fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-4

allthedreamsaboutyou

 

Author : @ladymodrus
Genre : Romance, Friendship, Fantasy
Cast (in this part) : Choi Siwon, Lee Hyukjae, Park Daejia (OC), Jung Taekwoon (Leo VIXX)
Length : Chaptered
Rate : PG-17

 

CHAPTER 4 – She Loves Me Not

 

“Kini kautelusuri jalan-jalan memori
Kauharap ‘kan bertemu kekasih yang kaurindu
Tiada bisa kau lupa wajah dan senyumannya
Semakin lama kaucoba melupakan dirinya
Semakin dalam kaurasa…”

Dewi Yul – Kini Baru Kau Rasa

 

 
— Author’s POV —

 

Siwon hanya bisa memijat keningnya sendiri akibat dari mimpi semalam. Lelah, itulah yang sedang dirasakannya. Dan mimpi itu membuatnya sedikit merasa takut. Apa yang terjadi semalam sangat tidak biasa baginya. Siwon hanya berusaha berpikir sepositif mungkin; apa saja bisa terjadi di dalam mimpi. Tapi gadis bernama Shin Hyoseul itu…

 

“Tidak mungkin,” ucapnya pada dirinya sendiri. Setelah bangun tidur pagi tadi, Siwon baru mengingat siapa gadis itu. Shin Hyoseul adalah salah seorang teman sekelasnya di SMA dulu. Ia duduk di belakang Hyukjae, paling pojok dan paling belakang. Dia gadis yang sangat tertutup dan tidak memiliki banyak teman. Tetapi Siwon ingat Hyoseul pernah berjasa untuknya.

 

Ketika itu, Daejia dihukum membersihkan kamar mandi selepas jam pelajaran sekolah karena lupa membawa PR. Siwon yang memang sudah membuat janji untuk pergi ke toko buku harus menunggu Daejia yang belum selesai menjalani hukumannya. Dan saat itulah Hyoseul mendatangi Daejia dan menawarkan diri untuk menggantikannya membersihkan kamar mandi agar mereka berdua—Siwon dan Daejia—bisa pergi bersama.

 

Lantas, kenapa Siwon tidak bisa mengenali Hyoseul yang hadir di dalam mimpinya? Hyoseul yang diingatnya adalah seorang gadis berkacamata dengan rambut kepang dua. Sedangkan di dalam mimpinya, Hyoseul terlihat sangat berbeda. Namun yang masih menjadi pertanyaan Siwon hingga sekarang adalah bagaimana bisa dirinya memimpikan Hyoseul dengan begitu nyata sementara ia tak pernah sekali pun memikirkan gadis itu? Bahkan semenjak kelulusan, mereka belum pernah bertemu kembali. Apakah benar Hyoseul hanyalah sebuah proyeksi? Atau jangan-jangan… gadis itu sudah meninggal dan datang menghantui mimpinya?

 

Lee Hyukjae. Ya, Siwon butuh Lee Hyukjae. Ia harus menemui sahabatnya yang satu itu; si Pengendali Mimpi berwajah mesum yang sering sekali memberinya petuah belakangan ini. Petuah yang terkadang membuat Siwon merasa bingung sendiri; kenapa si Bodoh itu jadi terlihat lebih pintar darinya? Ah, tetapi itu tidak penting. Apa yang harus dilakukan Siwon sekarang adalah bertemu dengan Hyukjae.

 

 

***

 

 

“Ajik giyeok haneunji neomani jeonbu in nal mineunji
Eonjekkaji ni gyeote naldulsu ineun geonji
Neolbeun sesange danhan saram
Neoman won haneun na
Ireon nareul algo ineunji…”

 

Sebuah lagu balad mengalun dengan sangat merdu dari dua orang pria yang berprofesi sebagai penyanyi kafe ketika Hyukjae tak henti-hentinya menertawai Siwon yang baru saja selesai menceritakan pengalaman mimpinya. “Jadi, kau memiliki pengagum rahasia di alam mimpi, Choi Siwon? Hahaha…” Hyukjae tertawa terbahak-bahak. Beberapa orang pengunjung kafe tampak mengarahkan tatapan mereka kepada Hyukjae—yang mereka kira sedang mabuk. “Bukankah itu bagus? Kenapa tidak kau ‘manfaatkan’ saja? Tidak ada Maria Ozawa, proyeksi lainnya pun jadi,” katanya lagi, masih dengan tertawa terbahak-bahak.

 

“Aku melakukan mimpi sadar bukan karena hal-hal mesum seperti itu, Lee Hyukjae. Tolong serius sedikit.”

 

Hyukjae berusaha berhenti tertawa ketika melihat wajah tidak main-main Siwon tertampang dengan sangat jelas di hadapannya. “Ehem…” Eunhyuk berdeham, mencoba menetralkan suaranya agar Siwon tahu bahwa dirinya juga tidak sedang main-main. “Baiklah, jadi letak permasalahannya di mana? Apa saja bisa terjadi di dalam mimpi, kan?”

