fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-3

allthedreamsaboutyou

 

 

Author : @ladymodrus
Genre : Romance, Friendship, Fantasy
Cast (in this part) : Choi Siwon, Lee Hyukjae, Shin Hyoseul (OC)
Length : Chaptered
Rate : PG-17
Cover by : Bbon Art

 

Hehehe… Annyeong! ^^ Lady Modrus balik lagi. *sumpah ga penting banget* 😀 Mian ye, lanjutnya kelamaan, observasi dulu soalnya. *sok* Dan sesuai permintaan dari Song Jia, chapter kali ini pake Author’s POV. Kekeke… 😀

Orang asing makan puding. No bashing, happy reading *pantun*

ENJOY! 😀

 

 

CHAPTER 3 – Broken Dreams

 

 

“Suddenly the moment’s gone
And all your dreams are upside down
And you just wanna change the way the world goes round”

S Club 7 – Have You Ever

— Author’s POV —

Seminggu sejak mimpi pertamanya, Siwon telah mengalami tiga kali mimpi sadar dan semuanya selalu sama; pantai dan Park Daejia. Sugesti yang ia berikan kepada dirinya sendiri mungkin sangat kuat sehingga ia dapat dengan mudahnya melakukan Dream Recall—mengulang mimpi. Siwon masih ingat bagaimana kemudian dirinya berjalan mendekati Daejia dengan hati penuh gempita. Bahkan di mimpi terakhirnya semalam, Siwon sempat berlari untuk menggapai Daejia. Tetapi sayang, semua mimpi yang dilewatinya juga selalu berakhir sama; pandangan Siwon tiba-tiba mengabur kemudian gelap seluruhnya. Dan setelah itu, Siwon tidak dapat mengingat apa-apa lagi.

 

“…dan setiap kali aku ingin mendekati Daejia, pandanganku selalu mengabur. Aku tidak tahu apa yang telah membuat mimpiku menjadi seperti ini…” Siwon mengetik jurnal mimpinya dengan sangat detail. Segala apa yang ia lihat dan rasakan ketika berada di alam mimpi diceritakannya dengan begitu terperinci. Lagipula Hyukjae pernah berkata kepadanya bahwa membuat jurnal mimpi dapat mempermudahnya untuk melakukan dream recall.

 

Lee Hyukjae. Ya, sudah semingguan ini Siwon tidak bertemu dengannya. Kesibukannya sebagai seorang CEO terkadang memang membuat Siwon sulit untuk bertemu dengan sahabat atau pun keluarganya, termasuk Hyukjae. Banyak hal yang ingin Siwon ceritakan padanya—tentang mimpi sadar—namun belum ada waktu. Sedangkan ia sudah tidak tahan lagi untuk bercerita. Hanya Hyukjae yang mengerti hal-hal semacam ini. Jika Siwon bercerita kepada orang lain, ia pasti akan dianggap tidak waras. Oleh karena itu, Siwon segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya dan men-dial nomor ponsel Hyukjae.

 

Tuuut… Tuuut…

 

“Yeoboseo?” terdengar suara seseorang dari seberang.

 

Siwon menghela napas lega mengetahui Hyukjae mengangkat teleponnya, “Ah, Hyukjae-ya, apakah kau sedang sibuk?” tanya Siwon.

 

“Kau memberiku setumpuk tugas yang menyebalkan, Sajangnim. Menurutmu sendiri aku bagaimana?” Hyukjae balik bertanya dengan nada sedikit kesal. Dari sekian banyak orang yang bekerja di perusahaannya, hanya Hyukjae yang berani mengomeli Siwon.

 

“Ma’af,” Siwon sedikit merasa bersalah telah mengganggu jam kerja sahabatnya. Ia lupa kalau dirinya sendiri yang melimpahkan begitu banyak tugas perusahaan kepada Hyukjae. Namun Siwon melakukan itu karena dirinya sangat mempercayai Hyukjae. “Tapi, apakah nanti malam kau ada waktu?”

 

“Entahlah, aku masih belum tahu. Untuk apa?”

 

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini tentang mimpi sadar. Boleh aku ke apartemenmu?”

 

Hyukjae mendengus, lagi-lagi soal mimpi sadar. Pastinya juga ini berkaitan dengan Daejia. “Baiklah, datang saja.”

 

“Syukurlah…” Siwon bergumam pelan. “Baiklah, kalau begitu terimakasih. Ma’af sudah mengganggumu.”

 

“Ya, sama-sama. Terimakasih juga sudah menggangguku.” Hyukjae menutup teleponnya.

