fanfiction | SOMEWHERE ONLY WE KNOW (1 of 2)


Author : @ladymodrus.
Genre : Romance, Songfict.
Main Cast :
– Choi Siwon.
– Shin Hyoseul (OC).
Supporting Cast :
– Super Junior members.
– MY Inc members (OC).
– Choi Jiwon.
– Tuan Hong (OC).
– Produser Lee/Lee So Man.
– Lee Young Ra (OC).
Length : Twoshots.
Rate : T.

Annyeong, Readers.. ^^ Author bawa FF Twoshots (kepinginnya Oneshot tapi ga jadi) dalam rangka ulang tahunnya Siwon oppa yang ke-28 (aslinya sih 27). Kebetulan tanggal 31 Maret kemarin Author juga baru aja ultah yang ke-24 (ga ada yang nanya, Thor. Lu udah tua!). Yaah… Author ga bisa ngasih apa-apa sama Mas Siswono, cuma FF ga jelas dan do’a tentunya. Semoga Bang Won panjang umur, makin ganteng dan makin tajir(?). XD

Desclimer : FF ini terispirasi dari lagu Keane yang berjudul Somewher Only We Know. All cast (kecuali Tuan Hong dan Lee Young Ra) mutlak milik Allah The Almighty. Khusus di post ini, Siwon milik Author seorang! XD FF ini mutlak milik Author. Share boleh, tapi COPAS GA BOLEH!! Don’t you ever claim it as yours!
WARNING!! Typo(s), OOC, non-EYD, bahasa tidak baku dan mian kalo romance-nya kurang berasa karena Author bukan spesialis FF Romance.

No bashing!
Happy Reading ^^

Happy-28th-birthday-Choi-Siwonasian-fashion-girl-hair-kim-shin-yeong-Favim.com-351529

###

“Saengil chukkae hamnida… Saengil chukkae hamnida… Saranghaneun uri Siwon, saengil chukkae hamnida…” lagu Selamat Ulang Tahun riuh dinyanyikan. Suasana suka cita begitu terasa memenuhi ruangan itu. Jam menunjukkan pukul 12 malam tepat -pertanda hari telah berganti. Sekarang adalah tanggal 7 April yang merupakan tanggal kelahiran Choi Siwon. Pria tampan itu tengah merayakan ulang tahunnya bersama keluarga dan teman-teman satu agensinya di SM Entertaiment. Wajahnya tampak sedikit lelah mengingat ia dan Super Junior baru saja selesai menggelar sebuah konser akbar yang berjalan dengan sukses. Tapi rasa lelah itu seolah terbayarkan dengan kejutan yang diberikan oleh keluarga dan teman-temannya.

“Siwon-ah, selamat ulang tahun yaa…” ucap Shindong sambil memeluk Siwon.
“Terima kasih, hyung.” ujar Siwon sambil tersenyum. Dini hari itu ia banyak menerima ucapan selamat dan hadiah. Jiwon, adik semata wayangnya bahkan memberinya sebuah hadiah spesial.
“Ini untukmu, Oppa. Selamat ulang tahun…” kata Jiwon yang menyerahkan sebuah kado yang ukurannya tidak terlalu besar kepada kakaknya seraya tersenyum manis.
“Terima kasih, saengi. Apa ini?” tanya Siwon ketika menerima kado pemberian adiknya. Ia seperti menerka-nerka apa isi dari kado itu.
“Bukalah. Nanti Oppa akan tahu isinya.” kata Jiwon lagi. Siwon yang memang sudah penasaran dengan isi dari kado itu tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Segera ia buka kado pemberian Jiwon itu. Dan betapa takjubnya Siwon ketika mengetahui bahwa isi dari kado tersebut adalah sebuah Alkitab.
“Itu agar semua do’amu untuk tahun ini lekas terkabul, Oppa.” kata Jiwon.
“Terima kasih, Jiwon-ah. Ini hadiah yang sangat berharga untukku.” Siwon tersenyum dengan sangat tulus kepada Jiwon. Entah apa lagi yang harus dikatakannya untuk mengungkapkan seberapa besar rasa terima kasihnya atas pemberian yang penuh arti itu.

“Siwonnie, ini hadiah dariku.” kata Donghae yang juga memberikan Siwon sebuah kado. Semua member Super Junior, Shinee, SNSD, f(x), EXO dan artis-artis SM lainnya menyerahkan hadiah mereka untuk Siwon pada malam itu juga. Termasuk para member MY Inc yang juga ikut merayakan pesta ulang tahun Siwon dengan penuh suka cita.
“Selamat ulang tahun, Oppa. Semoga panjang umur yaa..” ujar si magnae Rin Ni dengan sangat ceria.
“Terima kasih, Toge.” kata Siwon kemudian. Tentu saja ini membuat semua orang yang hadir tertawa mendengar Siwon memanggil Rin Ni dengan ‘Toge’.

“Oppa, aku do’akan semoga tahun ini kau cepat dapat pacar.” celetuk Myuri tanpa berpikir panjang.
PLETAKK!!!
Sebuah jitakan yang dilayangkan Myung Hee mulus mendarat diatas ubun-ubun gadis yang kini tengah meringis kesakitan itu.
“Kau ini..” omel Myung Hee pelan. Siwon hanya tersenyum melihat kejadian itu. Pandangannya kemudian teralihkan ke arah seorang gadis yang semenjak tadi hanya berdiri kaku dan terlihat agak canggung berada diantara kerumunan.

“Eonni..” Je Eun menyenggol pelan lengan gadis itu. Hyoseul yang saat itu juga sedang menatap Siwon sedikit tersentak oleh senggolan Je Eun tadi.
“Eonni tidak mau memberikan hadiahnya sekarang?” tanya Je Eun agak berbisik. Seperti dibangunkan dari mimpi, Hyoseul baru menyadari semenjak tadi tangannya memegang sebuah bungkusan kecil -sebuah kado untuk Siwon.
“Eoh?” Hyoseul sedikit linglung. Hyori yang menyaksikan kelinglungan sang leader hanya bisa menggelengkan kepala. Entah apa yang sedang dipikirkan Hyoseul sekarang sehingga membuatnya seperti itu.

“Hmm… Aku punya sedikit hadiah untukmu, Oppa.” kata Hyoseul memberikan kado yang semenjak tadi dipegang olehnya itu kepada Siwon. Pria itu segera membuka isi kado tersebut sesaat setelah menerimannya. Ternyata isi kado itu adalah sebuah scarf sederhana berwarna hitam. Siwon tersenyum ketika melihatnya.
“Kalau boleh menebak, ini pasti hasil karyamu sendiri kan?” tanya Siwon. Tangan-nya menunjukkan scarf pemberian Hyoseul seolah dirinya ingin semua orang melihat scarf itu.
“Ne, Oppa. Ma’af kalau buatanku kurang bagus.” jawab Hyoseul.
“Ah, siapa bilang? Scarf buatan tangan biasanya jauh lebih hangat dan nyaman dipakai. Aku rasa scarf ini akan sangat berguna untukku. Terima kasih, Hyoseul-ah.” kata Siwon setelah memuji Hyoseul. Membuat gadis itu tersipu malu akibat dari pujian itu. Hyoseul membalas ucapan terima kasih Siwon dengan sebuah senyuman. Senyuman dari lubuk hatinya yang paling dalam.

 

***

 

Hyoseul merebahkan tubuhnya yang terasa lelah diatas tempat tidur. Di tempat tidur yang lain, tampak Myung Hee sudah terlelap di alam mimpi. Hari sudah hampir pagi tapi Hyoseul belum juga bisa memejamkan mata. Ia masih teringat akan kejadian di pesta ulang tahun Siwon tadi. Ia merasa sangat senang bisa berbicara dengan Siwon meskipun hanya sejenak. Tapi di sisi lain Hyoseul juga merasa menyesal karena tidak bisa mendampingi Siwon selama pesta berlangsung. Bagaimana tidak? Sebagai sepasang kekasih mereka tidak bisa menunjunjukkan hubungan mereka di depan umum, sekalipun itu hanya di lingkungan teman-teman satu agensi. Yang tahu hubungan mereka hanya member MY Inc, beberapa member Super Junior dan manajer mereka. Agensi telah sepakat agar Siwon dan Hyoseul tidak mempublikasikan hubungan mereka. Itu dilakukan agar tidak terjadi lagi kasus bullying oleh fans yang pernah menimpa Hyori dan Myung Hee karena mereka berpacaran dengan Yesung dan Sungmin.

Dalam konser SMTOWN tahun lalu di Seoul, Hyori dan Myung Hee pernah dilempari sepatu oleh fans Yesung dan Sungmin. Di sepatu itu juga tertulis ancaman agar kedua gadis itu menjauhi idola mereka. Myung Hee tidak terkena lemparan itu. Sedangkan Hyori, ia mengalami memar karena sepatu itu tepat mengenai tangan sebelah kirinya. Selain itu, Hyoseul juga pernah diserang oleh Netizen karena adegan ciumannya dengan Siwon saat membintangi sebuah drama. Karena tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi, Siwon dan Hyoseul harus rela menutupi hubungan mereka dan menjaga jarak.

“Jangan terlalu sering pergi dengan Siwon. Kalau ada stalker yang memergoki kalian sedang bersama, kau dan semua dongsaengmu akan celaka.” kata-kata Lee Young Ra sang manajer kembali terngiang di telinga Hyoseul. Jangankan untuk pergi bersama, hampir setiap kali bertatap muka mereka berdua selalu menjaga jarak dan hampir tak saling bicara sama sekali. Mereka hanya saling memberikan senyuman, itu saja. Terkadang pula Hyoseul merasa iri kepada Yoona. Sepertinya fans lebih suka kalau Siwon dekat dengan salah satu rapper SNSD itu dibandingkan dengannya karena Hyoseul dianggap kurang pantas untuk Siwon. Bahkan Siwon lebih sering bertemu dengan Yoona dibandingkan dengan dirinya karena Super Junior lebih banyak tampil bersama SNSD dibandingkan dengan MY Inc. Tapi apakah fans pernah memikirkan perasaan Yoona? Ia memiliki seorang pacar diluar agensi dan hubungan mereka menjadi tak baik karena fans selalu menghubung-hubungkan Yoona dengan Siwon.