 

“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak pernah sedikit pun memikirkan atau bahkan mengingat siapa gadis itu. Sugesti sangat berpengaruh, bukan? Dan masalahnya, aku tidak pernah sekali pun memberi sugesti untuk bertemu dengan gadis itu. Dia tiba-tiba saja datang dan berkata bahwa dirinya menyukaiku. Bagaimana bisa itu terjadi?” jelas Siwon penuh kebingungan, tetapi Hyukjae malah menanggapinya dengan sangat santai.

 

“Dengar, Choi Siwon. Otak manusia merekam apa pun yang dilihat oleh mata. Dari hal besar sampai hal-hal paling kecil yang tidak kau perhatikan sama sekali. Dan otak juga bisa sewaktu-waktu memutar kembali hal-hal kecil itu dan memunculkannya ke dalam mimpi dalam bentuk proyeksi.” Hyukjae mengutarakan pendapatnya.

 

Siwon menggeleng, “Tidak, tidak… dia bukan proyeksi,” sanggahnya, “dia nyata.”

 

“Apa maksudmu dengan ‘dia nyata’, Choi Siwon? Apakah kau mengenali siapa gadis itu?” tanya Hyukjae dengan dahi berkerut.

 

“Ya. Maksudku… sepertinya aku pernah melihat gadis itu di suatu tempat.” Siwon mengurungkan niatnya yang semula ingin mengungkap identitas gadis yang mendatanginya dalam mimpi. Siwon merasa yakin, Hyukjae pasti akan menertawainya lagi jika mengetahui gadis itu adalah Hyoseul.

 

“Mungkin kau cuma deja vu. Terkadang hal seperti itu juga terjadi di dalam mimpi.”

 

“Aku yakin dia nyata,” Siwon bersikeras. “Gadis itu tahu aku sedang bermimpi. Bahkan, dialah yang membuatku sadar kalau diriku sedang bermimpi. Aku rasa dia seorang Dreamwalker.”

 

Hyukjae sontak menoleh ke arah Siwon dengan cepat ketika mendengar kata Dreamwalker. “Kau yakin?” tanya Hyukjae.

 

“Ya,” jawab Siwon dengan sangat yakin.

 

“Seseorang yang tidur sambil berjalan maksudmu? Hahaha…” Hyukjae kembali tertawa terbahak-bahak. Tentu saja ini membuat Siwon kesal karena merasa telah dipermainkan. Hyukjae seolah menganggap pria itu hanya mengada-ada.

 

“Terserah.” Siwon beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan kesal.

 

“Hei, Choi Siwon. Kau mau ke mana?” panggil Hyukjae, masih dengan tertawa. Sadar Siwon sedang merasa kesal kepadanya, Hyukjae segera berlari menyusul pria itu keluar kafe. “Ayolah, Siwon-ah, aku cuma bercanda,” pintanya, masih terkekeh-kekeh di belakang Siwon. “Dreamwalker itu cuma mitos.”

 

Siwon menghentikan langkahnya, membalikkan badan ke arah Hyukjae dengan cepat, “Jika memang benar seperti itu, tolong seriuslah!”

 

Hyukjae akhirnya benar-benar berhenti tertawa kali ini. Ia sama sekali tak habis pikir, kenapa bisa Siwon menanggapi permasalahan yang jelas-jelas cuma mimpi itu sebagai sesuatu yang sangat serius. Sepertinya apa yang Hyukjae pernah katakan kepadanya dulu sama sekali tak diingat. Bahwa semua yang terjadi di dalam mimpi itu tidaklah nyata. “Baiklah, anggap saja gadis itu memang seorang Dreamwalker—pengendali mimpi yang memiliki kemampuan untuk memasuki mimpi orang lain. Lantas, apa yang membuatmu menjadi gusar seperti ini?”

 

“Aku khawatir dia akan terus menerus masuk ke dalam mimpiku dan menghalangiku untuk memimpikan Daejia. Dia bilang dirinya menyukaiku, mungkin saja dia melakukan ini karena tidak ingin melihatku kembali bersama Daejia. Mungkin juga gadis itu adalah penyebab kenapa Daejia akhirnya berubah dan membuat hubungan kami menjadi seperti ini.”

 

“Menjadi penyebab hancurnya hubunganmu dengan Daejia dua tahun yang lalu? Begitu maksudmu?”

 

“Ya, mungkin saja gadis itu pernah menyelinap masuk ke dalam mimpi Daejia dan menanamkan sugesti negatif tentangku sehingga membuat Daejia merasa bahwa aku telah mencampakkannya. Dan sekarang, aku rasa gadis itu juga akan melakukan hal yang sama kepadaku dengan menanamkan sugesti negatif melalui mimpiku.”

