

“Lalu?”

“Dengan tingkat kesadaran dan konsentrasi yang tinggi, kau bisa mengatur mimpimu sesuai dengan apa yang kauinginkan. Kau bisa pergi kemana pun, bertemu dengan siapa pun dan melakukan apa pun yang kauinginkan.”

Mendengar penjelasan Hyukjae membuatku mengernyit heran. Bagaimana mungkin seseorang yang sedang tertidur dapat menyadari kalau dirinya sedang bermimpi? Bukankah dia sedang berada di alam bawah sadar? Aku ingin sekali meminta penjelasan ilmiah tentang hal itu pada Hyukjae, tetapi kurasa ini bukanlah saat yang tepat untuk berdebat dengannya. Anak itu sedang jadi ‘profesor’ sekarang. “Bisakah kau memberiku sebuah contoh?”

“Misalkan kauingin menonton konser Tony Bennet, kau bisa menghadirkannya di dalam mimpimu jika kau dapat berkonsentrasi dengan baik. Kau juga bisa terbang, berjalan di atas air atau berjalan menembus tembok,” Hyukjae memberiku beberapa contoh hal yang terdengar sangat tidak masuk akal. “Bahkan kau juga bisa menghadirkan Maria Ozawa ke dalam mimpimu dan bercinta dengannya jika memang kau mau.”

“Oh, Maria Ozawa ya?” gumamku, mencoba mencerna kata-kata Hyukjae yang semakin meyakinkanku kalau dia ini sedang mengada-ada. “Bagaimana caranya?” tanyaku sedikit memancing, sekedar memastikan kalau dia tidak berbohong.

“Untuk itu aku tidak bisa memberitahumu.”

“Kenapa tidak bisa? Kau pernah mengalaminya kan?”

“Memang pernah, tapi aku tidak akan memberitahumu tentang bagaimana caranya mendapatkan mimpi sadar.”

Aku hanya bisa menghela napas. Hyukjae memang sedang mengarang cerita saja sepertinya. Mungkin dia melakukan ini karena malu aku sudah membaca isi naskah mesumnya. Mungkin juga dia mulai merasa terganggu dengan kehadiranku. “Baiklah, jika kau tidak mau memberitahuku, aku tidak akan memaksa,” aku bangkit dari sofa dan sedikit meregangkan persendian. “Lagipula, aku tidak tertarik pada Maria Ozawa.”

Hyukjae menyeringai senang.

“Sebaiknya aku pulang saja dan beristirahat, besok ada meeting,” ujarku lagi, berjalan ke arah pintu apartemennya.

“Ya, beristirahatlah sana. Dan jangan terlalu banyak memikirkan Daejia.”

Aku hanya berlalu sambil melambaikan tangan saja, tidak menoleh sama sekali lalu pergi meninggalkan apartemen Hyukjae.

***

— Author’s POV —

“I never thought you were a fool
But Darling, look at you, oh…
You gotta stand up straight, carry your own weight
Cause tears are going nowhere, Baby…”

“You’ve got to get yourself together
You’ve got stuck in a moment
And now you can’t get out of it
Don’t say that later will be better
Now you’re stuck in a moment
And you can’t get out of it.”

Alunan lagu Stuck In A Moment yang dibawakan oleh band U2 seperti mengolok-olok Siwon di sepanjang perjalanan pulang menuju ke apartemennya. Entah kenapa ia merasa seakan Daejia sedang berkata seperti itu kepadanya; memintanya untuk bangkit dan melupakan semua kenangan yang pernah mereka lewati bersama. Tapi apakah mungkin bisa semudah itu? Siwon telah melakukan segala macam cara untuk melupakan Daejia. Sayangnya, Siwon menyadari bahwa selama ini ia telah membohongi dirinya sendiri. Semakin Siwon ingin melenyapkan Daejia dari ingatannya, maka semakin besar pula keinginan Siwon untuk kembali bersama dengan wanita yang dulu pernah—dan sekarang pun masih—dicintainya.

Dan sekarang, keadaan bertambah sulit karena Hyukjae mulai enggan untuk membantunya—tentu saja ini karena segala usaha yang Hyukjae lakukan tidak ada yang berhasil untuk membantu Siwon. Hyukjae sepertinya lebih memilih untuk mengurus jurnal mesumnya tentang mimpi sadar; sesuatu yang menurut Siwon terdengar sangat tidak masuk akal. Apa mungkin segala yang Hyukjae tuangkan ke dalam jurnalnya memang benar-benar bisa dilakukan? Benarkah seseorang bisa mengendalikan alam bawah sadarnya sendiri lalu melakukan apa pun yang diinginkannya? Jika menghadirkan sosok seorang Maria Ozawa dan bercinta dengannya saja bisa, lantas bagaimana jika menghadirkan seseorang yang dirindukan dan berbicara kepadanya? Seperti menghadirkan Daejia ke dalam mimpi dan mengatakan bahwa Siwon masih mencintainya dan sangat merindukannya, apakah itu bisa? Tapi bagaimana caranya?

Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Kenapa dirinya bisa berpikiran irasional seperti itu? “Choi Siwon, kau tidak boleh jatuh lebih dalam lagi!” Ujarnya, mencoba menasehati dirinya sendiri. Dengan segala upaya untuk melupakan Daejia, akhirnya Siwon melanjutkan perjalanannya kembali menuju apartemennya.

“And if, and if the night runs over
And if the day won’t last
And if your way should falter
Along the stony pass
It’s just a moment
This time will pass.”

 

 

 

TBC

Ma’af kalo FF-nya datar dan minim diksi. -___- Special thanks buat 2 author ketjeh (Song Jia & Arisa Kim) yang udah mau pinjemin namanya untuk FF ini. Minta masukannya yaa… ^^

Iklan

4 responses to “fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-1

  1. Jadi, OCnya bukan Shin Hyoseul nih?

    Bdw, sumpah aku justru suka sama Hyuk Jae. Somvlak kali dia….

    Yadongnya kagak ketinggalan… Bruahahaahaha xD

    Baca FF pertamamu beb 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s