Mengingat hal itu Hyoseul menjadi iba kepada Yoona. Bahkan pernah suatu ketika Yoona mendatangi Hyoseul untuk meminta ma’af kepadanya. Yoona adalah satu-satunya member SNSD yang tahu hubungannya dengan Siwon. Yoona merasa bersalah karena -secara tak langsung- telah menyakiti perasaan pacarnya dan ia tidak ingin hal yang sama terjadi kepada Hyoseul. Itulah alasan kenapa Yoona meminta ma’af.
“Kau tak seharusnya meminta ma’af. Ini sama sekali bukan kesalahanmu. Hubunganku dengan Siwon baik-baik saja.” ucap Hyoseul pada waktu itu. Kasihan sekali Yoona. Gadis itu jadi menyalahkan dirinya sendiri. Ah, tidak. Justru Hyoseul-lah yang harus dikasihani. Berapa banyak fans Siwon yang akan patah hati jika mengetahui kalau ia adalah kekasih dari idola mereka? Dan apa yang akan menimpa Hyoseul jika itu benar-benar terjadi?
“Ah, Shin Hyoseul… Lebih baik kau mati saja.” ujarnya kepada dirinya sendiri.

 

***

 

Drrrtt… Drrrtt… Drrrtt…
Siang itu Hyoseul sedang menunggu gilirannya untuk pemotretan saat ponsel miliknya tiba-tiba saja bergetar. Ternyata ada sebuah SMS dari Siwon.

From : Captain Choi.
“Aku ingin bertemu denganmu di tempat kita sore ini.”

Jantung Hyoseul berdegup dengan sangat kencang saat membaca isi SMS itu. Siwon ingin bertemu dengannya. Ini adalah kesempatan yang baik baginya untuk bisa bersama Siwon. Tapi jika manajer sampai tahu kalau mereka bertemu, maka tamatlah riwayat Hyoseul.
“Ah, masa bodoh dengan Lee Young Ra!”

 

***

 

Hyoseul mengendarai mobilnya memasuki gerbang sebuah mansion yang terlihat begitu mewah. Pintu gerbang itu memang selalu terbuka lebar untuknya. Tak peduli kapan Hyoseul ingin memasukinya, gerbang itu akan selalu dibukakan untuknya.
“Selamat sore, Nona.” sapa seorang pria paruh baya begitu Hyoseul keluar sesaat setelah memarkir mobilnya. Pria itu adalah Tuan Hong, salah satu orang yang bekerja di keluarga Siwon.
“Selamat sore, Ahjussi. Apakah Siwon sudah sampai?” tanya Hyoseul perihal keberadaan Siwon.
“Ah, Tuan Muda belum datang, Nona. Beliau meminta anda untuk menunggunya di tempat biasa.” jawab Tuan Hong dengan penuh sopan santun.
“Ah, baiklah.. Aku akan kesana sekarang.” kata Hyoseul pada Tuan Hong.
“Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa memanggilku, Nona.” kata Tuan Hong lagi.
“Ne.. Terima kasih, Ahjussi.”

Hyoseul melangkahkan kakinya meninggalkan tempat parkir menuju ke tempat yang dimaksud oleh Tuan Hong. Tempat itu letaknya memang agak jauh, akan tetapi Hyoseul lebih memilih untuk berjalan kaki untuk sampai ke sana. Lagipula di sepanjang perjalanan Hyoseul disuguhi pemandangan yang begitu indah dan sangat manis. Pohon-pohon dan tanaman-tanaman yang baru bersemi terlihat begitu indah menghiasi taman luas yang berada disana. Hyoseul juga melewati sebuah bangunan mewah yang berdiri dengan kokoh di tengah-tengah taman. Sebuah pertanyaan muncul di benak gadis itu. Untuk apa Siwon membeli tempat seluas itu lengkap dengan mansion mewah dan taman yang begitu indah?

Beberapa bulan yang lalu Siwon memang pernah mengatakan kepada Hyoseul kalau dirinya ingin membeli sebuah tempat. Tak jelas apa alasan yang membuat Siwon memiliki keinginan seperti itu. Yang terjadi kemudian, Siwon memang benar-benar merealisasikan keinginannya tersebut dengan membeli sebuah mansion lengkap dengan taman yang begitu luas. Bahkan terdapat pula sebuah hutan kecil dengan anak sungai mengalir disana. Dan terdapat pula area berbukit yang berbatasan langsung dengan laut. Lucunya, tak ada satupun dari member Super Junior yang mengetahui tempat itu dan Siwon memberikan Hyoseul kebebasan penuh untuk keluar-masuk tempat itu dengan sesuka hati. Pernah Hyoseul bertanya kepada Siwon tentang hal itu. Tapi Siwon hanya menjawab..
“Itu rahasia.” dan sampai sekarang pun Hyoseul masih tak habis pikir dengan kekasihnya itu.

Setelah berjalan cukup jauh, Hyoseul akhirnya sampai juga di sebuah tempat yang Siwon sebut didalam SMS-nya sebagai ‘tempat kita’. Itu adalah sebuah taman indah yang berada diatas bukit dan berbatasan langsung dengan laut. Di sisi lain taman itu ada hutan kecil. Di tempat itulah Siwon mengajaknya bertemu. Hyoseul mendekati sebuah pohon tumbang di pinggir tebing dan duduk disana. Angin laut bertiup dengan lembut menerbangkan helaian rambut panjang Hyoseul. Sinar matahari sore mencurah dengan begitu hangatnya. Benar-benar suasana yang begitu indah.

Bukan sekali saja Hyoseul mendatangi tempat itu. Pernah beberapa kali gadis itu datang kesana apabila suasana hatinya sedang tak menentu. Ia akan duduk di atas batang pohon yang tumbang itu dan menatap langit biru yang membentang luas di atasnya untuk menenangkan pikiran. Terkadang pula Hyoseul berharap Siwon akan datang dan menemaninya bertukar pikiran. Tapi pada kenyataannya, Siwon tidak pernah datang. Hyoseul tak pernah sekalipun memberitahu Siwon kalau ia sering datang ke tempat itu karena ia tahu Siwon sangat sibuk. Justru Tuan Hong-lah yang memberitahu kedatangan Hyoseul kepada Siwon setelah gadis itu sudah pulang. Mengingat hal itu terkadang membuat Hyoseul merasa sedih.

“Tenanglah, Shin Hyoseul. Kali ini dia pasti datang.” ujarnya pada dirinya sendiri. Hyoseul sudah beberapa menit menunggu disana. Tapi Siwon belum juga datang.
“Apa lebih baik aku mengiriminya SMS saja?” Hyoseul bergumam sendirian. Entah mengapa gadis itu mulai merasa kalau penantiannya kali ini akan berakhir sama seperti penantiannya yang sudah-sudah.

 

***

 

Siwon sesekali melirik ke arah jam yang tergantung di dinding ruangan itu. Saat ini ia bersama pihak manajemen dan semua member Super Junior sedang mengadakan rapat membahas Super Show yang akan diselenggarakan di London dalam waktu dekat.
“Siwon-ssi, apakah kau mendengarkan penjelasan kami tadi?” tegur salah seorang staff pada Siwon yang sepertinya tak fokus.
“Ah, ne.. Aku mendengarkan. Menurutku itu ide yang cukup bagus.” kata Siwon dengan sikap seolah dirinya memperhatikan dengan seksama apa yang telah dijelaskan oleh staff itu tadi. Konsentrasi Siwon memang sedang terpecah. Di kepalanya saat ini hanya ada Shin Hyoseul. Ya, mana mungkin Siwon lupa akan janjinya yang ingin menemui gadis itu. Siwon ingin rapat itu segera berakhir agar ia bisa dengan segera bertemu Hyoseul.
‘Lama sekali!’ umpatnya dalam hati.

Drrrtt… Drrrtt… Drrrtt…
Ponsel Siwon bergetar. Ia segera meraih ponsel yang berada di saku celananya dan melihat ada satu SMS dari Hyoseul.

From : Commander Shin.
“Aku sudah sampai di tempat kita. Aku menunggumu sekarang.”

‘Dia sudah datang. Bagaimana ini?’ tanya Siwon dalam hati. Gadis itu pasti sedang menunggunya di sana. Siwon ingin menemui Hyoseul secepatnya, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan rapat.

“Matikan ponselmu. Kalau manajer hyung tahu, kau pasti akan dimarahi.” bisik Leeteuk yang duduk di sebelah kanan Siwon. Ia tahu kalau pria itu sedang membaca SMS dari Hyoseul.
“Tapi, hyung..”
“Kubilang, matikan.” Siwon tidak bisa membantah lagi. Terpaksa ia menonaktifkan ponsel miliknya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu hingga rapat itu selesai. Selama rapat berlangsung, Siwon hanya mengiyakan semua usulan yang dilontarkan oleh para staff dan member Super Junior lainnya. Ia sama sekali tidak bersemangat mengikuti jalannya rapat.

‘Ayolah.. Kenapa lama sekali?’ Siwon mulai tidak sabaran. Ia merasa gusar.
“Hyung, kau kenapa?” tanya Kyuhyun ketika melihat Siwon agak gelisah.
“Ah, ani.. Kepalaku hanya sedikit pusing. Mungkin karena pesta semalam, aku jadi kurang tidur.” jawab Siwon mencoba menutupi apa yang tengah dirasakannya sekarang.
“Hyung yakin tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun lagi, sekedar ingin memastikan.
“Aku baik-baik saja, Kyu. Kau tak perlu khawatir.”

 

***

 

Sudah setengah jam Hyoseul menunggu, tapi Siwon belum datang juga. Pria itu bahkan tidak membalas SMS-nya.
“Apa mungkin dia tak membaca SMS-ku?” pikir Hyoseul. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk menelepon Siwon. Akan tetapi..
“Ponselnya tidak aktif?” Hyoseul merasa kecewa karena ponsel Siwon tidak aktif sehingga ia tidak dapat menghubungi pria itu.
“Apa mungkin dia lupa?” lagi-lagi Hyoseul bertanya entah kepada siapa. Gadis itu mulai jenuh menunggu. Ia khawatir Siwon lupa akan janjinya dan tidak datang ke tempat itu.
“Ayolah, Shin Hyoseul. Bersabarlah… Mungkin sebentar lagi dia akan datang.” Hyoseul mencoba menyemangati dirinya sendiri. Gadis itu memutuskan untuk tetap tinggal disana dan menunggu kedatangan Siwon. Untuk menghilangkan rasa jenuh, Hyoseul memilih untuk mendengarkan musik dari iPod-nya…

“I walked across an empty land
I knew the pathway like the back of my hand
I felt the earth beneath my feet
Sat by the river and it made me complete”

“Oh simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on
So tell me when you gonna let me in
I’m getting tired and I need somewhere to begin”

 

***

 

“Baiklah, kalau begitu kita sudahi rapat ini..” Siwon menghembuskan napas lega ketika Produser Lee menutup rapat yang memakan waktu cukup lama itu. Ia segera angkat kaki dari ruangan rapat dengan terburu-buru.
“Siwonnie, kami akan ke Hendel & Gretel. Kau mau ikut?” tanya Eunhyuk.
“Kalian saja. Aku ada urusan.” jawabnya lalu pergi begitu saja. Member Super Junior lainnya agak bingung melihat sikap Siwon yang sedikit aneh. Kecuali Leeteuk yang tahu kalau dongsaeng satu grupnya itu sedang ada janji dengan Shin Hyoseul.