 

Hyukjae terdiam mendengar penjelasan Siwon. Terkejut. Bagaimana mungkin Siwon bisa memikirkan hal-hal semacam itu? Baginya, ini sudah terlampau jauh. Menuduh sebuah proyeksi dalam mimpi—yang belum terbukti nyata atau tidaknya—sebagai penyebab kandasnya hubungan pria itu dengan Daejia teramat sangat tidak masuk akal.

 

“Choi Siwon, kau terlalu banyak menonton Inception,” ujar Hyukjae, “belum tentu dia seorang Dreamwalker.”

 

“Belum tentu bukan berarti bukan, kan?” Siwon bersikeras. Ada sebuah kecemasan yang tidak biasa tergambar dengan sangat jelas di wajahnya. “Jika prediksiku terbukti benar, lantas apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau ada dia lagi di dalam mimpiku.”

 

Hyukjae memijat-mijat keningnya sendiri untuk sejenak. Kemana perginya Choi Siwon yang rasional? tanyanya dalam hati. “Dia baru sekali muncul dalam mimpimu dan kau sudah paranoid seperti ini.”

 

“Aku tidak paranoid,” bantah Siwon, “aku hanya…” Siwon urung melanjutkan bicaranya. Harus diakui, pria itu memang sedikit paranoid. Ia takut. Takut tidak bisa kembali bersama Daejia karena kehadiran Hyoseul yang mungkin saja memang memiliki niat buruk kepadanya.

 

“Siwon-ah, kurasa sebaiknya kau kembali ke apartemenmu. Beristirahatlah. Deep sleep, tanpa mimpi sadar,” pinta Hyukjae dengan sangat. Terus terang, saat ini ia benar-benar khawatir pada kondisi psikis sahabatnya itu. “Jika kau perlu bantuan, kau bisa menghubungiku. Bagaimana?” ujarnya lagi.

 

Siwon tampak diam dan agak bingung, seperti tidak tahu apa yang harus dilakukannya kendati Hyukjae sudah memintanya untuk pulang dan beristirahat. “Entahlah,” ucapnya frustrasi. “Sepertinya aku akan berjalan-jalan dulu sejenak, Hyukjae-ya. Aku butuh udara segar.”

 

“Perlu kutemani?” Hyukjae masih khawatir, takut Siwon nekat berbuat macam-macam.

 

“Tidak usah,” Siwon memaksakan diri untuk tersenyum, berusaha meyakinkan Hyukjae kalau dirinya baik-baik saja. “Aku hanya sebentar,” ujarnya lagi, lalu mulai berjalan menjauh meninggalkan Hyukjae yang hanya bisa menghela napas pasrah. Siwon berharap Hyukjae dapat mengerti perasaannya.

 

“Ya Tuhan… Kenapa Siwon harus jadi seperti ini…?” gumam Hyukjae perlahan, seiring dengan semakin jauhnya langkah kaki Siwon pergi dari hadapannya.

 

 

***

 

 

“Shame pulses through my heart from the things I’ve done to you
It’s hard to face but the fact remains
And this is nothing new
I left you bound and tied with suicidal memories
Selfish beneath the skin
But deep inside, I’m not insane
I’m not insane, I’m not insane…”

 

Siwon memacu laju kendaraannya mengelilingi kota Seoul tanpa memiliki arah untuk dituju. Ia sama sekali tidak memiliki hasrat untuk berhenti sejenak di suatu tempat. Semua ini dilakukannya hanya untuk menenangkan diri—meskipun ia sendiri tidak terlalu yakin cara seperti ini akan berhasil.

 

“Come back to me, it’s almost easy…
Come back again, it’s almost easy…”

 

Lagu Avenged Sevenfold menyalak-nyalak menemani perjalanan Siwon yang tak memiliki arah tujuan itu. Petikan gitar yang begitu menyayat dan tabuhan drum yang sangat keras dan bertubi-tubi seakan berjalan beriringan dengan dengan rasa gundah di hatinya yang sama sekali tidak bisa diajak berdamai. Siwon tidak mengerti, kenapa dirinya harus sampai menjadi seperti ini? Apakah dirinya terlalu mencintai Daejia sehingga di dalam mimpi pun Siwon tetap tidak rela ada orang lain yang menghalangi usahanya untuk ‘kembali’ bersama wanita itu? Ia menyadari hal seperti itu terkesan sangat tidak normal. Namun Siwon sendiri seakan terus menerus tersulut rasa penasaran akibat apa yang telah terjadi di dalam mimpinya. Ia yakin, ada sesuatu—atau mungkin seseorang—yang telah membuat hubungannya dengan Daejia menjadi seperti sekarang.

