fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-4


allthedreamsaboutyou

 

Author : @ladymodrus
Genre : Romance, Friendship, Fantasy
Cast (in this part) : Choi Siwon, Lee Hyukjae, Park Daejia (OC), Jung Taekwoon (Leo VIXX)
Length : Chaptered
Rate : PG-17

 

CHAPTER 4 – She Loves Me Not

 

“Kini kautelusuri jalan-jalan memori
Kauharap ‘kan bertemu kekasih yang kaurindu
Tiada bisa kau lupa wajah dan senyumannya
Semakin lama kaucoba melupakan dirinya
Semakin dalam kaurasa…”

Dewi Yul – Kini Baru Kau Rasa

 

 
โ€” Author’s POV โ€”

 

Siwon hanya bisa memijat keningnya sendiri akibat dari mimpi semalam. Lelah, itulah yang sedang dirasakannya. Dan mimpi itu membuatnya sedikit merasa takut. Apa yang terjadi semalam sangat tidak biasa baginya. Siwon hanya berusaha berpikir sepositif mungkin; apa saja bisa terjadi di dalam mimpi. Tapi gadis bernama Shin Hyoseul itu…

 

“Tidak mungkin,” ucapnya pada dirinya sendiri. Setelah bangun tidur pagi tadi, Siwon baru mengingat siapa gadis itu. Shin Hyoseul adalah salah seorang teman sekelasnya di SMA dulu. Ia duduk di belakang Hyukjae, paling pojok dan paling belakang. Dia gadis yang sangat tertutup dan tidak memiliki banyak teman. Tetapi Siwon ingat Hyoseul pernah berjasa untuknya. Baca lebih lanjut

Iklan

fanfiction | THE VAMPIRE HUNTERS


the vampire hunters by lady modrus

 

Author : @ladymodrus
Genre : Silakan cari sendiri
Cast : Choi Siwon, Shin Hyoseul (OC)
Length : Drabble
Rate : General

***

Siwon duduk termangu di ruang apartemennya, kesal. Reputasinya sebagai seorang pemburu vampir sedang terancam. Kegagalannya dalam memburu makhluk penghisap darah bernama Kyuhyunlah yang telah membuatnya kehilangan muka di depan banyak orang. Karena ketidakcermatan Siwon dalam melacak keberadaan Kyuhyun, seorang gadis bernama Je Eun tewas mengenaskan. Meskipun akhirnya Kyuhyun berhasil dimusnahkan, nama Siwon sudah terlanjur tercoreng. Baca lebih lanjut

fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-3


allthedreamsaboutyou

 

 

Author : @ladymodrus
Genre : Romance, Friendship, Fantasy
Cast (in this part) : Choi Siwon, Lee Hyukjae, Shin Hyoseul (OC)
Length : Chaptered
Rate : PG-17
Cover by : Bbon Art

 

Hehehe… Annyeong! ^^ Lady Modrus balik lagi. *sumpah ga penting banget* ๐Ÿ˜€ Mian ye, lanjutnya kelamaan, observasi dulu soalnya. *sok* Dan sesuai permintaan dari Song Jia, chapter kali ini pake Author’s POV. Kekeke… ๐Ÿ˜€

Orang asing makan puding. No bashing, happy reading *pantun*

ENJOY! ๐Ÿ˜€

 

 

CHAPTER 3 – Broken Dreams

 

 

“Suddenly the moment’s gone
And all your dreams are upside down
And you just wanna change the way the world goes round”

S Club 7 – Have You Ever

โ€” Author’s POV โ€”

Seminggu sejak mimpi pertamanya, Siwon telah mengalami tiga kali mimpi sadar dan semuanya selalu sama; pantai dan Park Daejia. Sugesti yang ia berikan kepada dirinya sendiri mungkin sangat kuat sehingga ia dapat dengan mudahnya melakukan Dream Recallโ€”mengulang mimpi. Siwon masih ingat bagaimana kemudian dirinya berjalan mendekati Daejia dengan hati penuh gempita. Bahkan di mimpi terakhirnya semalam, Siwon sempat berlari untuk menggapai Daejia. Tetapi sayang, semua mimpi yang dilewatinya juga selalu berakhir sama; pandangan Siwon tiba-tiba mengabur kemudian gelap seluruhnya. Dan setelah itu, Siwon tidak dapat mengingat apa-apa lagi.

 

“…dan setiap kali aku ingin mendekati Daejia, pandanganku selalu mengabur. Aku tidak tahu apa yang telah membuat mimpiku menjadi seperti ini…” Siwon mengetik jurnal mimpinya dengan sangat detail. Segala apa yang ia lihat dan rasakan ketika berada di alam mimpi diceritakannya dengan begitu terperinci. Lagipula Hyukjae pernah berkata kepadanya bahwa membuat jurnal mimpi dapat mempermudahnya untuk melakukan dream recall. Baca lebih lanjut

fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-2


allthedreamsaboutyou3

 

 

Author : @ladymodrus
Genre : Romance, Friendship, Fantasy
Cast (in this part) : Choi Siwon, Lee Hyukjae, Park Daejia (OC)
Length : Chaptered
Rate : PG-17
Cover : Bbon Art

***

CHAPTER 2 – Way Back Into Love

“…All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love…”

Hugh Grant & Haley Bennett – Way Back Into Love

 

 

โ€” Author’s POV โ€”

Sudah hampir jam satu malam, Siwon masih terjaga di atas tempat tidurnya. Ia masih memikirkan pembicaraannya dengan Hyukjae tadi. Bukan tentang mengambil cuti dan rehat sejenak dari urusan perusahaan, tetapi tentang mimpi sadar. Mungkinkah itu benar-benar bisa dilakukan? Jika memang benar, lantas bisakah dirinya bertemu dengan Daejia di dalam mimpi?

Siwon tidak akan mendapatkan jawabannya apabila ia hanya berbaring memikirkan itu tanpa adanya usaha untuk mencari tahu. Oleh karenanya, Siwon bangun dari atas pembaringan dan mengambil laptopnya. Tanpa ragu lagi, Siwon segera mengetikkan kata “Lucid Dream” di sebuah situs pencari. Ia ingin memastikan apakah benar mimpi sadar itu ada atau hanya sekedar gurauan Hyukjae saja. Hasilnya cukup mengejutkan. Artikel tentang mimpi sadar ternyata cukup banyak. Bahkan ada pula situs khusus untuk menulis jurnal mimpi. Tetapi mata Siwon hanya terfokus pada satu artikel berjudul “Cara Mendapatkan Lucid Dream“. Itulah yang sedang dicarinya. Baca lebih lanjut

fanfiction | ALL THE DREAMS ABOUT YOU Chapter-1


allthedreamsaboutyou

 

ALL THE DREAMS ABOUT YOU

Author : @ladymodrus
Genre : Romance, Friendship, Fantasy
Cast (in this part) :
Choi Siwon, Lee Hyukjae, Park Daejia (OC), Jung Taekwoon (Leo VIXX), Cha Heejoo (OC)
Length : Chaptered
Rate : PG-17
Cover by : Bbon Art

CHAPTER 1 โ€“ Stuck In A Moment

โ€œEven though I pretend that I moved on, youโ€™ll always be my baby.โ€
S Club 7 โ€“ Never Had A Dream Come True

***

โ€” Siwonโ€™s POV โ€”

Warna jingga keemasan bertahta di atas kepalaku. Hangat sinar sang surya seakan merasuki tubuhku dengan nyamannya. Aku rasa ini sepadan dengan apa yang telah kulalui selama seharian ini. Setidaknya penat di kepalaku berangsur-angsur berkurang, rasa lelah itu seolah terbayarkan dengan pemandangan indah kota Seoul di sore hari ini; hari yang bisa dibilang cukup berat untuk kujalani.

Serangkaian meeting dan segala macam tugas kantor membuatku hampir gila. Dua tahun terakhir ini aku hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Bahkan aku tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri. Sangat menyebalkan bukan? Tetapi sayangnya, aku sadar segala macam tugas yang harus kukerjakan di perusahaan bukanlah bagian terburuk dari hidup yang sedang kujalani ini. Baca lebih lanjut

fanfiction | FREAKS: Breakaway


Author : Lady Modrus.
Genre : Friendship, Comedy, Fantasy, Romance.
Cast :
– Lee Donghae.
– Cho Kyuhyun.
– Choi Siwon.
– Shin Hyoseul (OC).
Length : Oneshoot.
Rate : T, PG-13.
Cover : ICFF.

Sebenarnya Author nulis FF ini untuk menghibur teman-teman yang mungkin lagi down. Mudah-mudahan sih terhibur… ^^

Desclimer : All cast mutlak milik Allah The Almighty, cuma FF ini yang mutlak milik Author. DILARANG COPAS TANPA IZIN APALAGI TANPA CREDIT. Don’t you ever claim it as yours!
WARNING!! Typo(s), OOC, non-EYD, bahasa tidak baku, cerita tidak menarik dan lain sebagainya. If you don’t like this fict, don’t read this.