Siwon melewati lobi gedung SM dengan tergesa-gesa. Pria itu berjalan cepat hendak menuju ke mobilnya. Tapi ditengah-tengah perjalanan, rupanya sudah ada banyak wartawan yang menunggu. Mereka langsung menyerbu Siwon dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan..
“Siwon-ssi, apakah benar semalam Shin Hyoseul memberikan anda hadiah ulang tahun berupa scarf buatan tangannya sendiri?” tanya seorang wartawan pria.
“Benar.” jawab Siwon singkat.
“Lalu apakah kabar yang menyebutkan bahwa anda berpacaran dengan Hyoseul-ssi itu juga benar?” tanya wartawan yang lainnya.
“Kami hanya berteman baik.” Siwon menyangkal kenyataan kalau Hyoseul memang kekasihnya. Ia terpaksa melakukan itu demi kebaikan Hyoseul sendiri dan juga semua member MY Inc.
“Lalu bagaimana dengan Im Yoona? Bagaimana hubungan anda dengannya?” kali ini seorang wartawan wanita yang bertanya.
“Dia juga teman baikku. Kami semua yang berada di satu agensi yang sama sudah seperti keluarga sendiri. Ma’af, aku harus pergi.” kata Siwon yang dengan terburu-buru mencoba menerobos para wartawan yang mengerumuninya.
“Siwon-ssi, satu pertanyaan lagi.. Siwon-ssi!” para wartawan seperti tidak mau menyerah.
“Ma’af, aku benar-benar harus pergi.” kata Siwon lagi setelah berhasil menjangkau mobil mewah miliknya dan segera tancap gas dengan kecepatan tinggi.

 

***

 

“Ya, Tuhan. Aku telat. Aku benar-benar telat. Choi Siwon, kekasih macam apa kau? Dasar laki-laki bodoh!” Siwon tak henti-hentinya memaki dirinya sendiri. Betapa bodohnya Siwon yang sudah membiarkan gadis yang dicintainya menunggu begitu lama. Siwon memacu laju kendaraannya degan sangat kencang. Ia ingin segera sampai dan menemui Hyoseul.
“Hyoseul-ah, tunggu aku..”

***

Siwon memasuki halaman mansion mewah miliknya dan menemukan mobil Hyoseul terparkir disana. Tampak juga Tuan Hong yang sedang berdiri menunggu Siwon seraya memegang satu buah bucket Lily Cassablanca yang telah dipesan oleh Siwon sebelumnya.
“Tuan Muda, Nona Hyoseul sudah hampir satu jam menunggu anda.” kata Tuan Hong begitu Siwon keluar dari mobilnya.
“Apakah dia masih berada disana?” tanya Siwon tergesa-gesa.
“Mungkin saja, Tuan.” jawab Tuan Hong singkat.
“Aku harus segera kesana!” kata Siwon yang dengan segera berlari meninggalkan area parkir.
“Tuan, anda melupakan bunganya!” panggil Tuan Hong. Mendengar itu, Siwon segera kembali dengan terburu-buru untuk mengambil bunga itu.
“Ma’af, Ahjussi. Aku lupa. Terima kasih.” kata Siwon yang kemudian kembali berlari meninggalkan Tuan Hong yang kini hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kegigihan sang Tuan Muda dalam memperjuangkan cintanya.

 

***

 

Siwon berlari dengan sangat kencang menuju ke tempat Hyoseul berada seraya membawa bunga Lily berwarna putih kesukaan gadis itu. Ia berlari menelusuri jalan ditengah-tengah taman yang luas dan dihiasi pepohonan yang daunnya baru bersemi. Ditengah perjalanan itu, Siwon teringat akan alasan yang membuatnya ingin membeli tempat yang begitu luas itu..

 

=FLASHBACK=
Saat itu MY Inc menjadi bintang tamu di Sukira yang dipandu oleh Sungmin dan Ryeowook. Semua member MY Inc diberi berbagai macam pertanyaan diluar karier mereka sebagai artis. Termasuk hal apa yang mereka inginkan bila sudah berkeluarga nanti.
“Aku ingin tinggal di sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang sangat luas bersama suami dan anak-anakku kelak.” jawab Hyoseul pada waktu itu.
“Rumah kecil dengan pekarangan yang luas? Kenapa, Hyoseul-ssi?” Sungmin menanyakan alasan kenapa Hyoseul menginginkan itu.
“Aku ingin anak-anakku nanti bisa lebih dekat dengan alam dan mengenalnya lebih baik. Dengan pekarangan rumah yang luas, aku bisa mengajari mereka menanam pohon dan bagaimana caranya menjaga lingkungan dengan baik.” jawab Hyoseul lagi.
“Hyoseul Eonni itu suka sekali bercocok tanam. Dia bahkan menanam beberapa pot tanaman obat di dorm kami.” imbuh Myuri.
“Benarkah? Waah… Apakah orang tuamu juga suka bercocok tanam sepertimu, Hyoseul-ssi?” kali ini Ryeowook yang bertanya. Hyoseul menjawab pertanyaan pria berperawakan kecil itu sambil tersenyum malu..
“Ne, begitulah.. Eommaku juga sangat gemar berkebun..”
=FLASHBACK ENDS=

 

Kedua kaki Siwon menghentak Bumi semakin keras. Langkah kakinya semakin lebar dan cepat. Pria itu berlari dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Hatinya tak berhenti menyebut nama gadis yang kini sedang menunggu kedatangannya.
‘Hyoseul-ah…”

 

***

 

Angin yang berhembus dengan lembut dari arah laut memang masih terasa dingin mengingat ini musim semi. Namun hangat sinar matahari sore dapat mengurangi sedikit rasa dingin itu. Hyoseul masih duduk di atas batang pohon yang tumbang itu. Ia masih menunggu Siwon yang entah akan datang menemuinya atau tidak. Kedua mata Hyoseul memandang jauh ke arah lautan yang begitu biru. Pikirannya jauh melayang ke masa-masa saat ia dan Siwon pertama kali menghabiskan waktu berdua di tempat itu. Hyoseul ingat saat itu sedang musim panas -dimana daun pepohonan tumbuh dengan sangat lebat dan bunga-bunga bermekaran dengan indahnya. Siwon mengatakan kalau tempat itu hanya mereka berdua saja yang tahu. Hanya di tempat itu mereka bisa bersama tanpa harus ada orang yang mengganggu mereka dengan blitz, gossip dan lain sebagainya. Namun itu juga merupakan hari pertama sekaligus terakhir bagi Hyoseul untuk duduk bersama Siwon di tempat itu. Setelah itu Hyoseul hanya bisa menyendiri tanpa pria yang dicintainya hadir di sisinya dan mengiba kepada langit, pepohonan dan lautan tentang semua yang tengah dirasakannya.

“I came across a fallen tree
I felt the branches of it looking at me
Is this the place we used to love?
Is this the place that I’ve been dreaming of?”

“Oh simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on
So tell me when you gonna let me in
I’m getting tired and I need somewhere to begin”

Lagu yang sama masih didengarkan Hyoseul semenjak tadi. Entah sudah yang ke berapa kali ia mengulang lagu itu. Lagu yang selalu menemaninya saat menyendiri dan mengharapkan kedatangan Siwon. Lagu yang sangat bisa menggambarkan apa yang dirasakannya kini. Hyoseul hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan ketika otaknya kembali memutar hari-hari sepi yang pernah ia lewati sendirian. Dan bagi Hyoseul hari ini pun nampaknya akan berakhir sama. Ah.., gadis itu sepertinya sudah sangat lelah dengan hanya menunggu dan mengingat semua itu. Membuatnya bangun dari posisi duduknya dan melangkahkan kaki meninggalkan batang pohon yang sudah menemaninya ‘berkeluh kesah’ semenjak tadi. Tapi ketika baru beberapa langkah saja kaki Hyoseul berjalan, ia berhenti.

Mata gadis itu menangkap sosok seorang pria sedang berlari ke arahnya. Hyoseul terpaku ketika melihat pria itu berhenti dalam jarak 5 meter di depannya.
“Oppa…” Hyoseul tak mampu untuk mempercayai apa yang kini tengah dilihatnya. Itu Siwon. Pria itu tampak kelelahan dengan napas terengah-engah karena telah berlari sangat kencang. Namun Hyoseul juga dapat melihat ada seulas senyum terlukis dengan jelas di wajah Siwon ketika melihat ia di sana.

“Oppa…” Hyoseul menorehkan senyum yang sama di wajahnya. Siwon menyudahi istirahatnya dan kemudian berjalan perlahan menghampiri Hyoseul. Gadis itu seperti membeku ketika Siwon menarik dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Hyoseul masih ragu untuk mempercayai apakah itu nyata atau hanya khayalannya saja.
“Kumohon jangan pergi dulu. Tinggallah sebentar lagi di sini, aku mohon…” pinta Siwon dengan sangat. Suara pria itu seolah menyadarkan Hyoseul. Itu memang Choi Siwon, kekasihnya. Secara tak sadar, Hyoseul sudah menautkan kedua tangannya melingkar di tubuh Siwon. Air mata mulai menetes di pipi gadis itu.
“Aku merindukanmu…” ucapnya lirih. Siwon memeluknya semakin erat. Hyoseul menenggelamkan wajahnya di dada bidang Siwon. Tangisnya pun pecah, dan air mata mulai membasahi baju pria itu.

“Aku sangat merindukanmu… Hiks…” kata Hyoseul lagi sambil terisak. Siwon terenyuh saat mendengar suara lemah Hyoseul. Membuat pria itu juga tak sanggup menahan air yang semenjak tadi sudah membendung di pelupuk matanya.
“Aku juga sangat merindukanmu, Hyoseul-ah. Sangat merindukanmu.” tegas Siwon seraya mengecup puncak kepala Hyoseul. Dan segala beban berat yang selama ini begitu mengusik keduanya pun seperti hilang entah kemana. Kini hanya ada rasa bahagia menaungi mereka berdua.