 

“Now that I have lost you
It kills me to say
I’ve tried to hold on
As you’ve slowly slipped away
I’m losing the fight
I’ve treated you so wrong
Now let me make it right…”

 

Malam memang belum terlalu larut, baru sekitar jam sepuluh. Suasana di sekitar Seoul juga bisa dibilang cukup ramai. Namun entah mengapa semua itu seperti menghilang dari penglihatan Siwon. Apa yang dilihatnya dan apa yang dirasakannya saat ini hanyalah sepi yang seakan tak bertepi dan tak berkesudahan. Siwon merasa bingung dan begitu tersesat dalam sebuah kekosongan. Hampa.

 

Aku harus bagaimana? tanyanya dalam hati, kepada dirinya sendiri.

 

Belum lagi Siwon mendapatkan sebuah ketenangan dalam dirinya, sebuah pemandangan tak biasa tertangkap jelas oleh kedua indera penglihatannya. Di sebuah bangku panjang dekat taman, tidak jauh dari jalan raya, tampak dua orang anak manusia tengah bercengkrama dalam canda dan tawa. Siwon dengan mudahnya mengenali siapa mereka. “Park Daejia… Sedang apa dia bersama Taekwoon di sini?”

 

Segera Siwon mengarahkan laju kendaraannya menuju area parkir. Ada gemuruh aneh menyerang dadanya, membuat pria itu nekat keluar mobil dan berjalan menyambangi tempat Daejia dan Taekwoon berada. Cemburu? Mungkin. Tapi pantaskah ia merasa demikian?

 

“Sedang apa mereka di sini?” gumamnya perlahan, di antara langkah-langkah besarnya. Mulai kehilangan akal, Siwon seperti tidak mengingat bahwa Daejia dan Taekwoon adalah sepasang kekasih. Wajar jika mereka terlihat bersama.

 

“Apa? Benarkah? Astaga! Hahaha…”

 

Siwon yang semula menggebu-gebu ingin menghampiri keduanya secara tiba-tiba berhenti melangkah. Tawa renyah itu… lama ia tak mendengarnya. Tawa Daejia yang begitu lepas tanpa beban, tawa yang selalu ia rindukan.

 

“Memalukan sekali ya? Aku memang bodoh.” Suara Taekwoon terdengar di sela-sela tawa Daejia. Pria muda itu tampak tersenyum dengan sesekali menutupi wajahnya sendiri menggunakan sebelah tangannya, kelihatan malu-malu.

 

Siwon menyingkir. Ia bersembunyi di balik sebuah pohon besar tak jauh dari sana, mendengarkan dengan seksama obrolan ringan Taekwoon dengan Daejia. Mendengar suara ceria dari wanita yang dicintainya membuat Siwon tidak ingin mengusik kebahagiaan yang mungkin sedang dirasakan oleh mereka berdua. Ya, Siwon tidak ingin merusak kebahagiaan Daejia.

 

“Apakah akhir minggu ini keluargamu ada waktu?”

 

“Keluargaku?”

 

“Ya, keluargamu. Kau, ayah dan ibumu.”

 

“Kemungkinan mereka ada di rumah akhir pekan nanti. Memangnya ada apa?”

 

“Hmm… Aku hanya ingin bertemu dengan mereka saja. Pertemuan terakhir kami sekitar sebulan yang lalu. Jujur saja, aku rindu masakan ibumu.”

 

Daejia kembali tertawa mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Taekwoon. Seperti ada hal yang begitu istimewa terselip di antara kata-kata yang sederhana itu. “Alasan. Bilang saja kau merindukanku.” Bibir Daejia melengkungkan sebuah senyuman manis. Matanya sedikit memicing penuh selidik ke arah Taekwoon.

 

“Itu termasuk di antaranya,” ujar Taekwoon, tangan kanannya menyentuh lembut rambut Daejia. “Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan mereka.”

 

“Hal penting apa? Hmm…?” tanya Daejia penuh antusias. Ia dibuat semakin penasaran oleh ucapan Taekwoon.

 

“Aku ingin meminta izin untuk menikahimu.”

 

Waktu terasa seperti berhenti. Ada sebuah hunjaman keras meremukkan jantung Siwon. Membuatnya hampir tak mampu bernapas, tercekik. Apa yang baru saja keluar dari mulut Taekwoon benar-benar membunuhnya.

 

“Sebenarnya aku ingin merahasiakan ini darimu. Aku ingin meminta restu dari orangtuamu terlebih dahulu, baru setelah itu aku meminta kesediaanmu untuk menjadi istriku. Tapi aku sendiri sudah tidak sabar. Aku ini benar-benar bukan tipe laki-laki yang romantis, ya…?” Taekwoon sedikit merasa bersalah karena tidak dapat menahan rasa antusiasnya. Cara seperti ini tentu saja sama sekali tak romantis bagi sebagian orang. Seharusnya Taekwoon tetap menjaga rahasia sampai mengantongi restu dari Tuan dan Nyonya Park, baru setelah itu meminta kesediaan Daejia untuk menikah dengannya. Taekwoon sedikit khawatir ketidakromantisan di dalam dirinya akan membuat Daejia menolaknya.