No bashing!
Happy reading ^^

###

freaks breakaway ff cover

“Don’t you ever wish you were someone else
You were meant to be the way you are exactly
Don’t you ever say you don’t like the way you are
When you learn to love yourself, you better off by far…”

— Joey McIntyre —

ย 

Namaku Lee Donghae. Aku adalah seorang siswa yang beruntung dapat bersekolah di sebuah SMA ternama di Seoul atas bantuan beasiswa. Tapi—tunggu sebentar—apakah tadi kubilang ‘beruntung’? Untuk beasiswa itu mungkin ya, tapi untuk selebihnya? Kurasa tidak. Baca lebih lanjut

fanfiction | THE DAMAGE


Author : Shin Hyoseul (@ladymodrus).
Genre : Thriller, Fantasy (dua-duanya ga yakin banget).
Cast : Andrew (Siwon) & Scarlett (OC).
Lenght : Drabble.
Rate : T, PG-15.

Annyeong-onyong-onyong… ๐Ÿ˜€ Kali ini Author bawa Drabble yang merupakan debut pertama bagi cast bernama Scarlett Jaqueline Winchester yang tidak lain dan tidak bukan adalah nama Western dari Shin Hyoseul #GUBRAK!! XD Semoga readers suka. Hehehe… #ngarep.com ๐Ÿ˜€

Desclimer : All cast mutlak milik Allah The Almighty, cuma FF ini yang mutlak milik Author. DILARANG COPAS TANPA SEIZIN AUTHOR APALAGI TANPA CREDIT. Don’t you ever claim it as yours!
WARNING!! Typo(s), OOC, non-EYD, bahasa tidak baku, cerita tidak menarik dan lain sebagainya.

No Bashing!!
^^ HAPPY READING ^^

pizap.com10.34571479912847281372501787562

###

 

 

 

 

Gelap, itulah kesan pertamaku ketika memasuki rumah. Tidak seperti biasanya istriku mematikan lampu ruang tamu pada jam segini. Ini masih terlalu sore.
“Scarlett?” panggilku mencarinya. Tidak ada jawaban. Apa mungkin dia sudah tidur? pikirku.
“Sayang, aku pulang…” kataku lagi. Namun masih tidak ada jawaban. Tanganku meraba-raba tembok di dekat pintu -mencari saklar untuk menyalakan lampu.

KLEK.

Lampu menyala, keadaan yang semula gelap gulita kini berubah menjadi terang oleh cahaya yang berasal dari sebuah lampu besar yang tergantung di tengah langit-langit ruangan. Semula aku berpikir akan menemukan Scarlett sedang tertidur di atas sofa seperti bagaimana biasanya. Ternyata aku salah. Aku justru mendapati ruang tamu rumah kami dalam keadaan hancur berantakan. Pecahan kaca berserakan dimana-mana, sofa tempat aku dan Scarlett biasa menghabiskan waktu bersama berada jauh di dapur -menimpa meja dapur, piring dan gelas yang juga hancur berantakan. Ada apa ini? Apa yang telah terjadi? tanyaku dalam hati. Pasti ada seseorang yang telah masuk ke dalam rumah ini dan mengobrak-abrik semuanya. Scarlett. Dimana dia? Aku harus mencarinya! Aku takut telah terjadi sesuatu kepada istriku.

Segera kuberlari menaiki anak tangga yang pegangannya sedikit patah menuju ke lantai atas. Dengan terburu-buru, aku berjalan menuju kamar utama. Jantungku seperti ditabuh dengan sangat keras karena dihinggapi rasa khawatir terhadap keselamatan Scarlett. Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku segera masuk ke dalam kamar kami. Namun ketika aku membuka pintu kamar, aku justru mendapati situasi yang jauh lebih parah dengan apa yang kutemui di ruang tamu di lantai bawah tadi. Sebagian besar dinding kamar yang terbuat dari kayu hancur dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Scarlett. Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi, tetapi istriku juga tidak berada di dalam sana. Aku hanya menemukan ikat rambut miliknya tergeletak di atas lantai.

Aku tahu aku harus tenang, tapi dengan menghilangnya Scarlett membuatku tak mampu berpikir. Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Dimana dia sekarang? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa yang telah melakukan semua ini? Pertanyaan seperti itu bertubi-tubi menghujam kepalaku silih berganti. Aku hanya bisa menjambak rambutku sendiri karena kesal akan kebodohanku. Aku telah gagal melindungi istriku.
“Ya Tuhaan…” ucapku lirih. Aku memungut ikat rambut berwarna hitam itu dari atas lantai dan mengepalnya erat di dalam genggamanku. Aku ingat belakangan ini Scarlett sering berkata aneh. Ia selalu menanyakan apakah aku akan tetap menerima ia apa adanya? Dan apakah aku akan tetap mencintainya apapun yang terjadi? Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataannya. Dan kini aku baru menyadari bahwa itu adalah sebuah pertanda dari semua ini.

“Scarlett…” aku tak sanggup lagi berdiri. Aku tenggelam di antara kebingungan, kesedihan dan penyesalan. Aku hanya bisa duduk bersandar di sisi bathub tempat Scarlett biasa berendam. Wajahku terasa panas, air mataku mengalir dengan begitu saja tanpa diperintah. Aku merasa sangat kacau, bodoh dan tak berguna. Sesuatu yang buruk telah menimpa istriku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.

BRUGHH!!!! BRAKK!!!!

Ratapanku berakhir ketika aku mendengar ada suara gemuruh dari dalam kamar. Dapat kurasakan pula rumah ini sedikit berguncang ketika suara itu muncul. Aku bangun dari lantai dan bergegas keluar dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat atap rumah kami ambruk dan menimpa tempat tidur. Seorang pria berjas hitam dan berperawakan besar tampak tergeletak tak berdaya di antara reruntuhan. Wajahnya basah dan melepuh seperti habis disiram oleh air keras. Ia sedikit mengerang dan tubuhnya gemetar. Dengan langkah ragu, aku melangkahkan kakiku mendekati pria itu. Namun, ketika aku hampir sampai…

“MENYINGKIR…!!!” sebuah suara memintaku untuk pergi menjauh dari pria asing itu. Aku reflek mundur dan menjauhi tempat tidur. Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita muda melompat dari atas atap dan jatuh menindih tubuh pria berbadan besar itu.

BRUGHH!!!

Si pria meronta hebat ketika melihat tangan wanita itu menggenggam sebuah benda. Itu pasak perak! pekikku dalam hati. Kedua mataku membulat ketika melihat benda aneh itu -yang kupikir hanya ada di dalam film. Pria itu menjerit, berteriak lantang dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Dan ketika mulutnya terbuka, aku dapat melihat ada sepasang taring di antara jajaran giginya. Taring yang panjang dan runcing. Wanita berpiyama biru itu memukul wajah pria di bawahnya dengan sangat keras menggunakan tanggannya. Dan sesaat kemudian, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ia menghujamkan pasak perak yang digenggamnya tepat ke dada kiri pria bertaring tersebut.

“AAAAAAAAAAAA………………!!!!!!!!!” pria itu menjerit panjang dengan suara yang begitu memekakan telinga. Aku menutup kedua telingaku karena suara jeritannya membuat telingaku sakit. Wanita itu menusukkan pasaknya semakin dalam menembus jantung sehingga membuat pria yang tergeletak di bawahnya menggelepar kesakitan. Dan tiba-tiba saja, seluruh wajah dan tubuh pria itu dipenuhi oleh banyak luka yang entah dari mana datangnya. Semua luka itu seketika langsung mengering dan menghanguskan tubuh pria itu tanpa ada sisa.

Aku terperanjat melihat apa yang baru saja terjadi di depan mataku. Apakah aku baru saja melihat Vampir? pikirku. Aku hanya bisa terpaku melihat wanita itu. Ia membuang pasak perak yang semula digenggamnya entah kemana. Dan dengan napas terengah, wanita itu turun dari atas tempat tidur dan berjalan dengan langkah gontai ke arahku. Ia berhenti tepat satu meter di depanku. Aku tidak bisa mempercayai semua yang telah kulihat, namun ini memang nyata dan aku juga sedang tidak bermimpi.
“Andrew.., kau sudah pulang rupanya.” ucapnya seraya melemparkan senyum seadanya ke arahku. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya menghampirinya dan memeluk erat tubuhnya yang lemah…

“Scarlett… Syukurlah kau tidak apa-apa.”