 

 

 

 

 

~TBC~

Iklan

fanfiction | THE VILLAGE Chapter-4


Author: Shin Hyoseul a.k.a Lady Modrus Grande Dame (@ladymodrus).
Genre: Drama, Romance, Mystery.
Rate: T.
Lenght: Chaptered-udah-pasti-panjang.
Cast:
– Cho Kyuhyun.
– Shin Seungjung (OC).
– Lee Sungmin.
– Hwang Rin Ah (OC).
– Kim Jongwoon (Yesung).
– Choi Hyori (OC).
– Lee Donghae.
– Park Chanra (OC).
– Kim Ryeowook.
– Kim Myuri (OC).
– Choi Siwon.
– Shin Hyoseul *author ketagihan nampang*
– Kim Sungri (OC).
– Kim Ryeo Eun (OC).
– Kim Sunwook (OC).
– Choi Hyunsoo (OC).
– Choi Hyowon (OC).
Note: Mian updatenya agak lama. Soalnya author sibuk sama kerjaan.
Desclimer: All cast mutlak milik Allah. Kecuali Sungri (milik Hyori), Ryeo Eun & Sunwook (milik Myuri), sedangkan Hyunsoo, Hyowon & FF ini mutlak milik author. Copas/Share boleh asal full credit.
Warning: Typo(s), OOC, Non-EYD, kata-kata monoton & ceritanya ga nyambung.

NO BASHING!!
^^ Happy Reading ^^

kyu

###

*Author’s POV*
Donghae melihat hamparan ladang sayurnya rusak diserang hama. Sayur mayur yang seharusnya sudah siap untuk dipanen menjadi layu dan mati. Dari kejauhan ia melihat sosok Siwon yang sedang kebingungan karena ladangnya juga terkena hama. Suatu keanehan telah terjadi. Setelah sekian lama Donghae tinggal di perkampungan itu, belum pernah sekalipun ada ladang yang diserang hama. Hasil panen selalu bagus dan tidak pernah gagal. Tapi sekarang, -untuk pertama kalinya- hama menyerang perkebunan mereka.
“Ini pertanda buruk..” Donghae bergumam.
“Tapi kenapa Yesung belum melakukan tindakan apapun?” gumamnya lagi. Donghae hanya berpikir mungkin Yesung terlalu fokus terhadap Kyuhyun dan Seungjung sehingga tidak terlalu mempedulikan hal lain. Belakangan ini Yesung banyak berdiskusi dengan Sungmin -tentang Kyuhyun dan Seungjung. Sepertinya Yesung sangat mempercayai Sungmin. Terbukti dengan adanya perintah kepada dokter muda itu untuk menjaga ‘calon’ anggota baru mereka.

Lee Sungmin. Nama itu sepertinya sangat dibenci oleh Donghae. Terlebih lagi jika ia mengingat apa yang dikatakan oleh dokter itu semalam. Beraninya namja itu berbicara tentang Chanra dihadapannya.
“Aarrgh!!!” Donghae merasa kesal ketika mengingat kejadian tadi malam. Ia sangat sakit hati terhadap Sungmin. Bagaimana bisa namja itu menjadikan kemalangan yang menimpa Chanra sebagai senjata untuk mengancamnya? Mungkin Donghae memang salah karena telah terlebih dulu menyinggung perasaan Sungmin, namun ia juga tak menyangka kalau Sungmin yang biasanya lemah dan pendiam bisa bertindak seperti itu -dengan mengatakan hal-hal yang menurut Donghae lebih kejam dari apapun. Semua itu membuat Donghae tak bersemangat menggarap ladang. Ia pun memutuskan untuk pulang.
*Author’s POV ends*

*Donghae’s POV*
Aku melangkahkan kakiku meninggalkan ladang. Pikiranku jadi tak tenang. Di kepalaku kini hanya ada Chanra -yeoja yang telah membuatku luluh, membuatku tak lagi peduli apa kata dunia tentang rasa cinta yang kami miliki. Aku sangat mencintainya -melebihi apapun. Bahkan ketika kedua orang tuaku dengan sangat jelas melarangku untuk menikah dengannya, aku sama sekali tak peduli. Seperti apapun kondisi yang sedang dialami oleh Chanra tidak akan mengubah rasa cintaku padanya. Dia adalah hidupku. Dan dia juga adalah matiku.

=Flashback=
Aku pertama kali bertemu dengan Chanra di sebuah Rumah Sakit. Saat itu aku sedang mendampingi hyung-ku yang baru saja menjalani operasi karena mengalami kecelakaan. Di salah satu lorong di Rumah Sakit itu aku ditabrak oleh seorang yeoja.
BRUKK!
Yeoja itu terjatuh. Dia tampak sangat lemah. Jadi, aku mencoba untuk membantunya berdiri.
“Nona, kau tidak apa-apa?” tanyaku. Dia tak menjawab. Malah dengan tanpa meminta ma’af -karena sudah menabrakku- dia langsung pergi dengan terburu-buru. Aku bisa melihat pipinya basah karena air mata. Dan pada saat itu juga -tanpa aku tahu kenapa- aku memutuskan untuk mengikuti langkah yeoja itu.

Dia berjalan dengan sangat cepat menuju atap Rumah Sakit. Aku tak tahu persis apa yang akan lakukannya. Yang pasti, yeoja itu hanya berdiri mematung ketika sampai disana. Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh dan dia sama sekali tak menyadari kehadiranku.
‘Mau apa dia di tempat seperti ini?’ pikirku. Aku masih memperhatikannya dari jauh -mencari tahu apa yang hendak dilakukan oleh yeoja itu. Namun, aku mulai berjalan mendekat ketika dia -dengan perlahan-lahan- melangkahkan kakinya kepinggir gedung. Air matanya semakin deras mengalir ketika dia melihat kearah bawah gedung rumah sakit itu.

“Eomma, Appa.., ma’afkan aku.. Aku sudah tak punya masa depan lagi.. Hiks..” isaknya. Kulihat yeoja itu naik keatas sebuah pembatas lalu merentangkan kedua tangannya. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini. Oleh karena itu..
“Andwae!!!” teriakku. Yeoja itu menoleh, dia tampak terkejut.
“Siapa kau?! Jangan campuri urusanku!” bentaknya tak senang.
“Na~namaku Lee Donghae. Aku~”
“Aku tak mengenalmu, Tn.Lee. Sebaiknya kau pergi!” usir yeoja itu. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengatakan bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya dan memintanya untuk turun dari pembatas itu. Namun dia bersikeras. Yeoja itu bahkan mengancamku.
“Kalau kau berani mendekat, aku akan melompat!” dia mengangkat sebelah kakinya seperti hendak melangkah keluar pembatas. Aku jadi mengurungkan niatku untuk mendekat.

Dia memalingkan wajahnya dariku dan menatap langit biru yang membentang diatasnya. Air mata-nya masih berlinang. Tak jelas apa yang sedang dihadapinya, namun aku yakin itu pasti sesuatu yang sangat berat sehingga membuatnya terlihat begitu depresi.
“Andaikan ada tempat lain disana yang bisa membuatku bahagia.. Aku akan rela melakukan apa saja..” dia bergumam pelan, tapi aku dapat mendengar suara lirih yeoja itu.
“Aku tak bisa berada disini lagi.. Aku tak mau hidup lagi..” yeoja itu memejamkan kedua matanya. Tampak dirinya sudah tak peduli lagi dengan apapun. Aku harus bertindak. Ya, aku harus bertindak. Ketika dia hendak melangkah melewati pembatas..
“ANDWAE!!!”
=Flashback ends=

***

Pada awalnya, kupikir mungkin aku hanya kasihan melihat kondisi Chanra yang begitu lemah dan telah kehilangan semangat hidup karena kanker Serviks yang dideritanya. Dokter telah memvonisnya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan. Itulah yang membuatnya ingin mengakhiri hidup.

Tak tega melihatnya begitu rapuh, aku pun mencoba untuk memberinya motivasi. Berhasil. Aku berhasil membujuknya untuk melakukan operasi. Aku juga mendampinginya saat dia menjalani kemoterapi. Semula, aku hanya ingin membantu. Itu saja. Hingga kemudian aku merasakan ada hal yang aneh terjadi padaku. Aku rasa aku telah jatuh cinta padanya. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini. Kupikir, mungkin ini hanya karena perasaan iba semata. Tapi ternyata aku salah. Aku bisa merasakannya. Tak ingin memendam lebih lama lagi, aku pun mengatakan kepada Chanra tentang apa yang aku rasakan. Awalnya Chanra merasa tak percaya. Dia menolakku..
“Kau hanya akan menyia-nyiakan hidupmu. Kau tak seharusnya mencintaiku.” begitulah ucapnya saat itu. Aku sudah menduga sebelumnya dan aku juga mengerti kenapa Chanra menolakku. Kanker Serviks yang ia idap adalah alasannya. Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan apabila menikah dengannya. Seumur hidupku mungkin hanya akan kuhabiskan dengan merawat Chanra. Namun demi Tuhan, aku rela melakukannya.

Cintaku sudah terlalu kuat untuk dilawan. Aku ingin menghilangkan perasaan itu -suatu hal yang sangat sulit untuk kulakukan. Park Chanra, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau begitu indah di mataku? Kau hanya gadis lemah yang -hampir- tak mampu melakukan apa-apa. Tapi aku ingin bersamamu, selalu berada di sisimu. Aku ingin melihat adanya setitik harapan didalam hidupmu. Aku. Itu adalah aku.
*Donghae’s POV ends*

*Author’s POV*
Di sepanjang perjalanannya menuju rumah, pikiran Donghae tak pernah luput dari Chanra. Seketika semua kenangan tentang perjuangan cinta mereka kembali memenuhi kepala Donghae. Bagaimana akhirnya ia bisa meyakinkan hati Chanra dan bagaimana memilukannya saat keluarga Donghae -terutama kedua orang tuanya- menolak Chanra -yang akhirnya membuat Donghae dan Chanra memutuskan untuk kawin lari. Juga masa-masa dimana mereka harus hidup dengan penuh keterbatasan setelah menikah -ditambah lagi dengan penyakit Chanra yang semakin lama semakin parah. Semua itu membuat dada Donghae terasa sesak.

***

Donghae memasuki rumah kecil nan elok itu. Didalam tak ada orang, tapi Donghae tahu kemana Chanra pergi. Halaman belakang rumah. Ya, Donghae yakin istrinya berada disana.

Benar. Tampak seorang yeoja sedang duduk diantara ilalang yang tumbuh di belakang rumah mereka. Chanra yang mendengar derap langkah suaminya menoleh dan menorehkan seulas senyum manis di wajahnya yang terlihat sedikit pucat. Donghae membalas senyuman itu dan kemudian berjalan mendekat sebelum akhirnya ia memposisikan dirinya duduk di sebelah kiri Chanra.
“Kau pulang cepat?” tanya Chanra perihal kedatangan Donghae.
“Tak ada lagi yang bisa kulakukan di ladang. Hampir semua sayuran yang kita tanam terserang hama.” jawab Donghae.
“Lagipula, aku merindukanmu.” ujar Donghae lagi.