 

Daejia tersenyum melihat pria kikuk yang tengah duduk bersamanya. Ada rasa kagum terpancar dari sepasang mata hazel miliknya dan Siwon dapat melihat itu dengan sangat jelas; Park Daejia terkagum-kagum pada pria kikuk yang duduk bersamanya.

 

“Ya.”

 

Kepala Taekwoon yang semula agak tertunduk karena malu seketika itu terangkat saat mendengar kata “ya” keluar dari mulut Daejia. “Ma’af?” Taekwoon seperti melewatkan apa yang baru saja dikatakan oleh Daejia. Mungkin ia salah dengar.

 

“Ya, Jung Taekwoon. Jawabanku adalah ya. Kau meminta kesediaanku untuk menjadi istrimu, kan? Dan ya, aku bersedia.”

 

“Ta—tapi… aku belum meminta restu dari orangtuamu,” kata Taekwoon dengan ekspresi terkejut yang begitu lucu sehingga membuat Daejia kembali tertawa gemas.

 

“Jung Taekwoon, kita bisa memintanya bersama. Mereka hanya tinggal menyetujuinya saja, kan?” tanya Daejia dengan rona bahagia yang seolah enggan pergi dari wajahnya.

 

Taekwoon tersenyum. Ekspresi kikuk di wajah pemuda itu perlahan-lahan memudar sebelum kemudian berganti dengan raut bahagia sekaligus juga haru. Taekwoon merasakan hatinya menghangat diterpa rasa gembira tak terkira oleh jawaban Daejia tadi. Jawaban yang begitu jelas dan tegas, jawaban yang memang sangat ingin didengarnya.

 

Wajah Taekwoon sedikit memerah. Daejia dapat melihat ada sedikit embun di mata foxy milik kekasihnya. Membuatnya tertular rasa bahagia yang kini tengah menyelimuti hati pria itu, membuatnya tidak tahan untuk menghambur ke dalam pelukan Taekwoon dan mendekapnya dengan penuh rasa sayang.

 

 

Malam itu menjadi malam bahagia bagi Daejia dan Taekwoon, tetapi tidak dengan Siwon. Ini adalah malam terberat yang harus ia lalui. Menyaksikan Daejia begitu bahagia tanpa dirinya membuat Siwon merasa tak berarti. Hampir dari setiap detik waktu yang dilaluinya, tak pernah sekali pun Siwon melupakan Daejia. Bahkan di dalam tidurnya pun pria itu masih merindukan kebersamaan mereka dan canda tawa ringan yang dulu pernah mereka lalui. Siwon sangat ingin memeluk Daejia. Ia ingin wanita itu tahu seperti apa rasa cinta yang ia miliki untuknya, meminta ma’af karena telah mengabaikannya dan mengakhiri semua itu dengan meminta Daejia kepada orangtuanya—hal yang belum sempat dilakukannya ketika mereka masih bersama. Dan kini, Daejia sudah menjadi milik orang lain.

 

Siwon berbalik, memutar tubuhnya yang seakan-akan tak bertulang itu menuju jalan pulang ketika menyaksikan Taekwoon sesekali menciumi wajah dan bibir Daejia di sela-sela pelukan hangatnya. Berakhir sudah, lirih Siwon dalam hati. Daejia sudah tak lagi mencintainya.

 

 

***

 

 

“Choi Siwon, apa kau sudah pulang sekarang? Tolong hubungi aku.”

 

“Choi Siwon, kau baik-baik saja kan? Tolong balas pesanku.”

 

“Choi Siwon, kenapa kau tidak angkat teleponnya?”

 

Pesan suara dari Lee Hyukjae terdengar secara silih berganti dari mesin penjawab di apartemen Siwon. Hyukjae yang sangat mengkhawatirkan sahabatnya sempat membuntuti pria itu dan bertemu di area parkir taman ketika Siwon hendak pulang. Hyukjae mendapati teman karibnya dalam kondisi kusut dan kacau balau. Siwon terlihat begitu sedih. Namun ketika Hyukjae menanyakan apa yang sedang terjadi, Siwon hanya mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada satu hal pun yang terjadi kepadanya. Siwon kemudian pergi begitu saja dengan mengendarai sedan hitam kesayangannya.