 

Siwon hanya bisa menghela napas. Biasanya Siwon tidak pernah menelepon Hyukjae pada saat jam kerja kecuali ada hal penting mengenai perusahaan yang harus mereka bicarakan. Tetapi hanya karena mimpi sadar, Siwon jadi tidak dapat menahan diri. Dan ini membuat Siwon tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. “Bodoh…”

 

***

Malam itu, Siwon memenuhi janjinya untuk datang ke apartemen Hyukjae. Siwon bersyukur karena ketika ia sampai, Hyukjae sudah tidak merasa kesal lagi padanya. Dan hal itu dimanfaatkan Siwon untuk menceritakan tentang suka dan dukanya dalam melakukan mimpi sadar—termasuk soal Daejia. “Mimpiku selalu berakhir seperti itu. Padahal ketika di awal mimpi semuanya berjalan dengan lancar, tetapi setelah melihat Daejia, pandanganku mulai mengabur.”

 

Hyukjae tersenyum hambar, “Apakah kau senang melihat Daejia hadir di dalam mimpimu?” tanya Hyukjae, kemudian meminum soda dari kaleng yang berada dalam genggamannya.

 

“Ya, tentu saja,” jawab Siwon singkat.

 

“Dari skala satu sampai sepuluh, setinggi apa rasa senangmu itu?” tanya Hyukjae lagi.

 

“Delapan. Mungkin juga sembilan, atau sepuluh… Aku tidak bisa mengukur setinggi apa rasa senangku. Memangnya kenapa?”

 

“Di situlah letak permasalahannya.”

 

Siwon mengerutkan dahi, tidak mengerti perkataan Hyukjae. “Maksudmu?”

 

Hyukjae menghela napas. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya. “Bukankah kau sudah kuingatkan untuk tetap mengontrol emosimu? Tidak boleh ada perasaan yang berlebihan saat sedang melakukan mimpi sadar atau mimpimu akan menjadi kacau. Dalam hal ini, sepertinya kau terlalu senang.” jawab Hyukjae, menjelaskan penyebab kacaunya mimpi Siwon.

 

“Bukankah itu hal yang sangat manusiawi?” sanggah Siwon.

 

“Aku tahu,” kata Hyukjae, “tapi memang seperti itulah aturan mainnya. Aku juga pernah memintamu untuk selalu ingat bahwa semua itu hanya mimpi, bukan? Apa yang terjadi di dalam mimpi terasa begitu nyata, dan ketika kau mulai tidak bisa membedakan mana yang nyata dengan yang tidak, maka di situlah kesadaranmu akan mimpi menjadi hilang dan mimpi yang kaujalani berubah menjadi mimpi biasa,” Hyukjae menjelaskan panjang lebar.

 

Siwon mencoba mencerna semua perkataan Hyukjae dengan seksama. Dalam hatinya, Siwon mengakui semua itu. Ia tahu dirinya memang sedikit keluar kendali. “Lalu bagaimana caranya agar aku bisa lebih mudah mendapatkan mimpi sadar dan mempertahankannya lebih lama selain dengan menjaga emosi dan mengingat bahwa semua itu hanya mimpi? Pandanganku sering kabur, aku harus bagaimana?” Siwon menanyakan solusi dari ‘permasalahan’ yang sedang dihadapinya.

 

“Kau bisa mendengarkan Brainwave.”

 

Brainwave?”

 

“Ya, Brainwave. Semacam musik khusus yang dapat membantu seseorang untuk mendapatkan mimpi sadar. Kau bisa mengunduhnya dari internet. Tapi tidak semua orang cocok mendengarkan Brainwave, terutama pemula sepertimu. Kusarankan agar kau mendengarkan Brainwave dengan gelombang yang tidak terlalu tinggi. Dan jika kau mulai merasa pusing atau mual ketika mendengarkannya, tidak usah diteruskan.”

 

Siwon merasa sedikit tidak yakin, “Apa tidak ada cara lain dengan efek samping yang lebih kecil?”

 

“Ada,” jawab Hyukjae, “kau bisa memakan buah pisang satu jam sebelum tidur.”

 

“Pis—pisang?” Siwon sedikit tercengang.

 

“Ya, pisang. Memangnya kenapa?” tanya Hyukjae heran ketika melihat Siwon tiba-tiba saja terkekeh geli mendengarnya menyebut buah pisang.

 

“Jadi karena itukah kau suka sekali makan pisang, Lee Hyukjae?” Siwon tertawa mengingat kebiasaan sahabatnya itu yang memang hobi sekali menyantap buah pisang.