 

 

 

 

~THE END~

fanfiction | MIDNIGHT FANTASY


Author: Nj aka Shin Myung Hee
Cast:

-Min Seul Hee
-Kim Kibum
-Oh Yeon Soo
-Lee Donghae
-Kang Dae Beum
Genre: Romance, Fantasy(dikit)
Length: oneshoot

 

Seul Hee POV

 

Lagi. Aku terjebak di tempat ini lagi. Bersama dengan namja ini lagi. Tapi entah mengapa aku merasa begitu nyaman saat bersamanya. Seakan tak lagi ada hal yang harus aku cemaskan. Kini aku tengah menyandarkan kepalaku di bahunya. Hangat. Aku sangat menyukainya. Aku mendongakkan kepalaku. Mencoba mencari seraut wajah yang teduh itu. Matanya terpejam. Begitu polos. Aku tersenyum. Kali ini kualihkan pandanganku pada tangannya. Kuraih tangan yang lebih mirip dengan tangan yeoja itu. Aku tautkan jari jariku dengan jemarinya. Ia melenguh. Dan mulai membuka matanya. Aku rasa sentuhan tanganku membuatnya terjaga dari tidurnya.
“mmm maaf, aku membangunkanmu.”
Dia menggelengkan kepalanya. Aku menangkap seulas senyum dari bibirnya. Ya tuhan. Indah sekali. Entah mengapa aku masih saja terpana setiap kali melihat senyumnya. Dia mengacak rambutku pelan. Membuatku tersadar dari lamunanku. Aku suka saat dia melakukannya. Ah tidak. Aku rasa aku memang menyukai semua hal yang dilakukannya. ‘grepp’.Tiba tiba saja dia menarikku kedalam pelukannya. Nyaman sekali. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Dan seakan detak jantungnya menghipnotisku untuk tertidur. Mataku semakin berat. Perlahan tapi pasti aku mulai memejamkan mataku.

* * * *

“YA! Seul Hee! Sampai kapan kau akan memandangi gaun itu?”
Ocehan temanku membuatku terjaga dari lamunanku.
“Aish! Tidak bisakah kau bicara lebih pelan? Kau hampir membuat jantungku copot.”
“salahmu sendiri. Siapa suruh kau melamun saat bekerja. Kalau ketahuan manajer Nam kau bisa mati! Sekarang kau harus fokus. Kau dengar aku. Fokus! Melamunlah sepuasmu nanti dirumah! Mengerti?!”
“Aish! Iya iya aku mengerti. Berhentilah mengoceh. Telingaku sakit mendengar ocehanmu.”
“Kau pikir kenapa aku melakukan semua ini, huh? Semua ini demi dirimu. Susah payah aku mendapatkan pekerjaan ini untukmu. Dan kau mau menyia nyiakannya hanya demi memenuhi hasratmu untuk melamun. Kau tau kan betapa galaknya manajer Nam? Melakukan satu kesalahan saja kau bisa dipecat. Dan aku tidak mau kau kehilangan pekerjaan ini dan harus bersusah payah lagi mencari pekerjaan baru yang mungkin hanya akan memberimu beberapa ribu won. Dan itu artinya kau harus hidup menderita lagi. Dan aku sebagai sahabatmu tidak mau melihatmu menderita. Jadi berhentilah membuat masalah.”
Aku hanya bisa memasang muka pabo saat dia menyampaikan ceramahnya itu.
“Apa kau sudah selesai nona Oh Yeon Soo?” mimik wajahnya terlihat lucu saat mendengar ucapanku tadi.
“issh! Kau ini!” kini dia mengerucutkan bibirnya. Haha. Aku gemas melihatnya.
“Aww! Kenapa kau mencubit pipiku? Aww. Apo”
“Habisnya, kau ini terlihat sangat menggemaskan saat marah. Hehehe. Iya aku akan serius bekerja. Jangan khawatir. Aku tidak akan membuat masalah lagi.” Aku menghambur kedalam pelukannya.
“Yeon Soo. Gomawo.” ujarku sedikit berbisik.
“mwo? Ah nde. Cheonma”

* * * *

‘kriekk’ Seul Hee menghempaskan tubuhnya ke lantai. Kakinya terasa pegal.
Bukan hanya kaki, tapi juga seluruh tubuhnya. Sepanjang hari ia harus berdiri dengan high heels melekat di kakinya. Berjalan kesana kemari melayani customer yang datang. Belum lagi omelan yang harus ia dapatkan ketika ada pelanggan yang tidak puas dengan pelayanannya. Seul Hee mengurut kakinya yang dirasanya pegal. Tak lama kemudian ia bangkit dan masuk kedalam kamar mandi. Tak butuh waktu untuknya membersihkan tubuhnya. Ia mengambil alas tidur, bantal dan selimut dari lemari di pojok kamarnya kemudian menggelarnya dilantai kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas alas tidurnya. Menarik selimutnya yang hangat untuk menutupi tubuhnya yang mungil. Tak berapa lama kemudian ia sudah tenggelam dalam mimpinya.

Seul Hee P.O.V
Aku mengulurkan tanganku. Meraih tetesan air hujan dengan ujung jariku. Dingin. Aku menggosok kedua lenganku untuk memberikan sedikit rasa hangat pada tubuhku. ‘eoh, apa ini?’ batinku ketika aku merasakan ada seseorang yang menyelimuti bahuku dari belakang. Kurasakan lengannya melingkar di pinggangku. Kemudian ia mencium puncuk kepalaku.
“Sedang apa kau di
luar? Disini dingin. Kajja, kita masuk. Aku sudah membuatkan coklat panas kesukaanmu.”
“shireo. Kan sudah ada Oppa. Begini juga sudah hangat.” kataku manja.
“jinjja?”
“hu um” aku menganggukkan kepalaku. Sejujurnya aku hanya tidak ingin momen ini berlalu. Aku terlalu menyukai pelukannya. Nyaman. Kenyamanan yang tidak bisa aku dapati kecuali saat bersamanya.
“Oppa…”
“Ne…” aku menengadahkan kepalaku berusaha menangkap bayangan wajahnya di pelupuk mataku.
“Kapan kau akan melamarku?” aish. Pertanyaan macam apa ini? Pabo! Seul Hee pabo! Tapi lagi lagi dia tersenyum. Apa dia tidak tahu setiap kali dia tersenyum, kakiku akan jadi lemas. Dan benar saja tubuhku saat ini sudah dengan sempurna terhempas di lantai. Aku meregangkan tubuhku. Aku melirik jam didinding kamarku. Aigoo!! Sudah jam 7! Bagaimana ini. Aku pasti akan terlambat. Aku segera bangkit dan menyambar handukku. Dan bergegas mandi.

* * * *
‘jiess’ pintu bus terbuka dan segera ku jejakkan kakiku di atas trotoar. Aku bergegas menuju butik tempatku bekerja. Mudah mudahan saja manajer Nam belum datang. Tapi aku rasa tidak mungkin. Dia orang yang tepat waktu. Selama aku bekerja disana. Sekalipun aku tidak pernah melihatnya terlambat. Min Seul Hee tamatlah riwayatmu!
Aku memutuskan untuk berlari. Aku tidak sanggup membayangkan wajah murka manajer Nam. Min Seul Hee bodoh! Kenapa kau bisa bangun kesiangan? Eoh, itu dia. Akhirnya aku sampai. Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafasku. Kakiku gemetar. Aku menghirup udara sebanyak banyaknya hingga mencapai kapasitas maksimum paru paru ku. Kemudian menghembuskannya perlahan. Dengan perasaan takut aku mulai memasuki butik didepanku ini. Tapi tiba tiba
‘plakk’ seseorang memukul kepalaku entah dengan apa aku tidak tahu. Spontan aku langsung berlutut, menundukan kepalaku dan mengatupkan kedua telapak tanganku diatas kepalaku.
“Maafkan aku manajer Nam. Aku mohon jangan pecat aku. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi”
‘pletak’ sebuah jitakan dengan mulus mendarat di kepalaku. Aku meringis merasakan sakit di kepalaku.
“YA! Yeoja bodoh! Cepat berdiri dan mulailah bekerja” suara itu.,Itu bukan suara manajer Nam. Itu suara seorang yeoja. Oh Yeon Soo! Aku segera membuka mataku dan kembali bertumpu pada kedua telapak kakiku.
“Yeon Soo! Dimana manajer Nam? Harusnya dia yang ada disini dan memarahiku. Bukannya kau.”
“Aissh! Aku benar benar tidak mengerti dengan jalan fikiranmu. Seharusnya kau bersyukur bukan dia yang memergokimu. Kau beruntung hari ini manajer Nam libur. Kalau tidak kau pasti sudah mati!” aku hanya bisa memperlihatkan eye smile dan deretan gigi putihku.
“sudahlah. cepat kau rapikan seragammu dan mulailah bekerja!”
“hehe…siap bos!” akupun beranjak dari hadapan Yeon Soo untuk merapikan seragamku. Saat aku kembali ke meja kami, ia menyodorkan sebuah termos kecil.
“Apa ini?”
“Kau tidak tahu? Itu kan termos”
“issh. Sama sekali tidak lucu.” Aku mempoutkan bibirku. “Maksudku isi termos itu.”
“itu coklat panas kesukaanmu”
‘DEG’ coklat panas? Seketika aku teringat pada mimpiku semalam. Namja itu juga membuatkan coklat panas untukku. Entah kenapa namja itu selalu muncul dalam mimpiku. Sejak kapan dan sudah berapa kali ia muncul di dalam mimpiki pun aku tidak ingat. Yang aku ingat hanyalah kenyamanan yang selalu ia berikan, Wajahnya yang teduh dan tentu saja senyumnya. Senyum yang selalu membuatku tidak berdaya. Dia selalu membuat mimpiku jadi indah. Tapi dia juga membuat kenyataan terasa lebih menyakitkan untukku. Tak jarang aku menangis saat aku terjaga dari mimpiku. Mengingat betapa bahagianya aku ketika bersamanya yang sayangnya semua itu hanyalah bunga tidur. Bukanlah sebuah kenyataan. Setiap malam menjelang tidur aku berdoa agar namja itu tak lagi muncul dalam mimpiku. Tapi seakan tuhan tak mendengar pintaku. Tetap saja namja itu muncul dan menemaniku hidup dalam mimpiku.