 

Hyukjae yang telah bertahun-tahun melewati suka dan duka bersama Siwon sebagai seorang sahabat dan saudara tentu saja tidak serta merta memercayai hal itu. Hyukjae yakin, pasti ada hal buruk yang baru saja menimpa Siwon dan ia tidak ingin sahabatnya melewati itu seorang diri. Ia juga mengkhawatirkan diri Siwon—takut terjadi sesuatu kepada pria itu dan takut Siwon akan berbuat sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Oleh karena itu Hyukjae menghubungi ponsel Siwon berkali-kali, tetapi sayangnya tidak aktif. Dan Hyukjae juga menghubungi nomor kediaman Siwon, tapi tak kunjung diangkat.

 

Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Siwon karena telah membuat Hyukjae khawatir. Tetapi kali ini Siwon benar-benar sedang ingin sendiri. Ia sedang tidak mau mendengar petuah apa pun yang keluar dari mulut Hyukjae. Ia hanya ingin sendiri.

 

“Sial!” Siwon mengumpat kesal ketika menyadari bir di dalam botolnya habis. Entah sudah berapa botol yang ia tenggak dan itu sama sekali tak membuatnya puas.

 

Dengan susah payah, Siwon mencoba berdiri dari sofa di ruang tamunya. Ia berjalan sempoyongan—dengan sesekali berpegangan pada tembok—dan pergi menuju dapur untuk mengambil beberapa botol bir lagi dari dalam lemari pendingin. Tetapi sayang, sebotol bir yang baru saja dihabiskannya tadi adalah botol terakhir yang dimilikinya. Dan Siwon terpaksa kembali ke ruang tamunya dengan gusar, mengumpat tak karuan dan mengutuk apa pun yang dilewatinya.

 

Hingga kemudian, langkahnya terhenti secara tiba-tiba…

 

Sebelum memasuki ruang tamu, Siwon mendapati sebuah kotak kecil teronggok di pojokan ruang makannya, tepat di atas sebuah nakas. Siwon menghampiri kotak itu dan membukanya, dan tertampanglah beberapa perlengkapan P3K seperti perban, plester, alkohol dan obat merah. Ia juga menemukan beberapa jenis obat-obatan seperti paracetamol dan obat tidur.

 

Ya, obat tidur.

 

Entah setan apa yang merasukinya, Siwon mengambil sebotol penuh tablet obat tidur itu dan membawanya ke ruang tamu. Ia duduk tertunduk di atas sofa, membaca dengan seksama aturan pakai, dosis, serta efek yang dapat ditimbulkan oleh obat tersebut. Tidak ada satu pun hal yang menarik perhatian Siwon selain ketika membaca akibat yang dapat ditimbulkan apabila obat itu dikonsumsi secara berlebihan.

 

Ujung bibir Siwon terangkat, terkekeh samar sementara di pelupuk matanya ada air yang mulai membendung. Dengan tangan sedikit gemetar, Siwon membuka tutup botol obat itu dan mengeluarkan isinya. “Satu… Dua… Tiga… Empat… Lima…” Siwon sibuk menghitung tablet-tablet obat yang berada dalam genggamannya. “Enam… Tujuh… Delapan… Sembilan… Sepuluh… Anggap saja makan permen.”

 

Entah karena sudah cukup atau memang sudah lelah menghitung, Siwon membuang sisa obat tidur yang masih berada di dalam botol ke atas lantai dan membiarkan sepuluh butir yang berada di dalam genggamannya. Ia memerhatikan lagi tablet-tablet yang seolah-olah merajuk kepadanya dan meminta untuk segera diminum itu. Siwon menyambutnya dengan sebuah senyum kehancuran; Daejia sudah tak menginginkannya lagi, hidup pun percuma saja baginya.

 

Gemetar, Siwon membuka mulutnya perlahan. Tablet-tablet itu semakin lantang berteriak minta ditelan. Ia bayangkan sebuah ketenangan yang akan diperolehnya setelah tablet-tablet itu masuk ke dalam tubuhnya dan meresap masuk ke dalam aliran darahnya. Siwon akan tertidur dengan sangat tenang. Ia akan terbebas dari semua rasa sakit yang menghancurkan hatinya.

 

Tetapi… hal itu urung untuk dilakukan…

 

Kriiiing… Kriiiing… Kriiiing…

 

Siwon mungkin sudah memasukkan obat tidur itu ke dalam mulutnya jika saja ia tidak mendengar telepon di apartemennya berdering. Suara deringannya cukup lama terdengar, tetapi Siwon sama sekali tidak ingin mengangkatnya.

 

Kriiing… Kriiing… Kriiing…

 

Hingga kemudian, deringan itu berhenti. Dan mesin penjawab yang menjawab panggilan itu…

 

“Di sini Choi Siwon. Silakan tinggalkan pesan. Terimakasih.”

 

Tuut…

 

“Siwon-ah, ini aku, Lee Hyukjae,”

 

Siwon sontak menoleh ke arah telepon ketika mendengar suara Hyukjae di seberang sana.