Kata-kata Donghae tadi membuat yeoja berperawakan agak kurus itu mengerutkan dahinya. Chanra menatap suaminya dengan penuh rasa heran. Entah apa maksud Donghae dengan mengatakan hal itu. Sadar sedang diperhatikan, Donghae pun menoleh kearah yeoja yang berada di sampingnya itu.
“Wae?” tanyanya ketika melihat ekspresi wajah Chanra.
“Ah, ani.. Hanya saja kau agak aneh.” jawab Chanra.
“Mwo? Aneh? Apanya yang aneh?” tanya Donghae lagi -tak mengerti.
“Kau bilang tadi kau merindukanku? Bukankah setiap hari kita selalu bersama?”. Donghae tersenyum mendengar apa yang terucap dari mulut yeoja yang sangat dicintainya itu.
“Ne, kita memang selalu bersama. Tapi apakah aku salah bila merindukanmu?” kata Donghae lagi.
“Anio, tapi tetap saja alasanmu itu terdengar aneh.”
“Jangan bilang kalau kau tak merindukanku. Apa jangan-jangan kau sudah bosan padaku dan sudah tak mencintaiku lagi?” kata Donghae sesaat setelah mendengar ucapan istrinya tadi.
“Ya! Lee Donghae, kau ini apa-apaan? Tentu saja aku mencintaimu.” kata Chanra sedikit cemberut. Donghae tertawa kecil melihat pipi Chanra yang menggembung -sehingga membuat Chanra terlihat sedikit chubby.
“Aku hanya bercanda.” ujar Donghae disela-sela tawa kecilnya. Chanra masih cemberut, ia tak menggubris kata-kata Donghae. Membuat namja itu meraih tubuh sang istri lalu menempatkannya kedalam sebuah pelukan yang begitu hangat.
“Aku mencintaimu, chagiya.. Kau juga tahu bahwa tidak akan ada yang bisa mengubah perasaanku padamu. Apapun itu.” bisik Donghae.
“Ne..” ucap Chanra pelan.

Donghae dan Chanra hanya duduk berdua menikmati pemandangan indah -yang sedikit mencekam. Chanra yang bersandar di pundak Donghae seperti bisu. Tak ada kata yang diucapkannya. Hanya suara hembusan napasnya yang terdengar -seperti menyanyikan sebuah lagu tentang penderitaan yang begitu dalam. Hingga kemudian Donghae menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Chanra menangis. Suara isakannya hampir tak terdengar. Yeoja itu sekuat tenaga menahan tangisannya karena ia tak ingin membuat suaminya semakin khawatir terhadapnya. Namun tetap saja apa yang ia lakukan tidak akan pernah mampu menutupi apa yang sedang dirasakannya sekarang.

“Tak bisakah Choi Hyunsoo untukku saja?” tanya Chanra ditengah-tengah tangisnya. Hati Donghae terenyuh mendengar suara lemah Chanra yang menginginkan kehadiran seorang anak di keluarga kecil mereka. Donghae sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya sendiri sedang berkecambuk. Chanra memegangi perutnya sendiri. Ia ingin merasakan adanya tanda-tanda kehidupan didalam sana. Tapi sekeras apapun ia mencoba, hal itu tidak akan pernah bisa terjadi.
“A~apakah ‘dia’ bisa merasakan sentuhan tanganku?” tanya Chanra lagi. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Donghae. Tangisannya mulai pecah. Donghae -yang masih tak tahu harus berkata apa- juga tak sanggup menahan air matanya melihat Chanra yang sedang merasa begitu rapuh dan berduka. Yang ia bisa lakukan hanya memeluk Chanra semakin erat. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan hati Chanra.

“Kumohon, Donghae-ah.. Kau harus membujuk Yesung. Biarkan aku memiliki Choi Hyunsoo.. Hiks..”. Chanra terdengar begitu putus asa. Dan tanpa disadarinya, Donghae mulai merasa kalau semua kata-kata yang diucapkan oleh Sungmin tadi malam terbukti benar. Apa yang menimpa Donghae dan Chanra jauh lebih menyakitkan apa bila dibandingkan dengan apa yang pernah Sungmin lewati sebelumnya. Penyesalan mulai menggerogoti hati namja itu.
“Ma’afkan aku, chagiya..” hanya itu yang bisa Donghae ucapkan. Dan semua itu takkan mampu mengakhiri penderitaan Chanra.

***

“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” Siwon bergumam bingung ketika melihat sayuran yang ditanam olehnya rusak akibat hama. Siwon merasa bodoh karena tak mampu menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh Yesung dan penduduk desa lainnya yang telah berbaik hati memberinya sebidang tanah untuk digarap. Ia memang tidak memiliki bakat apapun dalam bidang pertanian. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya bercocok tanam karena sebelumnya Choi Siwon adalah seorang CEO dari salah satu Departement Store ternama di Korea. Ia dan keluarganya belum pernah sekalipun melakukan pekerjaan kasar seperti bertani, beternak hewan dan lain-lain. Sebelum menikah dengannya, Shin Hyoseul -istri Siwon- adalah seorang penulis yang juga putri dari arsitek kenamaan Korea bernama Shin Dong Hee. Itu membuat sang istri tak mampu berbuat banyak untuk membantunya menggarap ladang. Entah apa yang harus ia perbuat untuk mengusir hama-hama yang telah merusak habis semua sayuran yang ditanamnya.
‘Ah, Lee Donghae yang sudah lama tinggal disini saja mengalami hal yang sama.’ Siwon membatin dalam hati seraya menghibur dirinya sendiri dengan mengingat kalau hama tak hanya merusak ladang miliknya, tetapi juga milik Donghae -yang sudah lebih dulu tinggal di desa itu sebelum Siwon.

“Siwon-ssi..” lamunan Siwon berakhir ketika mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya dari belakang. Siwon menoleh dan tampaklah Kyuhyun yang sedang berdiri dihadapannya sambil tersenyum.
“Ah, Kyuhyun-ssi.. Ada perlu apa kemari?” tanya Siwon dengan ramah.
“Ani.. Aku hanya sedang berkeliling melihat-lihat. Kebetulan aku lewat sini dan melihatmu. Sepertinya kau sedang bingung..” jawab Kyuhyun sedikit berbasa-basi. Sebenarnya Kyuhyun tidak sedang berjalan-jalan melihat perkampungan. Ia sengaja mendatangi Siwon karena ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan kepada namja itu.
“Ne, aku memang sedang bingung. Ladangku terserang hama. Aku tidak tahu harus bagaimana.” ujar Siwon sambil menatap lesu ke sekeliling ladang sayur garapannya.
“Sayang sekali, Siwon-ssi. Aku tidak mengerti ilmu pertanian. Aku tak bisa memberikan saran apapun kepadamu.” kata Kyuhyun turut prihatin.
“Ah, tidak apa-apa. Mungkin nanti aku akan meminta solusi pada Yesung dan penduduk lainnya.” kata Siwon lagi sambil tersenyum. Karena Siwon merasa sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan di ladang, ia pun akhirnya mengikuti jejak Donghae -yang memutuskan untuk pulang beberapa waktu yang lalu sebelum Kyuhyun tiba. Ia juga mengajak Kyuhyun untuk pulang bersamanya. Kyuhyun menyambut ajakan Siwon dengan senang hati.

***

“Kudengar dulu kau adalah seorang CEO. Apa benar begitu, Siwon-ssi?”. Ditengah-tengah perjalanan pulang, Kyuhyun mulai bertanya tentang asal-usul Siwon. Kyuhyun sebenarnya sudah tahu siapa Siwon dari Sungmin, tapi itu hanya sebatas basa-basi saja.
“Ne. Aku mengurus bisnis keluarga. Dongsaengku juga ikut membantu mengelola Departement Store yang kami jalankan.” jawab Siwon sambil terus berjalan.
“Kau pasti sangat sibuk?” tanya Kyuhyun lagi. Siwon tersenyum lalu berkata..
“Begitulah.. Terkadang aku jadi jarang berkumpul dengan keluargaku. Aku juga sering diprotes oleh anak-istriku karena terlalu sibuk.”. Mendengar perkataan Siwon, Kyuhyun hanya bisa menghela napas. Ia jadi teringat akan dirinya sendiri yang juga sering protes kepada kedua orangtuanya karena terlalu sibuk bekerja. Oleh karenanya Kyuhyun menjadi begitu dekat dengan Ahra -yang selalu ia jadikan sebagai sosok pengganti ayah dan ibunya.
“Aku rasa aku bisa mengerti perasaan keluargamu, Siwon-ssi. Appa dan eomma-ku juga terlalu sibuk bekerja. Di rumah aku hanya ditemani oleh noona-ku. Aku sering merasa kesepian.” ujar Kyuhyun mengingat kenangan masa kecilnya dulu. Seketika hati Kyuhyun dihinggapi rasa rindu yang teramat sangat akan ayah, ibu dan kakaknya. Mereka pasti sangat khawatir karena sudah 2 hari belum mendapat kabar darinya. Tapi Kyuhyun segera mengalihkan perhatiannya dengan kembali mengobrol dengan Siwon.

“Siwon-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”
“Ne, silakan.”
“Hmm.. Aku dengar dari penduduk lain kalau kau belum lama tinggal di desa ini. Aku hanya penasaran, kenapa kau dan keluargamu memilih untuk tinggal di tempat yang terpencil seperti ini?”. Siwon segera menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kyuhyun. Siwon terdiam. Matanya seperti sedang menerawang sesuatu. Namja itu tampak seperti sedang mencoba untuk mengingat sesuatu yang telah lama dilupakannya.
“Si~Siwon-ssi..? Apa kau baik-baik saja?” Kyuhyun menegur Siwon yang tiba-tiba saja melamun. Namja itu masih terdiam. Tampak dahinya mengerutkan sebuah pertanyaan yang membuatnya berpikir keras.
“Siwon-ssi?” tegur Kyuhyun lagi karena Siwon tak meresponnya. Kyuhyun lantas menepuk pundak Siwon pelan, kemudian..
“Ah, ne?” Siwon tersadar dari lamunannya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun agak sedikit heran. Siwon berusaha bersikap senormal mungkin didepan Kyuhyun. Namja itu tersenyum lalu berkata..
“A~ku baik-baik saja, Kyuhyun-ssi. Aku hanya masih teringat akan ladangku yang terserang hama tadi.” jawab Siwon agak sedikit terbata-bata.
“Apa kau yakin?” Kyuhyun ingin memastikan.
“Ne. Mungkin sebaiknya aku segera kembali ke rumah. Kebetulan rumahku sudah dekat, jadi aku mohon permisi dulu, Kyuhyun-ssi. Annyeong..” kata Siwon lagi lalu segera meninggalkan Kyuhyun dengan terburu-buru. Melihat tingkah aneh Siwon, Kyuhyun merasa ada yang tidak beres dengan namja itu. Tak hanya Siwon, Sungmin dan penduduk lainnya juga terlihat aneh. Entah siapa sesungguhnya mereka yang menghuni perkampungan itu. Rasa penasaran Kyuhyun semakin bertambah. Hanya saja, belum ada hal yang dapat menjawab rasa penasaran pemuda itu.