“Oppa aku lelah…”keluhku setelah hampir 2 jam berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah taman ini.
“sebentar lagi kita sampai. Bersabarlah. Atau kau mau kugendong?” aku menggeleng. Aku tahu dia pasti juga lelah.
“Ah tidak. Aku masih bisa jalan sendiri.”
“Ayolah tidak apa-apa. Naiklah kepunggungku” kini dia sudah berjongkok membelakangiku. Terpaksa aku menerima tawar
annya karena memang kakiku ini sudah tidak sanggup menopang tubuhku.
Aku mulai naik kepunggungnya. Melingkarkan kedua lenganku dilehernya. Dia mulai berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan kami yang entah kemana tujuan kami.
“Oppa…”
“Ne..”
“Aku berat ya?”
“Iya”
“Kalau begitu turunkan saja aku. Aku masih bisa jalan sendiri”
“Tidak mau.”
“Kau pasti lelah. Sudah turunkan saja aku”
“Tidak. Bukankah kau menyukai punggungku?”
“Mwo? Menyukai punggungmu?” Bagaimana dia bisa tahu?
“Ti tidak. Kenapa kau bisa seperti itu?” elakku
“bukankah kau sendiri yang bilang”
“kapan aku bilang aku menyukai punggungmu?”
“kau ingat saat kau sakit 3 bulan yang lalu?”

Flashback On

Author’s P.O.V
Namja itu sedang berada didapur. Tangannya sibuk mengaduk bubur di dalam sebuah panci kecil. Dia terlalu fokus pada bubur dihadapannya hingga hampir melompat saat merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya.
“Seul Hee! Kau ini mengagetkanku saja!”
Seul Hee tertawa karena telah berhasil mengagetkan namja itu.
“Mianhae Oppa.”
“Lagipula kenapa kau ada disini. Istirahatlah dikamar. Sebentar lagi buburnya matang. Aku akan segera menyusulmu.”
“Tidak mau.”
“Kalau kau tidak istirahat bagaimana kau bisa sembuh? Sudah. Lepaskan aku dan pergilah kekamarmu.”
“Tidak mau. Aku suka punggungmu”

Flashback Off

“Kau tidak bisa mengelak lagi kan? Hahaha” namja ini menang telak atas Seul Hee. Sementara Seul Hee hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
“iya iya Oppa. Aku memang menyukai punggungmu.”
“Kalau begitu berhentilah merengek meminta untuk turun. Nikmati saja saat saat ini. Bisa jadi ini kali terakhir kau bisa memeluk punggungku”

Seul Hee P.0.V

“Bisa jadi ini kali terakhir kau bisa memeluk punggungku” apa maksudnya itu? Kali terakhir? Aku merasa ada yang aneh dengan kalimatnya itu. Dadaku tiba tiba terasa sesak.
“Apa maksudmu Oppa? Kenapa kau bicara seolah olah kita tidak akan pernah bertemu lagi?”
“Kau terlalu mendramatisir perkataanku tadi. Jangan berpikir yang aneh aneh!”
“Tapi Oppa…”
“Kita sudah sampai!” belum selesai aku bicara. Kata kataku sudah dipotong olehnya.
“Kau boleh turun sekarang” aku pun segera turun dari punggungnya. Aku terpana melihat apa yang kini ada di depan mataku. Mataku di suguhi pemandangan berupa danau yang sangat indah. Dengan berbagai jenis bunga di sekelilingnya. Airnya jernih dan terlihat begitu segar. Rasanya aku ingin meloncat kedalamnya.

Author P.O.V

“Seul Hee ayo” Seru namja itu.
“Hm? Apa?” Tanya Seul Hee bingung.
“Ayo kita naik itu.” kata namja itu sambil menunjuk sebuah sampan yang diikat di sebuah dermaga. Namja ini meraih tangan Seul Hee dan membimbingnya menuju dermaga tempat sampan itu berada. Mereka menjejakkan kaki mereka diatas kayu-kayu yang tersusun dengan rapi.
Saat sampai diujung dermaga sang namja lebih dulu naik keatas sampan kecil itu. Kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Seul Hee naik ke atas sampan itu juga. Ia melepas ikatan yang menahan sampan itu hanyut ketengah danau. Perlahan lahan ia mulai mendayung menuju ketengah danau. Sementara Seul Hee hanya diam menikmati pemandangan yang jarang ia temui di tengah hingar bingar kota Seoul. Namja itu berhenti mendayung saat mereka tepat berada ditengah tengah danau itu.
Ia memandang Seul Hee yang tengah termenung. Ia tersenyum kemudian jari jarinya meraih air danau dan mencipratkannya kewajah Seul Hee.

“KYAAA!! Oppa apa yang kau lakukan? Hentikan!” Tanganku refleks menutupi wajahku untuk menangkis air. Aku memohon agar dia berhenti mencipratkan air kewajahku. Tapi sepertinya dia tidak mengindahkan permintaanku.
“Aish Oppa hentikan!!” lagi lagi dia tidak mendengarkanku. Baiklah jika ini yang kau inginkan. Aku memasukkan tanganku kedalam air dan mencipratka
n air kewajahnya.
“Rasakan ini!”
“Ya! Seul Hee hentikan!”
“Apa kau bilang hentikan? Haha tidak akan. Bersiaplah untuk basah kuyup.” Aku semakin gencar mencipratkan air kewajahnya. Begitu juga dengan dia.
Suara tawa kami memecah keheningan taman itu. Kami terlalu semangat bermain air hingga membuat sampan kami oleng.
‘Byur’
Sontak aku bangun dan mengusap wajahku.
“Bagaimana Seul Hee. Segar bukan airnya?”
Aku menoleh dan mendapati Yeon Seo tengah berkacak pinggang disampingku.
“Kenapa kau menyiramku? Lihat kasur dan selimutku basah semua.”
“Salahmu sendiri kupanggil ratusan kali tapi kau tidak bangun bangun ya sudah aku siram dengan air”
“Tapi kan tidak harus dengan air sebanyak ini.”
“Kan sekalian memandikanmu. Hehe” Aku tidak percaya ini.
“Lagi pula kenapa kau datang kemari sepagi ini?”
“Oh ya aku hampir lupa. Cepat mandi dan dandanlah yang cantik.”
“Mwo? Memangnya kita mau kemana?”
“Sudah jangan banyak tanya. Cepat sana mandi!”
“Iya iya. Tapi kau jemur dulu kasur dan selimutku ini.”
“Tidak mau.”
“Ya sudah kalau begitu aku tidak jadi mandi.”
“Aish baiklah. Aku jemur selimutmu.” Yeon Soo mendengus kesal. Aku hanya tertawa melihatnya seperti itu. Yeoja bermata sayu itu mulai memungut Selimut dan kasurku. Aku menggeser tubuhku merapat pada dinding.
Saat Yeon Soo berdiri ia menatapku.
“YA! Kenapa kau malah duduk disitu? Cepatlah mandi.”
“Aish iya iya.” Aku bangkit dan masuk kedalam kamar mandi.