 

“Dengar, aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi denganmu, tapi kau tidak bisa membohongiku. Mungkin kau sedang butuh waktu untuk menyendiri, silakan saja. Tapi kumohon, seperti apa pun hal yang sedang kaualami, jangan pernah berpikir untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Dunia ini terlalu besar untuk kaupikul sendiri,”

 

Siwon seperti tertohok mendengarnya. Hyukjae seperti dapat menebak apa yang sedang dilakukannya saat ini. Hyukjae tahu sesulit apa malam yang tengah ia coba lewati sekarang.

 

“Kau mungkin telah banyak melakukan kesalahan yang membuat dirimu merasa buruk di depan orang lain. Kauingin memperbaiki semua itu tapi tidak bisa, kauingin mengubah segalanya tapi tidak bisa dan sekarang kau merasa hidupmu sudah tidak ada gunanya? Kau salah. Kau orang baik, Choi Siwon,” kata Hyukjae, lalu hening sejenak.

 

Siwon memalingkan wajahnya dari telepon ketika mendengar kata “baik” masuk ke dalam telinganya. Jika aku orang baik, aku tidak akan menyakiti perasaan Daejia, pikirnya.

 

“Apa kauingat saat ayahmu memutuskan untuk pensiun dan kau dengan senang hati mau menggantikannya mengurus perusahaan? Kau anak yang baik. Lalu ketika dulu kaki adikmu patah dan dia hanya mau kau yang menggendongnya setiap kali pergi ke sekolah dan kau selalu menurutinya, apa kauingat itu? Kau kakak yang baik,” kata Hyukjae lagi. “Dan… saat aku mulai hobi mengoleksi film-film Maria Ozawa dan tidak mau berhenti menontonnya, kau memarahiku, mengkhotbahiku sampai aku muak dan kesal kepadamu, kauingat itu kan? Kau sahabat yang baik, Choi Siwon. Kaudengar aku?”

 

Siwon tercekat mendengar kata-kata Hyukjae, matanya mulai berkaca-kaca. Bukan karena mendengar tentang betapa ‘mulia’nya ia di mata Hyukjae, tetapi karena dirinya sadar ada begitu banyak hal yang selama ini telah dilupakannya. Yaitu, orang-orang terkasihnya—keluarga dan sahabatnya. Bagaimana bisa Siwon melupakan orang-orang yang begitu tulus mencintainya sementara dirinya sendiri sibuk mengais sisa-sisa cinta dari orang lain?

 

Tanpa sadar, semua tablet obat tidur yang berada di dalam genggamannya terlepas, jatuh berhamburan di atas lantai. Siwon sudah tidak mampu lagi menahan airmatanya dan menyadari semua tindakan keliru yang hampir saja menghilangkan nyawanya setelah teringat wajah orang-orang selama ini ia lupakan. Tertunduk dengan airmata bersimbah di pipinya, Siwon menyesali semua perbuatannya.

 

“Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu, jika kaubutuh bantuan, kau bisa hubungi aku. Aku akan membantumu sebisaku, mengerti?” Suara Hyukjae masih terdengar. “Jika saat ini kau memang sedang ingin sendirian, take your time. Tapi ingatlah sekali lagi, dunia ini terlalu berat untuk kaupikul sendirian. Jangan pernah berpikir untuk bertindak gegabah.”

 

Dengan kepala pening dan langkah yang berat, Siwon mencoba berjalan ke arah telepon. Ia telah membuat Hyukjae begitu khawatir. Dan ia merasa harus membuat sahabatnya itu berhenti mencemaskannya.

 

“Jika terjadi sesuatu denganmu, lantas siapa lagi yang akan membantuku menjauhkan diri dari Maria Ozawa? Huh? Apa kau tega melihatku dicap sebagai pria mesum seumur hidupku? Lalu bagaimana jika tiba-tiba saja aku justru terpesona pada Sora Aoi? Bagaimana dengan nasib Maria Ozawa nanti? Aku tidak akan bisa memil—”

 

“BERISIK!!!”

 

Hyukjae yang sedang berbicara panjang lebar di seberang sana mendadak bungkam ketika mendengar Siwon menghardiknya dengan sangat keras.

 

“Ini sudah larut malam dan aku ingin tidur. Berhentilah mengoceh!”

 

BRAKK!!!

 

Siwon menutup teleponnya dengan keras. Ia yakin Hyukjae pasti terkejut mendengar suara itu, tetapi ini adalah satu-satunya cara agar Hyukjae berhenti mengkhawatirkannya. Siwon sudah terlalu banyak menyusahkan pria itu, tetapi apa yang telah Hyukjae katakan tadi berhasil menyelamatkan nyawanya. Betapa Siwon menyadari bahwa sampai kapan pun dirinya akan selalu menyusahkan seorang Lee Hyukjae; sahabat yang senantiasa berhasil membuatnya bangkit dari keterpurukan.