***

Siwon membuka pintu rumahnya yang terbuat dari kayu itu. Jauh dari arah belakang rumah terdengar suara seseorang. Suara yang begitu dikenalnya. Choi Hyunsoo, putra kesayangannya terdengar sedang asik bermain. Mendengar suara ceria Hyunsoo, hati Siwon menjadi sedikit tenang karena tadi malam bocah laki-laki itu tak mau berhenti menangis. Ia tampak begitu ketakutan -tanpa Siwon dan istrinya tahu apa penyebabnya. Siwon meneruskan langkahnya sehingga ia sampai di halaman belakang rumahnya. Tampak Hyoseul sedang duduk mengawasi Hyunsoo yang sedang sibuk bermain dengan seekor anak kelinci berwarna putih.

Menyadari kedatangan Siwon, Hyoseul hanya melemparkan senyuman kearah namja itu -sebagai pertanda kalau Siwon tak perlu lagi mengkhawatirkan Hyunsoo.
“Dari mana Hyunsoo mendapatkan anak kelinci itu?” tanya Siwon yang kemudian duduk di samping Hyoseul.
“Dari si kembar Ryeo Eun dan Sunwook. Myuri dan Ryeowook mendengar Hyunsoo menangis tadi malam. Jadi, mereka berinisiatif untuk memberikan salah satu kelinci milik mereka pada Hyunsoo agar dia merasa terhibur.” jawab Hyoseul.
“Keluarga Kim.. Mereka memang sangat baik hati. Mereka selalu banyak membantu kita.” Siwon merasa kagum kepada keluarga Ryeowook. Bahkan ladang sayur yang kini digarap olehnya dulunya adalah milik Ryeowook. Siwon benar-benar tidak tahu bagaimana ia harus berterimakasih kepada mereka. Berkat Keluarga Kim pula mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan di perkampungan itu.
*Author’s POV ends*

*Siwon’s POV*
Syukurlah.. Hyunsoo kembali ceria seperti semula. Semalaman aku dibuatnya khawatir setengah mati karena anak itu menangis dan terus menangis dengan kencang. Segala usaha yang kami lakukan untuk membuatnya diam semuanya gagal total. Hyunsoo baru berhenti menangis ketika hari sudah menjelang pagi. Hyoseul menemaninya hingga ia tertidur. Karena hari sudah pagi, Hyoseul jadi tidak sempat untuk beristirahat. Sepertinya sampai sekarang pun ia belum tidur. Aku bisa melihat dari matanya yang agak memerah dan wajahnya yang sedikit pucat. Aku harus melakukan sesuatu.

“Hyoseul-ah, kau tampak sangat lelah. Kau bahkan belum tidur sejak tadi malam. Beristirahatlah..” pintaku pada Hyoseul yang semenjak tadi tak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah lucu Hyunsoo yang sedang bermain dengan ‘teman’ barunya.
“Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.” ujarnya sambil menoleh kearahku. Aku bisa melihat dengan jelas kalau ia begitu kelelahan. Tapi Hyoseul mencoba menyembunyikan rasa lelahnya dengan berkata kalau dirinya baik-baik saja.
“Kau tidak bisa membohongiku. Beristirahatlah di kamar. Aku akan menjaga Hyunsoo dan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku tidak mau kau jatuh sakit, chagiya.” aku berusaha agar Hyoseul mau beristirahat sejenak. Tapi dia malah tertawa..
“Hahaha.. Kau bilang apa tadi? Menjaga Hyunsoo dan mengerjakan semua pekerjaan rumah?” Hyoseul memicingkan matanya seperti tak yakin.
“Jangan remehkan aku. Kau pikir hanya karena aku seorang pria aku tidak bisa mengurus rumah?” tanyaku padanya. Hyoseul menggelengkan kepalanya.
“Wae?” tanyaku bingung.
“Ah, ani.. Setahuku kau sudah cukup lelah bekerja di ladang. Sayuran kita tanam sedang diserang hama, kan? Aku juga tidak mau kau jatuh sakit, Siwon-ah.” jawabnya padaku. Aku bisa melihat dari sorot matanya, disana ada rasa khawatir yang sedang ia coba sembunyikan dariku. Seharusnya aku memberi Hyoseul perhatian yang lebih. Aku tak seharusnya membuat ia semakin cemas.

“Aku berjanji padamu, apabila semuanya sudah selesai aku juga akan beristirahat. Percayalah padaku.” ujarku mencoba menyakinkannya. Kugenggam kedua belah telapak tangannya dengan erat. Aku merasakan tangan Hyoseul begitu dingin, oleh karena itu..
“Pergilah tidur. Aku akan menjaga Hyunsoo.”. Hyoseul tidak berkata apa-apa, ia hanya mengangguk sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju kamar tidur. Entah mengapa saat menggenggam tangannya, aku merasakan ada sesuatu yang membuat hatiku tak tenang. Mungkin aku hanya khawatir karena sepertinya Hyoseul sedang kurang sehat. Tapi aku rasa ada sesuatu yang lebih buruk dari itu.
*Siwon’s POV ends*

*Author’s POV*
“Appa!” seru Hyunsoo ketika melihat Siwon. Anak itu segera berlari menuju sang ayah seraya menggendong anak kelinci yang menjadi teman barunya. Siwon segera memberikan jagoan kecilnya itu sebuah pelukan yang begitu hangat.
“Appa, Ryeo Eun dan Sunwook memberiku kelinci kecil ini. Aku memberinya nama Sungmin.” kata Hyunsoo dengan penuh semangat. Mendengar itu, Siwon tertawa..
“Mwo? Kenapa harus Sungmin?” tanya Siwon bingung. Ia ingin tahu kenapa Hyunsoo menamai kelincinya sama seperti nama Lee Sungmin.
“Itu karena gigi depan Dr.Lee sangat mirip dengan kelinci.” jawab bocah berpipi chubby itu dengan polosnya. Siwon kembali tertawa mendengarnya.
“Hahaha.. Jinja? Apa kau tidak takut Dr.Lee akan marah? Bagaimana kalau diberi nama Hyunsoo saja?” ujar Siwon sedikit bercanda. Hyunsoo menggelengkan kepalanya, wajah manis anak itu berubah cemberut.
“Aku tidak mau jadi kelinci..” ujarnya. Lagi-lagi Siwon tertawa kecil mendengar jawaban polos putranya.
“Tentu saja kau tidak akan jadi kelinci Hyunsoo-ah. Kau hanya akan jadi jagoan kecil Appa. Selalu.” mendengar ucapan Siwon, senyum pun kembali terlukis di wajah Hyunsoo. Senyuman itu menampakkan lesung pipit yang begitu manis di kedua belah pipinya -membuat Hyunsoo terlihat sangat mirip dengan ayahnya. Siwon kembali mendekap Hyunsoo dengan erat. Sangat erat. Sehingga kemudian Siwon kembali merasakan ada sesuatu yang aneh.

***

Malam sudah larut, namja bernama Choi Siwon itu masih terjaga. Matanya seperti enggan untuk terpejam. Hatinya sedang tak tenang, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Siwon teringat akan pertanyaan Kyuhyun tadi siang tentang alasannya memboyong Hyoseul dan Hyunsoo pindah dari kota besar ke perkampungan terpencil dan meninggalkan semua yang dimilikinya -perusahaan dan keluarga besarnya. Entah apa yang terjadi, Siwon tidak dapat mengingat apa yang telah membuatnya memutuskan untuk tinggal di tempat terasing seperti itu. Seketika Siwon teringat akan orang tuanya, adik perempuannya dan Kibum sahabatnya. Apakah mereka semua tahu keberadaan Siwon dan anak-istrinya sekarang? Bagaimana bisa Siwon melupakan mereka semua?

‘Ya Tuhan.. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada kami?’ tanya Siwon dalam hati. Namja itu semakin merasa tak tenang ketika mengetahui adanya keanehan pada diri Hyunsoo. Saat memeluk putranya tadi siang, Siwon tidak dapat merasakan detak jantung di dada bocah kecil itu. Semuanya sangat mengganggu pikiran Siwon. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Akal sehatnya tak mampu menerima kejadian aneh yang baru saja ia alami. Siwon benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dirinya hanya bisa melamun diatas alas tidurnya. Melamun tanpa adanya jalan keluar yang ia temui.

Malam itu terasa begitu berat untuk dilewatinya sendirian. Siwon menoleh kearah seorang yeoja yang sedang tertidur lelap di sebelah kanannya. Shin Hyoseul, yeoja itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya, membuat Siwon tak tega kalau harus membangunkan sang istri meskipun saat ini dirinya sedang membutuhkan tempat untuk berbagi. Siwon juga tidak mau Hyoseul menjadi cemas apabila ia menceritakan semuanya kepada yeoja itu. Dan Siwon hanya bisa menghela napas menghadapi itu semua.
“Apa yang harus aku lakukan..?” gumam Siwon kepada dirinya sendiri.

***

Hyoseul terbangun dari tidurnya dan mendapati hari sudah malam. Sepertinya ia sudah terlalu lama tidur sehingga tak menyadari kalau hari sudah gelap. Hyoseul menoleh ke sebelah kanan dan kirinya. Biasanya ada seorang namja disana. Siwon, dia tidak ada di kamar. Hyoseul pun bangun dari pembaringannya dan melangkah keluar kamar mencari Siwon.

Tak perlu menunggu lama, saat Hyoseul membuka pintu kamar Hyunsoo, ia mendapati suaminya sedang tiduran di sebelah kanan anak laki-lakinya itu. Hyoseul tersenyum melihatnya. Ternyata Siwon menepati janjinya untuk menjaga Hyunsoo. Yeoja itu pun melangkah masuk dan tiduran di sisi kiri bocah kecil kesayangannya.
“Kau belum tidur?” tanya Hyoseul dengan suara pelan. Siwon hanya sedikit tersenyum dan mengangguk kecil. Mata lelah namja itu tak mau lepas dari Hyunsoo, membuahkan sebuah isyarat tentang kekhawatiran yang kini sedang melanda dirinya. Dan Hyoseul dapat membaca hal itu dengan mudahnya.
“Ada apa?” tanya Hyoseul lagi. Siwon mendesah pelan, ia tidak yakin untuk menceritakan semuanya pada Hyoseul.
“Aku ingin bicara denganmu.” jawab Siwon kemudian.