“Yeon Soo, sebenarnya kita mau kemana?” Tanyaku pada Yeon Soo yang sedari tadi menarik tanganku dan menyuruhku bergegas.
“Nanti kau juga tahu. Palli. Nanti kita terlambat.” Kami terus berlari. Dan tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah Coffeshop.
“Akhirnya kita sampai. Kajja kita masuk.”
Dia masih menarik tanganku. Kami berhenti disamping sebuah meja. Disana ada seorang namja.
“Ah maaf. Kami terlambat. Apa kau sudah lama?” ujar Yeon Soo pada namja itu.
“Ah Gwaenchana Yeon Soo sshi. Aku juga baru datang.” jawabnya diikuti dengan sebuah senyuman.
“Oh ya, ini dia temanku yang tempo hari ku bicarakan.”
“Ah annyeong haseyo. Kang Dae Beum imnida. Senang bertemu denganmu.”
“Annyeonghaseyo. Min Seul Hee imnida. Senang bertemu dengan anda juga.”
“Oh ya ayo silahkan duduk.”
“Ah nde” Aku dan Yeon Soo menjawab secara bersamaan.
“Kalian mau pesan apa?”
Yeon Soo memesan kopi americano sementara aku memesan Kopi mocha. Sementara Dae Beum kedepan untuk mengambil minuman, langsung saja aku interogasi Yeon Soo.
“Apa maksudmu dengan mengajakku kemari dan mengenalkanku pada namja itu?” aku menatap tajam mata Yeon Soo.
“Dia tampan bukan? Aku rasa kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi.”
“Mwo? Pasangan?”
“iya. Memangnya kenapa? Dia tampan dan sudah mapan. Dia juga bukan pria jahat. Dia juga berasal dari keluarga baik baik. Pasangan yang sempurna bukan?”
“Kau pasti sudah gila.”
“Siapa yang gila. Bukankah seharusnya kau senang bisa berkenalan dengan pria sempurna seperti…”
Kami terpaksa menghentikan pembicaraan kami ketika Dae Beum datang membawa minuman kami.
“Ini silahkan.”

Author’s P.O.V
Hampir satu jam Seul Hee dan Dae Beum mengobrol. Sementara Yeon Soo dia pergi setelah menghabiskan kopinya. Seul Hee sesekali tertawa karena candaan Dae Beum. Seul Hee tidak bisa mengingkari, Dae Beum memang sosok yang menyenangkan. Sampai tiba tiba matanya menangkap sosok yang tidak asing lagi baginya. Dia menempati meja dibelakang Dae Beum. Kini sosok itu tersenyum pada Seul Hee. Sementara Seul Hee hanya terdiam sambil terus menatap sosok namja itu. Dae Beum menyadari lawan bicaranya tak lagi memperhatikannya.
“Seul Hee” panggil Dae Beum seraya mengibaskan tangannya didepan wajah Seul Hee. Tetapi dia tidak menghiraukan panggilan Dae Beum. Iris coklat itu tetap menatap namja di belakang Dae Beum. Lama tak mendapat jawaban Dae Beum pun menoleh kebelakang untuk mencari objek yang menyita perhatian Seul Hee. Tapi nihil. Dia hanya mendapati sebuah meja yang diapit oleh dua buah kursi. Ia memutuskan untuk kembali memanggil Seul Hee.
“Seul Hee Gwaenchana?” tanya Dae Beum seraya menggoncangkan tubuh Seul Hee. Seul Hee masih tidak bergeming. Hanya saat namja itu berdiri, dia ikut berdiri. Dae Beum semakin bingung melihat sikap Seul Hee yang mendadak jadi aneh. Apalagi ia melihat air mata terbendung dimata Seul Hee
“Maaf aku harus pergi.” ujarnya serasa menundukkan kepalanya sekilas kemudian pergi mengikuti namja itu.
“Seul Hee! Tunggu! Kau mau kemana?!” Seul Hee tidak menghiraukan pertanyaan Dae Beum. Sementara Dae Beum hanya bisa terdiam melihat Seul Hee keluar dari Coffe shop itu.

Seul Hee P.O.V

Seperti seekor anak anjing yang dengan setia mengikuti tuannya, aku terus mengikuti kemanapun namja ini pergi. Meskipun aku sangat ingin berlari menghampirinya dan memeluknya tapi aku tidak bisa melakukannya. Kakiku terasa sangat berat. Aku tak mampu mengejarnya. Aku hanya bisa memandang punggungnya. Ya punggungnya. Punggung yang sangat aku sukai. Aku hanya
bisa memandangnya dan terus berjalan mengikutinya. Hingga ia berhenti didepan sebuah rumah kecil, rumahku. Ia menoleh kemudian tersenyum kepadaku. Hanya sekilas karena dia kembali berjalan memasuki rumahku. Tapi, saat aku menyusulnya masuk dia sudah tidak ada. Hilang. Sama seperti pagiku. Aku hanya mendapati diriku sendiri. Oppa kenapa kau tiba tiba muncul dihadapanku? Apakah kali ini juga hanya mimpi?

Author’s P.O.V

“Kau kejam” katanya lirih. Hampir tak terdengar. Tak terasa air matanya mengalir membentuk dua aliran sungai kecil diwajahnya. Tanpa suara. Ia menjatuhkan tubuhnya kelantai. Semakin lama suara isak tangisnya semakin terdengar. Kedua tangannya mengepal dilantai. Seakan menahan rasa sakit yang dideranya. Bulir bulir air mata membuat lantai kayu itu basah. Tubuhnya terguncang seiring dengan tangisannya yang semakin keras. Seul Hee telah sampai dititik terlelahnya.

* * * *

‘Brak! Brak! Brak!’
“Seul Hee aku tahu kau didalam. Cepat buka pintunya!”
‘Brak! Brak! Brak!’ Lagi. Yeon Soo kembali menggedor pintu Seul Hee. Tapi masih tidak ada jawaban dari Seul Hee.
“SEUL HEE! CEPAT BUKA PINTUNYA! KITA HARUS BICARA!” Kali ini ia berteriak lebih keras. Tetap saja hasilnya nihil. Pintu yang ada didepannya tetap tertutup. Karena kesal akhirnya ia pergi. Tapi tak berapa lama kemudian ia datang lagi bersama pemilik rumah dengan membawa kunci duplikat rumah yang ditempati Seul Hee. Sang pemilik rumah kemudian membuka pintu rumah Seul Hee.
“Terimakasih Bibi” Ucap Yeon Soo sambil membungkukkan badannya.
“ah jangan sungkan. Kalau perlu sesuatu, panggil saja aku. Ya sudah aku pergi dulu ya.”
“Ah iya bibi”
Setelah bibi itu pergi, Yeon Soo masuk kerumah kecil itu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Seul Hee dalam keadaan berantakan terduduk di sudut kamar sambil memeluk lututnya.
Ia segera menghampiri sahabatnya itu.
“Seul Hee kau kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?” Yeon Soo hampir menitikan air mata melihat keadaan sahabatnya itu. Yeon Soo mengangkat kepala Seul Hee. Keadaannya begitu menyedihkan. Rambutnya berantakan. Matanya sembab. Tubuhnya begitu lemah. Pandangannya kosong. Kali ini Yeon Soo tak bisa menahan air matanya untuk jatuh.
“Seul Hee, Kau kenapa? Kalau ada masalah ceritakan padaku. Jangan seperti ini. Bukankah aku ini sahabatmu?”
“Yeon Soo…”
“Iya iya Seul Hee, aku disini”
Yeon Soo memegang kedua bahu Seul Hee
“Yeon…Soo…hiks…Yeon Soo…” Seul Hee menangis. Melihat sahabatnya menangis seperti tentu saja membuat Yeon Soo semakin khawatir.
“Kau kenapa? Sudah berhentilah menangis. Ada aku disini.” ujar Yeon Soo berusaha menenangkan Seul Hee. Dia memeluk tubuh lemah Seul Hee dan menepuk nepuk punggungnya. Tapi Seul Hee malah semakin terisak. Mereka tetap pada posisi itu selama beberapa menit.

Seul Hee P.O.V

Aku semakin terisak dalam pelukan Yeon Soo. Rasanya sangat menyakitkan. Saat ini aku hanya ingin menangis. Hingga kepalaku terasa pening. Pandanganku kabur. Dan tiba tiba semua menjadi gelap.

Skip

Perlahan aku mulai membuka mataku. Kepalaku masih terasa pusing. Aku menggerakkan kedua bola mataku kekiri dan kekanan mencoba mengenali tempat dimana aku berada sekarang. Aku mencoba menyentuh kepalaku. Tapi aku mengurungkan niatku karena merasakan sakit ditanganku. Jarum infus menembus kulitku. Dengan susah pasah, akhirnya aku bisa menegakkan punggungku.
‘DEG’ Aku membelalakkan mataku melihat namja yang ada didepanku saat ini. Dan rasa sakit itu kembali menjalar di hatiku. Bulir bulir air mata kembali jatuh.
“Kenapa kau muncul lagi? Apa kau juga akan menghilang seperti sebelumnya?” Dia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Kenapa? Kenapa dia selalu saja diam seperti itu dan hanya memberi senyum sebagai jawaban atas pertanyaanku. Dia mulai beranjak dari tempatnya. Berjalan menuju pintu. Aku segera mencabut jarum infusku. Aku berjalan mengikutinya dengan langkah gontai. Aku merasa sangat lemah.
“Seul Hee kau mau kemana?!” Yeon Soo. aku menoleh sekilas kemudian melanjutkan langkahku. Aku takut kehilangan dia lagi. Maafkan aku Yeon Soo. Aku mempercepat langkahku agar tidak kehilangan jejaknya.