 

“Terimakasih, Hyukjae-ya…”

 

 

 

“You’re not alone
There is more to this
I know you can make it out
You will live to tell…”

 

Saosin – You’re Not Alone

 

 

 

 

 

TBC

oneironaut quote by lady modrus

 

Eaaaaaa…… Mian ya baru bisa lanjutin FF-nya sekarang. Soalnya mesti mengumpulkan mood yang sedang tercerai-berai dulu sih… Wkwkwkwk…. *GA PENTING* Wokeh, minta saran dan kritik seikhlasnya dan seridhonya. Dan khusus untuk Neng Arisa Kim, ma’af Hyoseul-nya ga jadi muncul di part yang ini. Soalnya yang bersangkutan lagi sibuk bolak-balik Afghanistan-Irak buat nganterin pesanan kolak. Insya Allah, mungkin di part selanjutnya beliau(?) bisa menampakkan diri dalam bentuk vortex(?). 😀

Iklan

5 responses to “fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-4

  1. Mian baru bisa baca, aku lagi sibuk jadi panitia bukber bareng ustadz siswono :3

    Emm… Sebenarnya ini aku agak bingung, soale udah lupa part sebelumnya, kelamaan dilanjut sih *lempar author* itu cintanya Siwon ke Daejia seberapa besar sih, sampe nekat gitu dia, jadi kasian sekaligus malas juga liatnya -,- keteralayan boo macam perempuan cuma ada satu aja di dunia padahal disini ladymodrus masih ngarepin dia dengan sangatt :v btw ukje bisa bijak kayak gitu, jadi jatuh love :3

    Ohiya aku cuma kasi tiga bintang soale Hyoseul g nganterin kolak ke rumah aku :v

    Disukai oleh 1 orang

    • miaaaan baru bales, aaaaaannn 😀

      lha harap maklum orang alay mah katanya bebas, makanya kalo udah cinta ama seseorang mesti kesampean biar ga ngeces gitu *mampus deh eikeh digatak bini2nye wono*

      ma’af ye, kolaknya ga nyampe tujuan. ane dirampok mafia kolak internasional. wkwkwk…. 😀

      Suka

  2. oalahhh ternyata Hyoseul temen sekolah dulu toh, dari dulu juga diem2 naksir Siwon rupanyaaa.. aku ngakak pas Siwon mikir Hyoseul udah mati ngehantuin dy hoakakk kesian bener tragis gitu

    “Dengar, Choi Siwon. Otak manusia merekam apa pun yang dilihat oleh mata. Dari hal besar sampai hal-hal paling kecil yang tidak kau perhatikan sama sekali. Dan otak juga bisa sewaktu-waktu memutar kembali hal-hal kecil itu dan memunculkannya ke dalam mimpi dalam bentuk proyeksi.” .<

    AKU SENENG BANGET SCENE DILAMAR LEOOOOO tapiiii kasian jugakkkk ama Siwonnnn duhhh masssstenang aja Hyoseul siap menyembuhkan luka hatimu #halahhh *btw ini kok kamu tauuuu Leo kalo udah malu2 gitu mendadak awkward hoakakkkkk

    asli makin dibaca karakter unyuk ini makin pinter makin bijak ajah, sukak aku pas dy nyadarinSiwon yang hampir mo bunuh diri

    nah sekarang komentar buat cara penulisanmu, komentarku KEREEENNN!! asli kemajuanmu jauh banget,makin rapi makin cantik rangkaian katanya, pokoknya udah passs lahhh (y) (y) (y)

    Disukai oleh 1 orang

    • sorry, song baru baleeeessss 😀 hhuuuweeeeeehhhhhhhh………. komentarku yang kemarin kepotong dengan teramat sangat sadis sekali T______T

      ya, itulah teganya siwon,,, hyoseul dikira udah metong. jangan2 emang udah metong duluan. wkwkwkwkwk….. 😀

      aku sebenarnya mikirnya leo ga ada akward2nya sama sekali di kehidupan nyatanya gitu, makanya di sini aku bikin agak malu2 rubah(?) begono. ga taunya dia emang gitu yak? kkkk…. aku malah jadi kepingin bikin scene daejia ngobrol bareng ama siwon ini, song. wkwkwkwk

      unyuk bijaknya angot2an dia mah… kalo otaknya lagi lempeng aja bisa bijak, kalo lagi bengkok(?) mikirnya maria ozawa melulu 😀

      teeengkyuuuuuuuuuuuuuuu, song jiaaaaaaaaa 😀 padahal aku agak frustrasi belakangan ini gara2 kayaknya diksiku ga ada perubahan sama sekali T_____T cuma ya emang mesti dipaksain juga biar bisa tetep lanjut nih ff. kkkkeee… btw, kutunggu blog barumu yaaaa… 😀

      Suka

  3. Ping-balik: Hai, Veronika! – Panda Fanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s