Namja itu mengajak Hyoseul keluar dari kamar putra mereka. Siwon tidak mau mengganggu tidur Hyunsoo.
“Kau ingin bicara soal apa?” tanya Hyoseul sesaat setelah mereka keluar dari kamar Hyunsoo. Siwon terdiam, kepalanya tertunduk lesu. Ia tampak sedang berpikir keras, membuat Hyoseul cemas kepadanya.
“Chagiya, sebenarnya ada apa?” Hyoseul menunggu jawaban Siwon. Namun namja itu tetap tak bersuara. Ia hanya mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap Hyoseul sejenak. Mata Siwon tampak berkaca-kaca, ia begitu tampak kebingungan.
“Siwon-ah, waeyo?” tanya Hyoseul semakin tak mengerti ketika tiba-tiba saja Siwon memeluknya dengan erat. Siwon tidak tahu harus bagaimana menceritakannya pada Hyoseul. Dan bukannya mendapatkan ketenangan, Siwon justru menangis ketika menyadari tubuh yeoja yang sedang dipeluknya itu terasa begitu dingin. Siwon hampir tak lagi bisa merasakan hangat tubuh Hyoseul.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Tuhaan..?” Siwon sudah tak sanggup lagi menahan air mata-nya. Sementara Hyoseul, yeoja itu sangat kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada suaminya.

***

“Kyu! Lihat..” seru Seungjung pada Kyuhyun dengan wajah berseri. Seungjung merasa senang dirinya sudah tak harus memakai tongkat penyangga lagi karena kakinya yang terkilir sudah mulai membaik. Yeoja itu berjalan dengan perlahan di halaman depan rumah yang mereka tinggali. Kakinya menapaki halaman itu selangkah demi selangkah menuju Kyuhyun yang sedang tersenyum geli melihat sahabatnya itu terlihat seperti bayi yang baru belajar berjalan.

“Aku sampai!” seru Seungjung lagi dengan riang begitu sampai ke hadapan Kyuhyun.
“Kau ini seperti anak kecil saja!” kata Kyuhyun sambil menyentil dahi Seungjung.
“Ya! Cho Kyuhyun, kau ini menyebalkan!” omel Seungjung. Kyuhyun hanya tersenyum ketika melihat yeoja itu cemberut setelah disentil olehnya.

Suasana pagi itu terasa begitu indah. Sekalipun keadaan langit masih sama seperti hari-hari sebelumnya, hal itu seperti tak bisa menghalangi apa yang sedang dirasakan oleh Seungjung. Semakin hari Kyuhyun semakin perhatian padanya. Seungjung selalu teringat akan pengorbanan yang telah namja itu lakukan untuknya. Perlahan, Seungjung mulai menyadari kalau dirinya memiliki rasa terhadap Kyuhyun. Saat ini, namja itu sedang melemparkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berada -tampak seperti sedang mencari sesuatu. Seungjung menjadi terheran-heran dibuatnya.

“Kau kenapa?” tanya Seungjung.
“Ah, ani.. Sepertinya semenjak kemarin aku tidak melihat Dr.Lee.” jawab Kyuhyun.
“Mwo? Memangnya ada apa?” tanya Seungjung lagi. Yeoja itu terlihat sangat penasaran.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang perkampungan ini.”
“Hmm.. Bukankah kemarin kau sudah menemui warga yang bernama Choi Siwon itu dan bertanya tentang banyak hal?”
“Ne, tapi~” Kyuhyun menghentikan kata-katanya. Namja itu segera mengajak Seungjung untuk masuk kedalam rumah tempat mereka menginap. Seungjung tidak mengerti kenapa tiba-tiba Kyuhyun mengajaknya masuk kedalam rumah dengan terburu-buru.

“Ya! Kau ini kenapa?” Seungjung ingin penjelasan.
“Ssstt… Kau jangan berisik..” pinta Kyuhyun.
“Wae? Sebenarnya ada masalah apa?” tanya Seungjung tak mengerti.
“Dengar, aku rasa ada yang aneh dengan tempat ini. Begitu pula dengan warganya.” jawab Kyuhyun seraya memperhatikan keadaan di luar jendela untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
“Ne. Mereka memang aneh, tapi hidup jauh dari hiruk-pikuk kota juga tidak ada salahnya kan?” Seungjung mengutarakan pendapat-nya.
“Ani.. Bukan itu yang kumaksud, Shin Seungjung. Ini sesuatu yang berbeda. Mereka seperti menutupi sesuatu dari kita.”
“Menutupi apa? Aku benar-benar tak mengerti.”

Kyuhyun bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada Seungjung. Mungkin apa yang sedang ada didalam pikiran-nya saat ini belum bisa dibuktikan. Akan tetapi, Kyuhyun sangat yakin dengan intuisi-nya.
“Dr.Lee.. Aku rasa dia tidak ingin kita berada disini.” ujar Kyuhyun kemudian. Seungjung masih belum paham dengan benar maksud dari perkataan Kyuhyun. Sejauh ini Seungjung melihat sosok seorang Lee Sungmin sebagai seorang dokter muda yang baik dan ramah. Apa alasannya jika memang itu yang diinginkan oleh Sungmin?
“Jika benar begitu, kenapa dia begitu baik kepada kita berdua?” tanya Seungjung seolah menginginkan penjelasan yang lebih detail dari Kyuhyun.
“Dia memang baik. Aku tahu dia tulus. Tapi dia selalu berbicara seolah ingin memberi isyarat kepadaku kalau kita tak seharusnya berada disini. Aku berbincang dan bertanya tentang banyak hal kepadanya, tapi dia selalu memberiku jawaban-jawaban yang tak jelas. Seperti ketika aku menanyakan tentang keluarga Choi, dia justru memintaku untuk menanyakan langsung kepada mereka tentang alasan kenapa mereka bisa tinggal di tempat ini dan sebagainya.” Kyuhyun menjelaskan. Namun itu tak cukup untuk mengobati rasa keingintahuan Seungjung.
“Memang ada apa dengan keluarga Choi?” tanya Seungjung dengan tatapan seperti tak ingin mempedulikan tentang masalah apa yang terjadi antara Dr.Lee dan keluarga Choi.

Kyuhyun terduduk di lantai. Kepalanya pusing. Tampaknya Seungjung belum merasakan adanya keanehan yang terjadi di sekitar mereka.
“Seingatku, kau adalah seorang ‘petualang’ yang selalu tertarik pada tempat-tempat yang aneh, Kyu. Bukankah bagimu tempat-tempat aneh itu jauh lebih menyenangkan dari rumahmu sendiri? Kenapa sekarang kau berubah pikiran?” tanya Seungjung lagi sambil duduk disebelah Kyuhyun.
“Kau ingin pulang?” pertanyaan terakhir Seungjung membuat Kyuhyun menoleh kearah yeoja itu. Tatapan mata Kyuhyun tampak begitu rumit.
“Bagaimana kalau aku memang ingin pulang?” Kyuhyun balik bertanya dengan ekspresi wajah yang datar. Seungjung terdiam. Gadis itu ingin menjawab pertanyaan Kyuhyun namun urung ia lakukan karena hatinya sendiri sedang berkecambuk.
“Kau tidak ingin pulang, Seungjung-ah?” tanya Kyuhyun lagi. Seungjung masih diam. Ia hanya menatap lurus kearah dinding kayu yang berada 3 meter di hadapannya.

“Kau sendiri tahu aku adalah seorang anak tunggal. Orang tuaku berada di luar negeri untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Aku selalu merasa sedih dan kesepian setiap kali berada di rumah. Kau juga tahu aku selalu ingin berada di tempat lain dimana aku bisa merasa bahagia. Tempat ini mulai memberiku sedikit dari kebahagiaan itu.” jawab Seungjung tanpa menoleh sedikitpun.
“Bagaimana tempat sesepi ini bisa membuatmu bahagia?” kali ini Seungjung yang menoleh kearah Kyuhyun setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh namja itu.
‘Karena kau ada disini bersamaku, Kyu.’ jawabnya dalam hati. Mulut-nya tak berucap. Begitu pula dengan Kyuhyun. Mereka hanya saling menatap, mencoba untuk saling menerka isi pikiran masing-masing. Tetapi itu hanya bisa membuat segalanya semakin bertambah rumit. Apa yang mereka coba tebak hanya membuahkan harapan-harapan yang belum tentu nyata. Sementara, apa yang tengah hati mereka rasakan semakin lama semakin dalam. Dan semakin menyakitkan pula karena Kyuhyun maupun Seungjung tak mampu berkata apapun untuk mengungkapkannya.

Seungjung tak lagi mampu menatap mata Kyuhyun. Pada akhirnya ia hanya bisa tertunduk, mencoba menyembunyikan airmata yang mulai membasahi pipi-nya. Sayangnya itu tak berhasil karena terlalu mudah bagi Kyuhyun untuk melihatnya menangis. Namja itu menyentuh pipi Seungjung dan menyeka airmata gadis itu dengan jemari-nya. Sekali lagi Seungjung menoleh.
“Apa yang membuatmu bahagia berada disini?” tanya Kyuhyun pelan, bahkan hampir seperti berbisik.
“Aku tak ingin membicarakan tentang hal ini, Kyu..” ujar Seungjung menepis tangan Kyuhyun perlahan dan hendak pergi. Namun Kyuhyun mencegahnya.
“Jangan pergi dariku..” ucap Kyuhyun lagi. Ia menggenggam tangan yeoja itu dengan sangat erat. Entah apa yang dimaksud oleh Kyuhyun, yang pasti hal itu berhasil membuat Seungjung tak beranjak kemanapun. Mata yeoja itu seolah tak mampu melihat hal lain selain Cho Kyuhyun, namja yang kini sedang menatapnya dengan sangat lekat dan semakin dekat. Seungjung seperti terkunci. Sejenak pikiran Seungjung terasa kosong. Hingga kemudian ia tersadar oleh sesuatu.
*Author’s POV ends*

___

*Seungjung’s POV*
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirku. Sesuatu yang begitu lembut dan terasa hangat. Aku hanya bisa terpejam. Tapi apakah ini nyata? Ataukah ini hanya mimpi? Apa benar ini cinta ataukah hanya sebuah kesalahan manis yang siapa saja bisa melakukannya? Jika ini hanya mimpi.., tolong.. Jangan bangunkan aku..
*Seungjung’s POV ends*

___

*Author’s POV*
Seungjung tak ingin menampik kenyataan bahwa dirinya memang mencintai Kyuhyun. Secara sadar atau tidak, ia membalas ciuman itu dan membiarkan bibir mereka saling berpagutan satu sama lain. Namun apa yang dilakukannya terbalik dengan apa yang kini sedang ia rasakan didalam hati. Seungjung tak tahu apakah ia harus merasa bahagia atau justru merasa sebaliknya. Ia tak pernah tahu apakah Kyuhyun mencintainya atau tidak. Dan seiring dengan semakin dalamnya ciuman itu, semakin dalam pula kesedihan yang dirasakan oleh Seungjung karena Kyuhyun juga tak pernah tahu bahwa ia begitu mencintainya. Hal itu membuat airmata-nya kembali menetes ditengah-tengah ciuman mereka.
‘Kenapa kau menangis?’ tanya Kyuhyun dalam hati ketika menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Seungjung.