Author’s P.O.V

Seul Hee terus mengikuti namja itu. Tak satu langkahpun ia lewatkan. Sementara itu ditempat lain seorang namja tengah memacu sepeda motornya dengan cepat. Terlalu cepat. Hingga bannya slip dan kehilangan keseimbangannya. Ia jatuh tersungkur diatas aspal. Sementara dari belakang sebuah mobil juga melaju kencang. Sang pengemudi yang menyadari ada seseorang te
ngah tak sadarkan diri terbaring dijalurnya melaju membanting stir kearah kanan.’Brak’.

* * * *

Seorang yeoja dengan tergesa gesa berjalan kearah ruang ICU. Raut kekhawatiran jelas terlihat diwajahnya.
Ia sampai didepan ruang ICU tepat saat dokter keluar dari ruangan itu.
“Dokter, bagaimana keadaan Seul Hee”
“Maaf anda keluarga Nona Min?”
“Ah..bukan. Saya temannya. Dia sudah tidak punya keluarga. Jadi bagaimana keadaannya dokter?”
“Luka luka ditubuhnya tidak terlalu serius. Hanya saja tadi jantungnya sempat berhenti berdetak selama beberapa detik. Jadi kita harus menunggu hingga dia sadar, baru kita bisa mengetahui apa ada kerusakan pada syaraf otaknya akibat jantungnya yang tadi berhenti selama beberapa detik.”
“Oh. Kalau begitu apa sekarang saya boleh melihatnya dok?”
“Nanti kalau dia sudah dipindahkan keruang perawatan anda boleh melihatnya. Maaf saya permisi dulu. Saya masih harus menangani pasien lain.”
“Oh iya silahkan dokter. Gomapsumnida.”

* * * *

Yeon Soo menatap iba Seul Hee. Dia meraih tangannya yang terlihat begitu lemah dan menggenggamnya.
“Seul Hee kenapa bisa jadi begini? Sebenarnya kau ada masalah apa?” Yeon Soo tidak kuasa menahan tangisnya.

Yeon Soo P.O.V

“M m maaf permisi.” aku menoleh kearah pintu. Seorang namja tengah berdiri disana. Dari pakaian yang dia kenakan sepertinya dia pasien di rumah sakit ini. Kepalanya juga diperban. Tapi apa yang dia lakukan di ruangan Seul Hee.
“Kau siapa?” tanyaku tanpa basa basi terlebih dahulu.
“Maaf, sebelum menjawab pertanyaanmu, boleh aku masuk dulu?” benar juga yang dia katakan. Harusnya aku mempersilahkan dia masuk terlebih dahulu. Aku merasa sangat malu. Seakan aku ini gadis yang tidak tahu sopan santun.
“Ah maaf. Silahkan masuk.” Dia mulai melangkah dari pintu. Dia berjalan agak pincang. Sepertinya kakinya terluka.
“Jadi kau ini siapa? Dari baju yang kau pakai sepertinya kau pasien dirumah sakit ini.”
“Namaku Lee Donghae. Aku memang pasien di rumah sakit ini.”
“Lalu kenapa kau bisa kemari? Apa kau mengenal Seul Hee”
“Jadi namanya Seul Hee?”
“iya” ada yang aneh dengan namja ini. Sejak ia melangkah masuk, pandangannya tak pernah lepas dari Seul Hee. Apa mungkin namja ini menyukai Seul Hee. Ah tidak mungkin. Bukankah tadi dia baru saja mengetahui nama Seul Hee. Dan tatapannya itu. Itu seperti tatapan bersalah. Apa sebenarnya hubungannya dengan Seul Hee.
“Maaf tuan. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa kau mengenal Seul Hee? Ada hubungan apa antara kau dan Seul Hee.”
“A…aku…” dia terlihat gugup. Aku semakin bingung dibuatnya.
“iya…” aku menunggu jawabannya.
“Aku adalah orang yang menabrak nona ini.” apa? Apa aku tidak salah dengar?
“Kau?! Kau yang menabrak Seul Hee?!”
“I iiya. Maafkan aku nona.”
“Kau! Kau ini! Bagaimana caramu menyetir! Kenapa kau tidak hati hati! Lihat! Sekarang temanku jadi seperti ini! Dia sudah tidak punya siapa siapa lagi didunia ini! Kenapa sekarang kau malah membuatnya jadi seperti ini?!” aku benar benar sudah tidak bisa menahan emosiku lagi.
“Seul Hee, malang sekali nasibmu. Kenapa semua ini harus terjadi padamu? Seul Hee…” aku menangis sejadi jadinya.
“Maafkan aku nona. Semua benar benar diluar kendaliku. Maafkan aku nona. Maafkan aku nona.” namja ini berkali-kali membungkuk dihadapanku. Aku tidak bisa berkata apa apa lagi. Aku hanya bisa menangis.
“Maafkan aku nona. Aku pasti akan bertanggung jawab.”
“Sudah. Aku tidak mau mendengar kata katamu lagi. Keluarlah. Menyingkirlah dari hadapanku.”
“Baiklah. Tapi besok aku akan kemari lagi. Aku permisi dulu.” aku tidak menanggapi kata katanya. Setelah dia pergi dari hadapanku, aku menggenggam tangan Seul Hee dan mengusap lembut wajahnya. Seul Hee cepatlah sadar.

Donghae P.O.V

Hari ini aku akan menemui yeoja itu lagi. Kali ini aku datang tidak dengan tangan kosong. Aku sudah meminta asistenku untuk membawakan seikat lilac. Kini aku telah sampai didepan pintu kamarnya. ‘Huh’ semoga saja emosi temannya itu sudah reda. Aku buka pintu ruangan itu dengan hati hati. Hanya sebagian. Tidak ada siapa siapa didalam sana. Hanya seorang yeoja
yang tengah terbaring lemah disebuah ranjang. Aku beranikan diri untuk masuk dan mendekatinya.
“Annyeonghaseyo. Namaku Lee Donghae. Senang bisa bertemu denganmu lagi. Ini. Aku membawakan bunga untukmu. Aku harap kau menyukainya. Oh ya bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kau sudah merasa lebih baik.” aku sudah seperti orang gila. Berbicara dengan orang yang sedang tak sadarkan diri. Tapi aku benar benar tidak tahu harus melakukan apa selain ini.
“Maaf, karena kelalaianku, kau jadi seperti ini. Aku benar benar tidak sengaja. Maafkan aku. Aku harap kau cepat sembuh. Lusa aku sudah boleh pulang. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang terbengkalai karena kecelakaan kemarin. Jadi maaf kalau nanti aku jarang menjengukmu. Nona Min, sepertinya sekarang aku harus kembali ke kamarku. Jadi sampai jumpa.”