 

Hyukjae mendengus, memasang wajah sebal, “Aku sudah menyukai pisang sejak sebelum aku mengetahui apa itu mimpi sadar, Choi Siwon. Tidak usah mengait-ngaitkannya.”

 

Siwon berusaha menghentikan tawanya. Sepertinya hari ini Hyukjae sedikit sensitif, mungkin itu karena tugas yang dilimpahkannya tadi siang dan Siwon dapat memahami hal itu. “Ma’af,” ucapnya, masih sedikit terkekeh.

 

“Dan untuk mempertahankan mimpi, kau bisa melakukan Crystal Clear. Caranya dengan fokus menatap ke satu titik atau berputar beberapa kali hingga keadaan menjadi normal kembali. Itu saja,” kata Hyukjae lagi lalu diam.

 

Siwon maupun Hyukjae melewati dua menit selanjutnya dalam suasana sunyi. Entah apa penyebabnya, Siwon merasa ada yang lain dari diri Hyukjae. Sahabatnya itu tidak seceria biasanya. Apa mungkin Hyukjae jadi seperti ini karena terlalu lelah? Atau justru ada hal lain?

 

“Choi Siwon,” suara Hyukjae akhirnya terdengar setelah diam beberapa saat.

 

“Ya, ada apa?” tanya Siwon. Ia jadi agak khawatir terhadap Hyukjae.

 

“Apakah kau tidak bisa membuka hatimu untuk wanita lain? Daejia adalah pilihan yang tepat untukmu, tetapi keadaannya sudah berbeda sekarang. Apakah kau akan terus menerus mengharapkan apa yang sudah bukan milikmu lagi untuk kembali? Kulihat Daejia sangat bahagia bersama Taekwoon. Kau harus bisa merelakannya. Mungkin saja di luar sana ada—”

 

“Aku hanya mencintai Daejia,” Siwon memotong ucapan Hyukjae. “Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi itulah kenyataannya,” sambungnya lagi.

 

“Apa kau yakin dengan ucapanmu?” tampak Hyukjae sedikit kecewa mendengarnya.

 

“Aku tidak pernah merasa seyakin ini. Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”

 

Hyukjae terdiam. Ada satu hal yang sangat ingin dibicarakannya dengan Siwon, tetapi ia tidak yakin. Mengingat kondisi sahabatnya saat ini—yang sangat sulit untuk dinasehati—Hyukjae mengurungkan niatnya. “Tidak ada apa-apa, aku hanya penasaran saja.” Hyukjae tersenyum—terpaksa.

 

Siwon tidak mencurigai apa pun dan menganggap pertanyaan Hyukjae sebagai sebuah perhatian dari seorang sahabat yang sudah dianggapnya lebih dari saudara. Dan satu jam selanjutnya mereka lewati dengan obrolan Siwon tentang Daejia.

 

 

***

Semakin hari hidup Siwon terasa semakin ganjil. Semenjak mengenal mimpi sadar ia jadi sering melakukan hal-hal yang—menurutnya sendiri—sangat aneh. Namun fakta yang sedang terjadi sekarang adalah Siwon benar-benar memakan buah pisang agar lebih mudah mendapatkan mimpi sadar dan dapat mempertahankannya. Ia juga baru saja selesai mengunduh Brainwave dari internet. Siwon sendiri tidak yakin cara seperti ini akan membantu. Tetapi setelah melakukan perselancaran di internet, ternyata pisang dan brainwave memang efektif dalam membantu seseorang untuk mendapatkan mimpi sadar.

 

“Baiklah,” Siwon merebahkan diri di atas tempat tidur dan memasang earphone di telinganya. “Aku akan melakukan mimpi sadar malam ini,” sugestinya kepada dirinya sendiri sebanyak beberapa kali sebelum akhirnya memutar brainwave yang tadi diunduhnya.

Siwon mencoba untuk santai ketika brainwave itu mulai dimainkan. Sayangnya, semua tidak sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan sebelumnya. Siwon justru merasa terganggu oleh suara dengungan brainwave yang terkadang terdengar naik-turun. Terlebih lagi ketika suara dengungan itu melengking tinggi, memekakkan telinga. Urat syaraf di sekitar kepala Siwon seakan berdenyut-denyut nyeri mendengarnya. Siwon menjadi gelisah dan tidak nyaman. Perlahan, kepalanya mulai terasa pening. Tetapi ia mencoba untuk tetap bertahan dan menganggap itu hanya sebagai efek samping sementara. Hingga kemudian, rasa mual juga turut menyerang Siwon dan berhasil membuat pria itu menyerah.