Tok tok tok..
Terdengar suara ketukan di pintu. Seperti baru tersadar dari mimpi, Seungjung reflek mendorong dada Kyuhyun pelan sehingga membuat bibir mereka yang semula saling bertautan kini terpisah. Jantung keduanya terasa berdentam dengan sangat keras. Baik Kyuhyun maupun Seungjung tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka bahkan tak mampu untuk menatap satu sama lain.

Tok tok tok.. Suara ketukan itu terdengar lagi.
“Biar aku saja.” kata Kyuhyun yang kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu depan. Dan ketika Kyuhyun membuka pintu..

“Oh, Dr.Lee..” sapa Kyuhyun pada Sungmin yang berdiri dihadapannya.
“Hmm.. Apakah aku mengganggu?” tanya Sungmin ketika melihat Kyuhyun agak lain.
“Ah, anio.. Aku baru saja ingin mencarimu. Ada hal yang~”
“Ingin kau bicarakan denganku?” Sungmin memotong perkataan Kyuhyun seolah ia bisa membaca isi pikiran pemuda itu.
“Ne.” jawab Kyuhyun singkat. Sungmin melirik sejenak keadaan didalam rumah yang ditinggali oleh Kyuhyun. Tampak disana ada Seungjung yang duduk di lantai membelakangi mereka berdua -sedang menghapus airmata.
“Aku rasa lebih baik kita berbicara di rumahku saja. Bagaimana?” saran Sungmin pada Kyuhyun.
“Baiklah.” Kyuhyun melihat kearah Seungjung sejenak. Tampak yeoja itu hanya menoleh tanpa ada ekspresi sama sekali. Merasa ada suasana yang sedikit tak mengenakkan, Sungmin memutuskan untuk pergi terlebih dahulu. Kyuhyun terlihat agak ragu untuk melangkahkan kaki-nya keluar rumah. Namun pada akhirnya Kyuhyun pergi tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut-nya. Kini, Seungjung hanya bisa menunggu Kyuhyun kembali dan menantikan apa yang akan namja itu katakan kepadanya. Seungjung berharap Kyuhyun akan berkata bahwa ia mencintainya.

***

“Apa kau sudah memberitahu hyungmu soal keluarga Choi?” tanya Donghae yang mendatangi Ryeowook yang tengah mengurus ternak unggas-nya.
“Kita belum mengetahui dengan pasti mengenai hal itu. Yesung hyung sedang terfokus pada kedua orang baru itu. Kita beritahu dia nanti saja.” jawab Ryeowook enteng. Ia seperti tak mempedulikan Donghae dan lebih memilih untuk memberi makan ternak-nya.
“Apa maksudmu nanti? Choi Siwon sudah mulai mengingat sesuatu semalam. Itu karena Cho Kyuhyun terlalu banyak ingin tahu tentang tempat ini. Apabila keluarga Choi tidak ditangani dengan segera, aku khawatir rencana kita untuk merekrut Cho Kyuhyun dan Shin Seungjung akan gagal.” kata Donghae lagi. Namja itu sedikit kesal karena Ryeowook terkesan menyepelekan laporan-nya mengenai keluarga Choi.
“Baiklah. Nanti akan kusampaikan. Tapi ingat, Donghae-ssi.. Aku rasa ada seseorang yang tidak ingin kita menyentuh anak dari keluarga Choi. Istrimu menginginkan Hyunsoo kan? Aku tak yakin Chanra akan mampu melakukan hal seperti itu padanya. Keputusan Yesung hyung sudah bulat, dia tidak akan merekrut satupun anggota keluarga Choi. Bila saatnya tiba, Chanra harus mampu membantu kita menangani mereka. Jika dia tidak bisa, maka dia harus menerima konsekuensi yang ada. Kau sendiri sudah tahu peraturannya, Donghae-ssi. Ingatkan istrimu untuk berhati-hati.” Ryeowook memperingatkan. Namja bertubuh kecil itu kemudian pergi meninggalkan Donghae entah kemana. Sedangkan Donghae sendiri merasa sangat kesal karena lagi-lagi Ryeowook memberinya peringatan. Bagi Donghae, itu lebih terdengar seperti ancaman. Dan lagi-lagi ini berhubungan dengan Park Chanra istri-nya.
‘Seandainya saja aku tak membawanya ke tempat ini..’ sesal Donghae dalam hati.

***

“Eomma, izinkan aku bermain bersama Ryeo Eun dan Sunwook..” Hyunsoo tengah merajuk kepada Hyoseul. Seharian ini Siwon melarangnya untuk pergi dari rumah. Sekalipun itu hanya untuk bermain.
“Eomma.. Boleh yaa…” Hyunsoo memohon. Tapi Hyoseul tidak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya Siwon sangat serius kali ini. Entah apa yang ada didalam pikiran namja itu. Sejak tadi malam Siwon terlihat aneh. Hari ini ia bahkan tidak pergi ke ladang dan hanya berdiam diri didalam rumah. Siwon banyak melamun dan tidak ingin Hyoseul dan Hyunsoo berada jauh dari sisi-nya. Hyoseul merasa iba kepada putra-nya. Oleh karena itu Hyoseul mengizinkan Hyunsoo untuk pergi bermain walaupun Siwon bersikeras melarang.
“Ikut aku kedalam. Kita harus bicara.” kata Hyoseul pada Siwon dengan nada sedikit kesal. Yeoja itu berjalan cepat menuju kamar dengan Siwon mengikutinya dari belakang.

“Apa maksud dari semua ini?” tanya Hyoseul tanpa basa-basi ketika sampai didalam kamar mereka.
“Kau melarang aku dan Hyunsoo untuk pergi keluar rumah. Dan seharian ini kau hanya diam. Sebenarnya ada apa? Jika ada masalah, katakan padaku. Tapi jangan pernah libatkan Hyunsoo. Dia masih anak-anak.” Hyoseul sedikit emosi. Ia menatap mata suami-nya dengan tajam. Ia menunggu jawaban dari Siwon. Namun namja itu tak berucap sepatah katapun.
“Choi Siwon, jawab aku..” kali ini Hyoseul sedikit melunak. Tapi Siwon tetap membisu. Lelah menunggu jawaban, Hyoseul pun melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Siwon. Namun belum sempat Hyoseul melangkahkan kaki keluar kamar, Siwon menarik tubuh Hyoseul dan memeluk yeoja itu dengan erat.

“Aku hanya tidak ingin kehilangan kalian berdua.” ucap Siwon pelan. Hyoseul mengerutkan dahi mendengar perkataan Siwon.
“Apa maksudmu? Aku dan Hyunsoo tak pernah pergi jauh darimu, Siwon-ah. Kenapa kau terdengar begitu takut?” tanya Hyoseul tak mengerti.
“Aku rasa sesuatu telah terjadi kepada keluarga kita, Hyoseul-ah.” jawab Siwon pelan. Hyoseul melepas pelukan Siwon. Yeoja itu kembali dilanda kebingungan. Hyoseul merasa tak ada satupun yang salah dengan keluarga mereka. Mengapa tiba-tiba saja Siwon berkata seperti itu?

“Dengarkan aku, Siwon-ah. Apapun yang sedang ada didalam benakmu sekarang, katakanlah semuanya padaku. Kau tak seperti Choi Siwon yang biasa ku kenal. Ada apa?” Hyoseul mencoba untuk memberi pengertian kepada suaminya. Siwon menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Hyoseul tahu kalau namja yang kini berdiri dihadapannya itu sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dan Hyoseul bersabar menantikan suami-nya untuk angkat bicara. Mereka hanya saling berdiam diri untuk beberapa saat. Hingga kemudian..
“Chagiya.. Apakah kau ingat Hyowon?” tanya Siwon.
“Nugu? Hyowon? Siapa dia?” Hyoseul menjawab pertanyaan Siwon dengan pertanyaan lainnya. Siwon sudah menduga hal ini sebelumnya. Ia tahu kalau Hyoseul pasti tak mengingat apapun.
“Siapa itu Hyowon, Siwon-ah?” tanya Hyoseul lagi. Tak perlu menunggu lama, Siwon pun segera menjawab pertanyaan sang istri..
“Choi Hyowon. Dia anak perempuan kita, Hyoseul-ah. Umurnya 2 tahun, dia dongsaeng dari Hyunsoo. Apa kau tidak ingat?”

Bersambung…

[MY Inc] Profil Kim Myuri


Nama : Kim Myu Ri.
Posisi : Lead dancer, sub-rapper, sub-vocal.
Zodiac : Libra.
Julukan : Fir’aun, Setan.
Skill : Dance, gitar.
Nama Fandom : Sugar.

ahri1

*Myu Ri’s Facts*

1. Myu Ri lahir di Kyoto, Jepang. Makanya ia termasuk member yang paling jago bahasa Jepang.

2. Hobi baca komik dan menggambar.

3. Myu Ri jago Aikido tapi gampang banget menangis.

4. Suka sama makanan yang manis dan juga ramyun.

5. Katanya Myu Ri diberi julukan Fir’aun karena ia jarang sakit. Dan dijuluki Setan karena sifat jahilnya yang suka ngerjain member lain.

6. Sama seperti Hyo Seul, Myu Ri tidak suka sayur. Ia juga paling tidak suka sama serangga yang bernama nyamuk.

7. Warna favoritnya adalah Hijau.

8. Myu Ri paling suka sama musim gugur dan tidak suka musim dingin.

9. Sejak sebelum menjadi trainee di SM Entertaiment, Myu Ri adalah seorang ELF dan sangat mengidolai Super Junior.

ahri2

11. Angka favoritnya adalah 4.

12. Gosipnya Myu Ri lagi PDKT sama Ryeowook.

13. Sama seperti Myung Hee, Myu Ri juga pintar memasak.

14. Hunter X Hunter adalah anime favoritnya Myu Ri.

15. Paling benci sama yang namanya rumah sakit dan apapun yang berhubungan dengan penyakit. Ia juga paling tidak suka kalau dibilang pendek.

16. Menurutnya anak itik itu cute.

17. Selain Aikido, Myu Ri juga senang berlatih Judo.

18. Ternyata Myu Ri suka baca fanfiction.

19. Bubble tea adalah minuman favorite Myu Ri saat cuaca sedang panas. Sedangkan kalau cuaca sedang dingin, Myu Ri lebih suka menyeruput hot chocolate.

20. Myu Ri suka banget memeluk dan dipeluk, suka nyender-nyender di pundak member lain, kalo jalan cepat dan ga bakal bisa tidur kalau belum mengkhayal.