Seul Hee P.O.V

“Hoam…” aku merasa sangat mengantuk. Huhh orang itu. Tega sekali dia membuatku menunggu selama 3 jam. Awas saja nanti kalau dia muncul. Akan kuhabisi dia.
‘wussh’ tiba tiba ada angin yang bertiup kearahku.
“ah topiku!” topiku terbang tertiup angin itu. Ahh! Hari ini sungguh sial!. Aku berlari mengejar topiku. Aku berusaha meraihnya. Tapi selalu gagal. Dan topi itu tetap melayang di udara sampai akhirnya ia tersangkut di salah satu dahan pohon di taman ini. Untunglah tidak terlalu tinggi jadi aku bisa meraihnya. Setelah berhasil mengambil topiku, aku mengenakannya kembali. Karena merasa lelah, aku bermaksud untuk duduk sebentar dibawah pohon besar itu. Tapi saat aku hendak duduk, mataku menangkap sesuatu.
“Seul Hee, kau sedang apa?” aku menoleh.
“uhm? Ah ini. Aku sedang melihat ukiran ini.” kataku sambil menunjuk ukiran hati tersebut.
“Ah ukiran itu.”
“Hum? Apa oppa tahu siapa orang yang mengukirnya?”
“Bukankah kau sendiri yang mengukirnya.”
“Benarkah? Kenapa aku tidak ingat?”
“Mungkin kau sudah mulai pikun. Kau mengukirnya saat merayakan ulang tahunku yang ke 23.”
“Uhm…” aku hanya mengangguk anggukkan kepalaku.
“Lalu inisial ‘K&S’ itu?”
“Itu inisial nama kita. ‘K’ untuk Kibum dan ‘S’ untuk Seul Hee.”
“Oh jadi nama Oppa itu Kibum.”
“Jadi selama ini kau tidak ingat namaku?”
“hehe iya.” dia menggelengkan kepalanya mendengar jawabanku.
“Seul Hee…”
“Ne…” Aku menatap matanya menunggu kalimat yang akan dia ucapkan. 5 detik. 10 detik. 15 detik. 20 detik. Masih tidak terdengar satu katapun dari bibirnya. Hanya tatapan aneh yang aku dapatkan dari matanya. Tatapan bersalah dan terluka. Tapi kenapa? Kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu.
“Oppa… Kenapa kau hanya diam? Kau tadi mau bicara apa?” Tanyaku berusaha memecah keheningan diantara kami. Dia masih diam dan malah memalingkan wajahnya. Kemudian kembali menatapku.
“Oppa…” aku menggenggam tangannya. Entahlah. Ada perasaan aneh yang melanda hatiku.
“Seul Hee… Kau tahu siapa aku?” aneh. Kenapa dia bertanya seperti itu?
“Mwo? Tentu saja. Kau itu kan namjachingu-ku.” aku tertawa. Tapi dia justru menunjukkan wajah yang semakin serius.
“Bukan. Aku bukan namjachingu-mu.”
“Kalau bukan namjachingu-ku, lalu kau itu siapa? Kakakku, adikku, atau mungkin kakekku?” aku kembali tertawa.
“Seul Hee! Aku sedang tidak bercanda!” Seketika aku terdiam. Ya sekarang dia memang terlihat sedang tidak bercanda.
“Seul Hee… Semua yang ada disini hanyalah sebuah fantasi. Termasuk aku. Aku ini tidak nyata. Aku hanyalah sosok imajinasimu.”
“Apa maksudmu? Kemarin aku melihatmu dicoffeeshop, didepan rumahku. Juga dirumah sakit. Jadi tidak mungkin jika kau ini hanya sosok fiktif belaka. Kau itu nyata.”
Dia berpaling membelakangiku.
“Seul Hee aku ini bukanlah sosok yang nyata. Aku ini hanyalah khayalanmu. Aku bukan orang yang ditakdirkan untukmu. Jadi lupakan semua kenangan tentangku! Kau harus melanjutkan hidupmu!”
Tubuhku gemetar mendengar apa yang dia katakan. Air mata pun sudah tak sanggup untuk kubendung.
“Tidak. Kau itu nyata. Kau memang ditakdirkan untukku. Lagipula bagaimana bisa kau menyuruhku melupakanmu? Kita sudah bersama selama 3 tahun. 3 tahun.”
“Sudah berapa kali aku katakan aku ini hanya imajinasimu! Sadarlah Seul Hee!”
“Tidak! Hentikan! Aku tidak mau mendengarnya lagi” aku merunduk sambil menutup kedua telingaku. Aku benar benar tidak tahan mendengar kata katanya.
“Dengarkan aku Seul Hee! Kau harus terima kenyataan ini! Kau harus melupakanku! Aku bukanlah orang yang tepat untukmu!”
“Tidak! Ini terlalu kejam! Setelah semua yang kita lalui kenapa kau malah menyuruhku untuk melupakanmu?! Aku sudah terlanjur mencintaimu. Jika kau tidak ditakdirkan untukku, kenapa kau harus hadir dalam hidupku?! Kenapa?! Ini tidak adil!!” Aku menangis histeris.
“Maafkan aku. Aku memang egois. Membuatmu jatuh hati padaku namun pada akhirnya aku malah menyuruhmu untuk melupakanku. Maafkan aku Seul Hee. Tapi kau harus melanjutkan hidupmu. Kau tidak bisa selamanya hidup dalam mimpimu.”
“Tidak! Aku tidak mau!”
“Kau harus melakukannya. Maafkan aku. Aku harus pergi. Selamat tinggal Seul Hee.”
“Tidak! Kau tidak boleh pergi!” aku menahan tangannya. Aku menggenggamnya. Aku tidak mau dia pergi dari hidupku. Aku tidak mau. Ini terlalu menyakitkan.
“Maafkan aku Seul Hee.” Dia melepaskan genggaman tanganku. Dan mulai berjalan menjauh dariku.
“Ah tidak! Oppa! Jangan pergi!” Aku mengejarnya. Tapi secepat apapun aku berlari aku tetap tidak bisa mengejarnya. Sangat sulit rasanya. Ia berjalan semakin jauh. Dan aku masih tetap mengejarnya. Tapi perlahan bayang tubuhnya mulai memudar.
“Tidak! Ah tidak! Oppa! Oppa! Tidak! Tidaaak!” dan kini bayangannya benar benar hilang. Meninggalkanku sendiri dengan linangan air mata. Hatiku benar benar terasa sakit.
“Oppaaaa!!”

Author’s P.O.V

Because i naughty naughty hey! Mr. Simple! Because i naughty naughty

“Yoboseyo. Jinjja? Syukurlah. Ne ne. Aku segera kesana.”
‘tit’ Donghae mengakhiri panggilan tersebut. Ia berdiri seraya mengambil jasnya yang ada disandaran tempat duduknya. Ia berlari keluar dari ruangannya.
“Tuan Lee kau mau kemana?” teriak asistennya ketika berpapasan dengannya.
“Ke ru
mah sakit.” jawabnya tanpa menoleh. Ia tak menghiraukan setiap orang yang memberi salam kepadanya. Ia terus berlari. Sesampainya ia di tempat parkir. Ia berlari menghampiri mobilnya. Dan segera memacunya menuju rumah sakit.

‘ceklek’ Donghae membuka pintu kamar Seul Hee. Tapi dia hanya mendapati seorang suster yang tengah merapikan tempat tidur Seul Hee.
“Suster, dimana pasien kamar ini?”
“Oh tadi temannya membawanya keluar. Mungkin mereka ada ditaman.”
“Oh terimakasih suster.”
Donghae kembali berlari menuju taman. Ia hampir menabrak beberapa orang. Ia seperti orang kesetanan. Ia mencari cari sosok Yeon Soo dan Seul Hee. Matanya tertuju pada 2 sosok wanita yang tengah berada ditepi kolam. Salah satunya duduk dikursi roda. Donghae berlari menghampiri keduanya.
“Hah hah hah” Donghae terengah-engah. Ia sengaja berhenti beberapa meter dari posisi Yeon Soo dan Seul Hee untuk mengatur nafasnya. Setelah dirasa nafasnya sudah cukup stabil, ia melanjutkan langkahnya menghampiri kedua yeoja itu.
“Oh Tuan Lee kau sudah datang.”
“Ne…”
“Seul Hee ini dia tuan Lee yang aku ceritakan tadi. Cepat beri salam.”
Seul Hee hanya diam. Tatapannya kosong. Wajahnya terlihat begitu pucat. Donghae yang melihat Seul Hee terdiam, membungkuk dengan bertumpu pada salah satu lututnya.
“Annyeonghaseyo nona Min. Namaku Lee Donghae. Begitu mendengar kabar kau sudah sadar aku langsung menuju kemari. Bagaimana keadaanmu? Kau sudah merasa baikan? Jujur, aku sangat khawatir karena kau tidak sadarkan diri selama seminggu. Tapi sekarang aku lega karena sekarang kau sudah sadar.” Donghae begitu antusias bertemu dengan Seul Hee. Tapi itu berbanding terbalik dengan Seul Hee. Ia terlihat tidak peduli pada Donghae.
“Seul Hee kenapa kau diam saja?” tanya Yeon Soo.
“Yeon Soo aku ingin kembali kekamarku.” ujarnya begitu lirih.
“Boleh aku mengantarmu nona?” Seul Hee perlahan mulai mengalihkan pandangannya pada Donghae.
“Tidak per…” Seul tidak melanjutkan kata katanya. Ia hanya diam. Tertegun melihat Donghae tersenyum. Hening. Tak ada kata yang terucap.
Mereka hanya saling memandang.

8 tahun kemudian…

“Donghae disini!” seru seorang yeoja. Namja itupun lantas menghampirinya.
“Yeon Soo Dae Beum maaf aku terlambat. Bagaimana kabar kalian? Aku kira kalian selamanya akan tinggal di California”
“Ah kau ini. Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga kami tidak akan pernah melupakan Korea. Eh? Ngomong ngomong Dimana istri dan anakmu?” Dae Beum mencari cari sosok
yang dimaksud.
“Mereka sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi juga sampai. Ah itu mereka.”
“Maaf kami terlambat.”
“Min Seul Hee! Kau ini! beginikah caramu menyambut sahabatmu yang sudah lama tidak kau temui?”
“Yeon Soo Jeongmal Mianhae. Tadi di jalan ada kecelekaan dan jalanan jadi macet. Maafkan aku Yeon Soo.” Seul Hee memperlihatkan puppy eyesnya.
“Aish baiklah. Iya iya aku memaafkanmu. Tadi aku hanya bercanda. Aku sangat merindukanmu Seul Hee.”
“Nado bogoshipo.”
“Oh ya siapa jagoan kecil ini?”
“Ayo sayang beri salam pada paman dan bibi.”
“Annyeonghasimnikka.”
Anak itu membungkukkan badannya.
“Ah pintarnya. Kau ini manis sekali. Siapa namamu sayang?” Kata Yeon Soo seraya mengelus rambut anak itu.
“Jeoneun Kibum imnida.”
“Seul Hee anakmu begitu menggemaskan. Aku iri padamu.”
“Kalau begitu segeralah punya anak. Supaya kau tidak iri lagi. Aku heran. Kalian sudah menikah selama 2 tahun tapi kenapa belum juga punya anak?”
“Ah itu karena Yeon Soo takut gemuk.” Yeon Soo melirik tajam pada suaminya.
“Ah tidak. Bukan karena itu. Kami masih ingin menikmati masa masa sebagai suami istri.” terang Yeon Soo.
“Mwo? Apakah waktu 2 tahun itu tidak terlalu lama?” tanya Donghae.
“Sudah jangan ditunda lagi. Lebih cepat lebih baik. Kau tidak mau kan orang orang mengira kau nenek dari anakmu sendiri.” nasehat Seul Hee.
“YA! Apa maksudmu? Kau mengataiku tua?”
“hehehe aku hanya bercanda. Jangan diambil hati.”
“Ibu kapan kita makan? Aku lapar.” ujar Kibum dengan wajah memelas dan semua orang tertawa mendengarnya.
“Hahaha. Kasian Kibum. Kau sangat lapar ya sayang?” tanya Yeon Soo.
“Iya.” Kibum menganggukkan kepalanya.
“Baiklah semuanya kita pesan makanan sekarang saja. Kasihan tuan muda Lee. Dia sudah kelaparan.” canda Dae Beum. Dan sekali lagi semua orang tertawa dengan kerasnya.