 

“Sial!” Siwon segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi ketika rasa pening dan mual itu tidak lagi tertahankan. “Hoeeekk…” Siwon memuntahkan hampir semua pisang yang tadi dimakannya ke dalam westafel. Benar apa kata Hyukjae, tidak semua orang cocok mendengarkan brainwave dan ia adalah salah satu di antaranya.

 

Siwon berusaha mengatur napas. Ia membuka keran dan membasuh wajahnya dengan air. Pening dan mual yang tadi dirasakannya perlahan mulai berkurang. Mungkin setelah mencuci muka, dirinya akan kembali segar. “Ya Tuhan…” Siwon menatap bayangan dirinya di cermin. Tampak ada wajah basah seorang pria yang terlihat begitu bodoh sedang menertawakan dirinya. Ya, bodoh. Bagi Siwon, dirinya tampak begitu bodoh. Mencoba kembali bersama mantan kekasih melalui mimpi, tidakkah itu terdengar sangat bodoh?

 

Siwon menghela napas pasrah. Sudah cukup untuk malam ini, ia tidak akan mendengarkan brainwave lagi. Siwon bahkan sudah tidak peduli tentang targetnya untuk mendapatkan mimpi sadar. Ia merasa sedikit kurang sehat dan butuh istirahat. Malam ini, Siwon hanya ingin tertidur dengan nyenyak.

 

 

***

Sleep paralysis…? Ini sleep paralysis…?”

 

Siwon yang baru saja berusaha memejamkan mata merasa terganggu ketika merasakan adanya guncangan di tempat tidurnya. Ya, sleep paralysis. Siwon yang belakangan ini mulai akrab dengan fenomena itu menyadari bahwa dirinya sedang mengalami sleep paralysis. Berbeda dengan pengalaman pertamanya saat melakukan mimpi sadar seminggu yang lalu, kali ini Siwon merasa senang. Sleep paralysis adalah gerbang menuju mimpi sadar. Dan di dalam mimpi sadar itu, ia bisa bertemu dengan Daejia.

 

Lekaslah, pinta Siwon dalam hati. Ia ingin proses ‘kelumpuhan’ itu segera berakhir agar pria itu dapat menjelajah alam mimpinya dan—tentu saja—bertemu kembali dengan Daejia. Tetapi setelah menunggu beberapa lama, proses kelumpuhan itu tidak kunjung berakhir. Siwon justru merasakan tubuhnya seperti terangkat ke atas dan dirinya mulai berasumsi bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan itu.

 

Takut terjadi sesuatu yang buruk, Siwon berusaha untuk bangun. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa lumpuh itu secara paksa namun sangat sulit. Terlebih lagi ketika telinganya mulai menangkap banyak suara jeritan yang begitu menyeramkan.

 

Siwon mulai ketakutan.

 

“Ya Tuhan! Ada apa ini?” Siwon panik, ia tidak tahu lagi harus bagaimana agar bisa bangun dengan segera. Yang Siwon bisa lakukan hanyalah mencoba menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga. “Ayolah!” Merasa tidak ada lagi yang dapat diperbuat, Siwon mencoba usaha terakhirnya untuk bangun dengan cara menggulingkan tubuhnya ke samping menggunakan sisa tenaga yang ia miliki.

 

BRUKK!!!

 

“Sial!” Siwon berhasil menggulingkan tubuhnya dan jatuh tersungkur di atas lantai kamar.

 

“Ya Tuhan! Siwon-ssi, kau tidak apa-apa?”

 

Suara seseorang seperti menyadarkan Siwon. Ia menoleh ke samping dan mendapati seorang gadis tengah berjalan panik ke arahnya, hendak membantunya bangun dari lantai. “Siapa kau?! Jangan sentuh aku!!” Siwon yang terkejut dengan kehadiran gadis itu menghindar ketakutan.

 

“Tenanglah, jangan panik begitu,” pinta si gadis dengan wajah cemas. “Coba kau perhatikan sekelilingmu, Siwon-ssi,” pintanya lagi, menunjuk ke arah sekitarnya.

 

Mencoba untuk tenang, Siwon bangun dari lantai dan berdiri perlahan. Ia edarkan pandangannya ke sekitar dengan sesekali menatap gadis itu penuh waspada. Apa yang Siwon lihat hanyalah ruangan kamarnya. Ia melirik ke arah jam yang berada di atas nakas dan mendapati jarumnya tidak bergerak, juga beberapa keanehan lain yang membuatnya berpikir bahwa dirinya sedang bermimpi. Tanpa melakukan reality check pun, Siwon merasa yakin kalau itu adalah sebuah mimpi.