* * * *

Seul Hee’s P.0.V

“Uhuk uhuk.” banyak sekali debunya. Sudah lama aku tidak membersihkan loteng ini. Disetiap sudutnya dilapisi debu. Lebih tebal dari terakhir kali kubersihkan. Satu persatu barang diloteng tersebut kubersihkan. Aku mengangkat sebuah kardus. Tapi tiba tiba kardus itu jebol dan benda benda yang ada didalamnya jatuh berhamburan.
“Aduh! Benar benar merepotkan! Eh? Apa ini?” aku mengambil sebuah album foto. Aku buka album itu.
“Hahaha… Lucu sekali.” aku tertawa melihat foto masa kecil suamiku, Lee Dong Hae. Aku menutup album itu. Dan kembali melanjutkan pekerjaanku yang tertunda tadi.

“Chagi kau sedang apa?” tanya suamiku dari belakang sofa tempatku duduk. Tanpa menjawab aku menunjukkan album foto yang berisi foto fotonya ketika masih kecil.
“Dimana kau menemukannya? Aku sudah mencarinya kemana mana. Tapi tidak ketemu.” ujarnya sambil merubah posisinya menjadi duduk disampingku.
“Diloteng. Oppa kau dulu sangat menggemaskan.”
“Mwo? Jadi sekarang aku tid
ak menggemaskan?”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Ya!” aku tertawa.
“Iya iya kau masih menggemaskan.” kini dia sudah mengambil album itu dan merengkuhku dalam dekapannya. Sesekali kami tertawa melihat foto foto Donghae Oppa yang lucu. ‘Deg’. Aku melihat foto dua orang namja yang tidak asing lagi bagiku.
“Oppa siapa orang yang merangkulmu difoto ini?”
“Oh dia itu sahabatku.”
“Hmm? Sahabatmu?”
“iya namanya Kim Kibum.” Kim Kibum? apa aku tidak salah dengar? Apa dia benar benar menyebut nama Kibum?
“Ki ki kibum? Lalu dimana dia sekarang? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”
“Dia sudah meninggal 12 tahun yang lalu.”
Meninggal? Aku bagai disambar petir. Aku tidak percaya ini. Jadi Kibum Oppa bukan sekedar sosok khayalanku saja. Dia benar benar ada didunia ini. Bukan hanya ada dalam khayalanku.
“Chagi kau mau kemana?” tanya suamiku.
“Aku mau jalan jalan sebentar.” Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisku.
“Aku temani ya?”
“Tidak usah. Oppa dirumah saja. Temani Kibum belajar.”
“Tapi chagi…”
“Tidak apa apa. Aku bisa sendiri. Lagipula hanya sebentar. Ya sudah aku pergi dulu.” Aku bergegas keluar rumah. Sesampainya diluar aku tak lagi bisa menahan air mataku. Dadaku terasa begitu sesak. Rasa sakit yang aku rasakan saat dia meninggalkanku seakan terkuak kembali. Bahkan terasa lebih menyakitkan. Aku berlari dan terus berlari. Tak tahu apa yang sebenarnya mengejarku atau apa yang aku kejar. Aku hanya ingin lari dan lari. Lari dari kenyataan ini. Kenyataan yang terlalu menyakitkan.

* * * *

“Oppa apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?”
“Tentu saja. Kau ini aku ini kan suamimu, kenapa kau harus meminta ijin untuk bertanya padaku? Memangnya kau ingin bertanya soal apa?”
“Mm soal sahabatmu itu, dimana dia dimakamkan?”
“Mwo? Kenapa kau menanyakan hal itu?
“Aku ingin sekali mengunjungi makamnya. Dia itu kan sahabatmu. Setidaknya sekali saja aku ingin bertemu dengannya. Walaupun aku tidak bisa bertatap muka dengannya” kilahku.
“Jinjja?” aku mengangguk.
“Lagipula namanya juga sama dengan putra kita. Aku benar benar ingin bertemu em maksudku mengunjungi makamnya. Bagaimana? Kau mau kan chagi?” rayuku. Aku bicara semanis mungkin agar dia setuju.
“Baiklah. Minggu depan kita kunjungi makamnya. Aku juga sudah lama tidak kesana.”
“Jinjja?”
“Ne. Sudahlah. Ayo kita tidur. Ini sudah malam.”
“Ne Oppa.”

* * * *

Author’s P.O.V

Keluarga kecil itu tengah menapaki sebuah jalan setapak di sebuah taman. Seul Hee sudah tidak asing lagi dengan tempat ini. Ini adalah tempatnya dulu bertemu dengan Kibum setiap malam. Seul Hee menatap nanar pada batu nisan yang ada didepannya. Ia membungkuk bersama dengan Donghae.
“Ayo sayang. Beri salam pada paman.” Kibum kecil menurut dan membungkuk memberi salam pada batu nisan itu.
“Eomma paman ini siapa? Kenapa namanya sama denganku?”
“Paman ini adalah sahabat dari appamu. Sayang, kau mau kan jalan jalan dengan Appa sebentar? Ibu ingin bicara dengan paman Kibum.” Kibum kecil mengangguk. Seul Hee mengelus kepalanya. Sementara Donghae menatap Seul Hee dengan heran.
“Sebentar saja chagi.”
Mau tidak mau Donghae mengiyakannya dan membawa Kibum kecil pergi.

“Oppa… Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku tidak percaya bisa bertemu lagi denganmu. Oppa, tempat ini bukankah tempat kita bertemu setiap malam? Tempat ini sangat indah. Oppa aku sudah menikah dan punya anak. Entah ini kebetulan atau bukan. Suamiku adalah sahabatmu. Lee Donghae. Dan anak itu. Kibum. Dia mirip denganmu kan? Hehe… Oppa… Aku merindukanmu.” dan sungai kecil itu mulai terbentuk dikedua pipi Seul Hee.
“Kenapa kau berbohong? Kau bilang kau itu hanya sosok khayalanku saja. Tapi sekarang apa? Aku tengah berdiri didepan batu nisanmu. Oppa apa disana kau baik baik saja? Disana kau kesepian atau tidak. Maafkan aku Oppa. Aku tidak bisa menemanimu disana.”
“Maafkan aku Oppa. Maafkan aku. Maafkan aku.” Seul Hee semakin terisak.
“Maafkan aku, aku masih belum bisa melupakanmu. Aku masih belum bisa menghapus rasa cintaku untukmu. Maafkan aku. Oppa. Andai saja aku bisa memelukmu sekali lagi. Aku benar benar merindukanmu.”

* * * *

“Chagi tadi kau bicara apa saja dengan Kibum?” selidik Donghae.
“Aku hanya minta maaf padanya karena baru bisa mengunjunginya sekarang.”
“Hanya itu?”
Seul Hee menatap Donghae.
“Aku menceritakan tentangmu dan Kibum.”
“Oh…Aku merindukan Kibum. Sudah lama sekali. 12 tahun. Waktu itu dia masih begitu muda. Kenapa dia pergi secepat itu?”
Seul Hee hanya diam. Tenggelam dalam fikirannya tentang Kibum.
‘Ciiittt’
Mobil Donghae berhenti saat lampu merah menyala. Sayup sayup dari mobil sebelah terdengar alunan sebuah lagu.

Maeumi meonjeo seontaekhan neo
Cheoeum sarangeulo chungbunhae
Yeongwonhi jikilkke nae cheoeum sarang
Saranghae haengbokhaessdeon cheoeum sarang

[Ini perasaan pertamaku yang memilihmu
Karena itu adalah cinta pertama, itu sudah cukup untukku
Menjaga cinta pertamaku untuk selamanya
Cinta pertama disaat kita merasa bahagia]

Seul Hee tersenyum mendengar lagu itu.
Begitu juga dengan namja yang duduk disebelah Kibum kecil dikursi belakang.
‘Sarangheyo Kibum Oppa’ batin Seul Hee.
“Nado Saranghae Seul Hee.”

The End