 

“Pantai. Seharusnya aku berada di pantai,” gumam Siwon—kecewa—ketika menyadari mimpinya berbeda dengan mimpi-mimpi yang ia alami sebelumnya. Siwon menoleh ke arah gadis itu, “Park Daejia… di mana dia?” tanyanya.

 

“Aku tidak tahu.” Gadis itu menggeleng bingung.

 

“Aku seharusnya bertemu dengan Daejia di pantai itu. Kenapa mimpiku jadi seperti ini?” Siwon masih belum bisa menerima apa yang sedang terjadi kepada dirinya. “Dan kau, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau ada di sini?” Kini Siwon bertanya kepada gadis itu dengan nada tak suka.

 

“Aku… aku Shin Hyoseul. Aku hanya ingin mengunjungimu. Sepertinya belakangan ini kau sangat lelah dan sedikit kurang sehat. Aku jadi agak khwawatir,” jawab gadis yang mengaku bernama Shin Hyoseul itu dengan nada sedikit takut.

 

Siwon mendengus, “Aku bahkan tidak mengenalmu, Nona Shin. Bagaimana bisa kau datang ke sini karena mengkhawatirkanku? Atas dasar apa? Huh?” Siwon dibuat meradang dengan jawaban dari gadis tak bersalah itu. Ia merasa tak seharusnya gadis itu ada di sana.

 

Hyoseul diam sejenak, seperti tidak yakin untuk memberikan jawaban, “Aku..,” gumamnya gugup, “aku menyukaimu.”

 

Siwon hanya diam menahan rasa kesalnya. “Mimpi yang aneh,” gumamnya secara tidak sadar. Seorang gadis datang ke dalam mimpinya dan menyatakan rasa suka padanya? Bukankah terdengar sangat aneh? Siwon bahkan tidak mengenali siapa gadis itu. “Ah, ya, ini cuma mimpi. Apa saja bisa terjadi,” ujar Siwon kepada dirinya sendiri. Lama ia terdiam, berkonsentrasi membayangkan sebuah pantai dan Park Daejia agar bisa hadir ke dalam mimpinya. Pria itu ingin mengubah latar belakang dari mimpi yang saat ini sedang dialaminya, namun tak berjalan lancar.

 

“Siwon-ssi, kau baik-baik saja?”

 

Konsentrasi Siwon terpecah ketika suara bernada cemas dari gadis itu kembali terdengar. Dan ini membuatnya bertambah kesal. “Siapa namamu tadi?” tanya Siwon kepada gadis itu seraya berkacak pinggang.

 

“Shin Hyoseul.”

 

“Shin Hyoseul? Baiklah, jadi begini, Hyoseul-ssi, dengarkan aku,” Siwon sedikit mendekat, “aku tahu kau mengkhawatirkanku dan aku sangat berterimakasih atas perhatian dan waktumu karena sudah mau mengunjungiku. Tapi jika boleh kuminta dengan sangat, bisakah kau kembali ke tempatmu berasal atau ke mana sajalah—aku tidak tahu dan tidak mau tahu—agar aku bisa melanjutkan mimpiku kembali? Bagaimana?”

 

Hyoseul berdecak, menatap Siwon dengan sedikit kecewa, “Tidak mengherankan kenapa Daejia meninggalkanmu,” ucapnya, seraya menggelengkan kepala.

 

“Apa kau bilang?” Siwon terkejut mendengar ucapan Hyoseul. Bagaimana bisa sebuah proyeksi berkata seperti itu padanya? Mimpinya benar-benar aneh.

 

Hyoseul tidak meladeni pertanyaan Siwon. Tampaknya ia juga merasa kesal terhadap sikap pria itu kepadanya. “Sudah, mimpi lagi sana!” Gadis itu dengan tanpa diduga mendorong tubuh Siwon hingga terhempas dan terjatuh ke arah tempat tidur.

 

Siwon panik ketika tubuhnya tertarik ke belakang, seperti tersedot oleh sesuatu. Ia dapat melihat Hyoseul melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum puas sebelum segalanya berubah menjadi gelap. Sesuatu telah terjadi kepada Siwon tanpa ia tahu apa yang baru saja dialaminya.

 

 

 

 

TBC

Ma’af ye kalo agak amburegul emeseyu bahrelway-bahrelway. TT___TT Seperti biasa, minta saran & kritiknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s